Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Iran Sukses Bangkitkan Kembali Pusat Energi Industri South Pars Pascaserangan AS-Israel

POROS PERLAWANAN — Iran mulai menghidupkan kembali pusat industri energi South Pars kurang dari dua bulan setelah serangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel menghantam infrastruktur strategis sektor energi negara itu.

Menurut laporan Press TV pada Sabtu 30 Mei, proses pembersihan puing, rekonstruksi jalur utilitas, dan pemulihan pasokan energi berhasil diselesaikan oleh insinyur serta spesialis domestik Iran dalam waktu singkat. Pemulihan itu memungkinkan sejumlah fasilitas petrokimia kembali beroperasi secara bertahap.

South Pars di Provinsi Bushehr merupakan ladang gas terbesar Iran sekaligus tulang punggung pasokan bahan baku industri petrokimia nasional.

South Pars Kembali Bergerak Pascaserangan

Wakil Menteri Perminyakan Iran, Hassan Abbaszadeh mengatakan proses pemulihan dan pengembalian produksi di sejumlah fasilitas lain masih terus berlangsung.

Serangan AS-Israel pada 6 April lalu menargetkan jalur utilitas dan pipa bahan baku utama di luar kawasan petrokimia Asaluyeh. Targetnya adalah melumpuhkan pasokan listrik, air, uap industri, dan bahan baku utama bagi pusat energi Iran tersebut.

Tim operasional Iran disebut berhasil menyelesaikan pembersihan puing, pembangunan ulang jaringan pipa, dan perbaikan fasilitas rusak dalam waktu kurang dari satu bulan. Akses cepat terhadap jaringan listrik nasional dan sumber pembangkit uap cadangan mempercepat proses pemulihan.

Media Barat dan Israel sebelumnya mengeklaim serangan itu akan melumpuhkan industri petrokimia Iran dalam jangka panjang. Sejumlah pejabat Israel bahkan menyatakan kompleks petrokimia terbesar Iran telah “lumpuh total”.

Namun Teheran menilai narasi tersebut sebagai bagian dari perang psikologis untuk mengguncang pasar finansial dan industri nasional Iran.

Iran Percepat Rekonstruksi Infrastruktur Energi Strategis

Menurut laporan itu, serangan tersebut menyasar 31 perusahaan besar yang terdaftar di bursa dengan nilai pasar gabungan mencapai sekitar 14,2 miliar Dolar AS. Industri kimia menjadi sektor yang mengalami kerusakan paling besar.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Pars Petrochemical, produsen urea terbesar di Asia Barat, Nouri dan Zagros sebagai produsen utama metanol, serta Foolad Mobarakeh, produsen baja terbesar Iran, termasuk di antara target utama serangan.

Beberapa fasilitas seperti Ariya Sasol tidak mengalami kerusakan langsung, tetapi sempat menghentikan produksi akibat terputusnya pasokan utilitas dari unit Mobin dan Fajr. Setelah kedua unit itu kembali beroperasi, rantai produksi industri mulai bergerak lagi.

Di kawasan Mahshahr yang menyumbang sekitar 25 persen produksi petrokimia Iran, fasilitas besar seperti Bandar Imam, Marun, dan Arvand juga mulai diaktifkan kembali.

Meski sejumlah fasilitas yang mengalami kerusakan berat masih membutuhkan waktu rekonstruksi lebih panjang, rantai utama pasokan energi dan bahan baku disebut telah kembali beroperasi.

Serangan juga sempat menghantam infrastruktur penyimpanan bahan bakar Iran. Pada gelombang pertama serangan Juni lalu, tangki penyimpanan di depot minyak Shahran, Tehran, dan depot Ray mengalami kerusakan.

Karena depot Shahran memegang peran vital dalam distribusi bahan bakar Ibu Kota, Pemerintah Iran menjadikan perbaikannya sebagai prioritas darurat. Tangki-tangki yang rusak kini telah diperbaiki dan kembali beroperasi setelah melewati prosedur keamanan.

Gelombang serangan berikutnya turut menyasar fasilitas energi di Ray, Shahran, Karaj, dan Quchak.

Iran Percepat Rekonstruksi Infrastruktur Energi Strategis

Perusahaan Nasional Rekayasa dan Konstruksi Minyak Iran (NIOEC) kemudian menyusun peta jalan rekonstruksi. Tahap pertama proyek tersebut diselesaikan hanya dalam waktu sekitar satu bulan dan rampung pada pertengahan April.

Direktur NIOEC, Mohammad Meshkinfam menegaskan Iran tidak akan membiarkan gangguan sekecil apa pun terhadap keamanan energi nasional. Menurutnya, pengalaman rekonstruksi pascaperang menunjukkan ketergantungan Iran terhadap bantuan asing dalam perbaikan industri strategis semakin berkurang.

Data Perusahaan Petrokimia Nasional Iran menunjukkan kapasitas produksi nominal industri petrokimia negara itu telah mencapai 100 juta ton sebelum serangan terjadi. Industri tersebut menjadi sumber pendapatan terbesar kedua Iran setelah minyak mentah dan menyumbang sekitar 33 persen ekspor nonmigas nasional.

Dengan kembali beroperasinya unit utilitas Mobin dan Fajr, ekspor petrokimia Iran diperkirakan kembali meningkat, termasuk untuk memasok industri hilir seperti plastik, tekstil, otomotif, dan farmasi.

Menurut Abbaszadeh, fasilitas yang rusak di Kilang Lavan diperkirakan dapat kembali mencapai 70 hingga 80 persen kapasitas produksi dalam dua bulan ke depan.

Meski demikian, pejabat Iran mengakui proses pemulihan penuh bagi fasilitas yang mengalami kerusakan berat tetap membutuhkan waktu. Berdasarkan estimasi para ahli, setiap unit produksi memerlukan sedikitnya tiga bulan untuk kembali beroperasi normal.

Teheran menilai keberhasilan memulihkan South Pars dalam waktu singkat menjadi bukti bahwa perang energi dan sabotase industri yang dilancarkan musuh, tidak lagi cukup untuk melumpuhkan infrastruktur strategis Iran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *