Loading

Ketik untuk mencari

Eropa Palestina

Isu Kedaulatan dan Gelombang Protes Landa Siprus, Persoalkan Lonjakan Kepemilikan Properti di Area Strategis oleh Warga Israel

Lonjakan Kepemilikan Properti oleh Warga Israel Picu Protes dan Kekhawatiran Soal Kedaulatan di Siprus

POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, gelombang protes melanda Siprus menyusul meningkatnya kepemilikan properti oleh investor asal Israel. Isu ini memicu kekhawatiran publik dan kecaman politik, dengan banyak pihak memperingatkan bahwa tren ini dapat mengancam kedaulatan nasional dan memperparah krisis perumahan yang sedang berlangsung di negara tersebut.

Menurut laporan media Israel, Yedioth Ahronoth, lonjakan investasi properti oleh warga Israel memunculkan kekhawatiran akan rencana jangka panjang yang disebut sebagai “skema Zionis-Israel untuk menguasai tanah Siprus”. Sejumlah besar properti disebut telah dibeli di area strategis yang dekat dengan infrastruktur penting, menimbulkan kecemasan di kalangan warga dan politisi lokal.

Pemimpin Partai Pekerja Progresif (AKEL) Siprus, Stefanos Stefanou menyamakan situasi ini dengan awal mula ekspansi permukiman Israel di Palestina. Dalam konferensi partainya, ia menyatakan bahwa akuisisi properti yang terorganisasi bukanlah sekadar bentuk investasi, melainkan bagian dari strategi untuk memperluas pengaruh ekonomi dan keagamaan di wilayah tersebut.

Duta Besar Palestina untuk Siprus, Abdullah Atary turut hadir sebagai pembicara dalam konferensi tersebut yang menandai pertama kalinya seorang diplomat asing secara resmi ikut serta dalam pertemuan politik di Siprus. Kehadirannya menyoroti dimensi internasional dari isu yang tengah memanas ini.

Keresahan masyarakat pun meluas ke media sosial. Di TikTok, sejumlah video viral menampilkan warga Israel yang berbicara dalam bahasa Ibrani sambil menyombongkan kepemilikan rumah dan tanah di Siprus. Salah satu video bahkan memicu kemarahan karena menampilkan dialog sinis antara warga lokal dan pembeli Israel, diiringi musik tradisional Yahudi “Hava Nagila”.

Menanggapi tudingan tersebut, Duta Besar Israel untuk Siprus, Oren Anolik meminta publik tidak menggeneralisasi atau menyerang semua warga Israel. Ia menekankan pentingnya membedakan antara kritik terhadap kebijakan negara dan sentimen terhadap individu.

Namun, AKEL dan sejumlah organisasi masyarakat bersikeras bahwa keberatan mereka berlandaskan pada isu kedaulatan dan ekonomi, bukan kebencian etnis. Mereka menuduh Israel dan pendukungnya sering menggunakan label antisemitisme untuk membungkam kritik yang sah.

Data menunjukkan sekitar 2.500 warga Israel resmi tinggal di Siprus, meski angka tak resmi memperkirakan jumlahnya bisa mencapai 15.000, berkat penggunaan paspor Eropa. Ini terjadi di tengah kelangkaan hunian yang membuat warga lokal merasa semakin terpinggirkan.

Unjuk rasa besar telah berlangsung awal tahun ini, menentang kunjungan Presiden Israel, Isaac Herzog. Demonstrasi yang digelar di Larnaca dan Nicosia ini melibatkan warga lokal serta kelompok pro-Rusia dan pro-Palestina, yang mengecam agresi militer Israel di Gaza dan Lebanon.

Ketegangan terus meningkat, dan isu ini diprediksi akan tetap menjadi titik panas dalam politik domestik Siprus di bulan-bulan mendatang.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *