IRGC Ancam Raksasa Teknologi AS yang Disebut Terlibat Operasi Intelijen dan Pembunuhan
POROS PERLAWANAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman terbuka terhadap kepemimpinan Amerika Serikat dan sejumlah perusahaan teknologi besar asal AS yang terlibat dalam operasi intelijen dan pembunuhan di Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa 31 Maret, IRGC menyebut bahwa perusahaan-perusahaan teknologi informasi, komunikasi, dan kecerdasan buatan asal Amerika ikut berperan dalam perancangan serta pelacakan target serangan.
“Kalian telah mengabaikan peringatan kami yang berulang kali tentang perlunya menghentikan operasi teroris, dan hari ini, serangan teroris kalian bersama sekutu Israel kalian telah mengakibatkan gugurnya sejumlah warga Iran,” demikian bunyi pernyataan IRGC.
IRGC menyebut unsur penting dalam perencanaan pembunuhan dan pelacakan target berasal dari perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) serta kecerdasan buatan (AI) milik Amerika Serikat.
“Karena elemen kunci dalam merancang dan melacak target pembunuhan adalah perusahaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan kecerdasan buatan (AI) Amerika, sebagai tanggapan terhadap operasi teroris ini, kami menyatakan bahwa lembaga-lembaga kunci yang memengaruhi operasi ini selanjutnya akan menjadi target yang sah bagi kami,” lanjut pernyataan tersebut.
Laporan Al-Manar pada Selasa, menyebut pernyataan itu menandai eskalasi baru dalam ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, terutama di tengah meningkatnya peran teknologi komersial dan kecerdasan buatan dalam operasi intelijen modern.
IRGC juga mengeluarkan peringatan langsung kepada karyawan perusahaan-perusahaan yang disebut serta warga yang tinggal di sekitar fasilitas mereka di kawasan Timur Tengah.
“Karyawan lembaga-lembaga ini, untuk melindungi nyawa mereka, mesti segera meninggalkan tempat kerja mereka. Kami juga merekomendasikan agar penduduk di daerah sekitar perusahaan-perusahaan ini di semua negara di kawasan ini meninggalkan tempat tinggal mereka dalam radius satu kilometer dan menuju ke tempat yang aman”, tulis IRGC.
Dalam bagian lain, IRGC menegaskan setiap perusahaan yang dinilai aktif berpartisipasi dalam perancangan operasi pembunuhan akan menghadapi respons balasan.
“Perusahaan yang secara aktif berpartisipasi dalam merancang operasi teroris akan menghadapi respons yang sesuai untuk setiap pembunuhan”, demikian isi pernyataan tersebut.
IRGC juga mencantumkan tenggat waktu operasional dalam ancamannya.
“Mulai pukul 20.00 pada hari Rabu, 1 April, waktu Teheran, perusahaan-perusahaan ini akan menunggu unit mereka menjadi sasaran sebagai pembalasan atas setiap pembunuhan di dalam Iran”, tulis pernyataan itu.
Dalam daftar yang disertakan, IRGC menyebut sejumlah perusahaan raksasa Amerika Serikat dan mitra teknologi lain yang berkaitan dengan operasi intelijen dan dukungan teknologi.
Perusahaan-perusahaan yang disebut meliputi Cisco, HP, Intel, Oracle, Microsoft, Apple, Google, Meta, IBM, Dell, Palantir, Nvidia, JPMorgan, Tesla, General Electric, Spire Solutions, G42, dan Boeing.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari perusahaan-perusahaan yang disebut maupun dari Pemerintah Amerika Serikat sekaitan dengan tuduhan tersebut.
Pernyataan IRGC ini menambah ketegangan baru dalam konfrontasi terbuka antara Iran, Israel, dan sekutu Barat, terutama ketika infrastruktur digital, kecerdasan buatan, dan teknologi sipil semakin sering dituduh digunakan dalam operasi keamanan lintas negara.
