Iran Tolak Tuduhan GCC Soal Serangan Balasan, Sebut ‘Tak Berdasar’
POROS PERLAWANAN — Pemerintah Iran menolak tuduhan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) soal operasi balasan terhadap serangan AS–Israel, dengan menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan menyesatkan. Pernyataan ini memperdalam ketegangan diplomatik di tengah konflik yang masih berlangsung dan berdampak pada stabilitas Kawasan.
Menurut laporan Press TV pada Kamis 30 April, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa Teheran tetap berpegang pada prinsip hubungan bertetangga yang baik dan menghormati kedaulatan negara-negara Kawasan. Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah anggota GCC terlibat dalam operasi militer AS–Israel terhadap Iran.
Menurut Baghaei, negara-negara tersebut sebelumnya menyatakan tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan terhadap Iran. “Pemerintah itu tidak mengambil langkah menghentikan proses tersebut dan bahkan terlibat dalam agresi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB 3314, keterlibatan tersebut dapat dikategorikan sebagai partisipasi dalam tindakan agresi.
Iran juga menolak pernyataan Sekretaris Jenderal GCC tentang Selat Hormuz. Teheran menegaskan langkah-langkah yang diambil di jalur strategis itu merupakan bagian dari hak membela diri untuk melindungi kedaulatan, integritas wilayah, dan keamanan pelayaran.
Pemerintah Iran menyatakan kebijakan tersebut sejalan dengan hukum internasional. Teheran juga menekankan perannya dalam membangun kepercayaan regional, sambil mengkritik sikap negara-negara yang dinilai memperuncing perpecahan.
Dalam pernyataan lanjutan, Iran mendesak negara-negara GCC mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan, termasuk menghentikan kerja sama dengan pihak yang dianggap memusuhi Iran serta memberikan kompensasi atas kerugian akibat serangan militer.
Ketegangan ini berakar pada konflik yang meletus sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran. Teheran merespons dengan operasi militer selama lebih dari 40 hari yang menargetkan aset militer AS-Israel di Kawasan.
Gencatan senjata dua pekan diumumkan pada 8 April untuk membuka ruang negosiasi di Islamabad. Namun, perundingan berakhir tanpa kesepakatan setelah Iran menyatakan tidak memercayai komitmen Amerika Serikat.
Di tengah kebuntuan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran menilai langkah tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata dan menjadi hambatan utama bagi kelanjutan negosiasi.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa kelanjutan proses diplomatik bergantung pada pencabutan blokade tersebut. Tanpa itu, peluang deeskalasi dinilai semakin sempit, sementara ketegangan regional terus meningkat.
