Jajak Pendapat KAN: Mayoritas Pemukim Israel Nilai Militer Rezim Gagal Total sejak Oktober 2023
POROS PERLAWANAN — Mayoritas pemukim Israel kini meyakini bahwa militer rezim pendudukan gagal mencapai kemenangan berarti dalam seluruh agresi yang dilancarkannya sejak Oktober 2023. Temuan ini memperlihatkan krisis kepercayaan yang semakin dalam di tubuh masyarakat Israel, seiring berlanjutnya perang di Gaza, memburuknya situasi keamanan di front utara, dan tekanan hukum yang terus menghantui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dilansir Press TV, hasil jajak pendapat yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada Selasa menunjukkan bahwa 57 persen pemukim Israel percaya bahwa rezim pendudukan tidak berhasil meraih kemenangan apa pun sejak 7 Oktober 2023. Hanya 28 persen responden yang menilai ada keberhasilan di setidaknya satu arena, sementara 15 persen lainnya masih belum menentukan sikap.
Hasil survei ini menjadi tamparan telak bagi narasi kemenangan yang terus digaungkan Tel Aviv selama hampir dua tahun agresi brutal di kawasan. Sejak melancarkan perang genosida di Jalur Gaza, rezim pendudukan tidak hanya gagal menghancurkan kekuatan perlawanan Palestina, tetapi juga terjebak dalam konflik yang meluas ke Lebanon, Suriah, Yaman, hingga Iran.
Menurut survei tersebut, tingkat kepercayaan terhadap hasil operasi militer Israel berada pada titik terendah. Hanya 17 persen yang menganggap operasi di Suriah berhasil, sementara 16 persen menyebut agresi di Gaza dan Iran sebagai keberhasilan. Di Lebanon, angka itu turun menjadi 14 persen, lalu 12 persen di Yaman, dan hanya 11 persen di Tepi Barat.
Lebih jauh, jajak pendapat itu menegaskan besarnya rasa cemas di kalangan pemukim terhadap ancaman kelompok perlawanan. Sebanyak 73 persen responden percaya bahwa keberadaan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon masih mampu memicu serangan besar serupa 7 Oktober. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun perang berlangsung lama dan brutal, rezim pendudukan gagal memulihkan rasa aman bagi para pemukim.
Sementara itu, penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan memperkuat persepsi kegagalan tersebut. Surat kabar Maariv menggambarkan operasi militer di wilayah itu berakhir dengan “kegagalan” dan “kepahitan”, terutama setelah serangan pesawat nirawak Hizbullah berhasil menyingkap kelemahan serius pertahanan Israel. Maariv juga menyebut para pemukim di wilayah utara “dibiarkan begitu saja,” menandakan meningkatnya kemarahan publik terhadap hasil operasi yang diklaim bernama “Lion’s Roar”.
Di tengah kegagalan militer itu, Netanyahu juga menghadapi tekanan politik dan hukum yang kian berat. Menurut jajak pendapat KAN, 56 persen responden mendukung pemberian pengampunan bagi Netanyahu atas kasus korupsi yang menjeratnya, sementara 26 persen menolak.
Bagi banyak pihak, dukungan itu mencerminkan krisis sistemik di dalam rezim pendudukan: kegagalan perang, ketakutan kolektif, dan kepemimpinan yang kehilangan legitimasi. Ketika perang tidak menghasilkan kemenangan dan ancaman tetap membayangi, masyarakat Israel kini dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa kekuatan militer yang selama ini diagungkan ternyata tak mampu menjamin keamanan maupun stabilitas.
