Jaksa Pro-Israel Bebaskan Tersangka Predator Anak, Skandal Baru Bayangi Hubungan Washington–Tel Aviv
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, seorang Jaksa Federal Amerika Serikat di Nevada menjadi sorotan tajam setelah menolak mengajukan tuntutan Federal terhadap seorang pejabat senior Israel yang ditangkap dalam kasus kejahatan seksual anak. Keputusan ini memicu dugaan adanya bias politik sekaligus memperburuk perdebatan mengenai hubungan erat Washington dan Tel Aviv.
Jaksa AS kelahiran Israel, Sigal Chattah, yang saat ini menjabat Pelaksana Tugas Jaksa untuk Nevada, pada Senin 19 Agustus mengonfirmasi bahwa kantornya tidak akan memproses perkara tersebut. Ia memilih menyerahkan kasus itu kepada otoritas Negara Bagian, meski biasanya kasus predator seksual anak yang melibatkan operasi Federal diproses di tingkat nasional. Langkah Chattah segera memicu tuduhan favoritisme, terutama karena latar belakang politiknya yang dikenal dekat dengan kelompok lobi pro-Israel.
Kasus ini bermula dari penangkapan Direktur Eksekutif Divisi Pertahanan di Direktorat Siber Nasional Israel, Tom Artiom Alexandrovich. Ia ditangkap awal Agustus dalam operasi penyamaran multi-lembaga di Las Vegas setelah diduga mengatur pertemuan dengan seorang anak berusia 15 tahun. Menurut laporan polisi, Alexandrovich membawa alat kontrasepsi ketika tiba di lokasi yang telah disepakati.
Meski menghadapi dakwaan berat dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara, Alexandrovich dibebaskan dengan jaminan 10.000 Dolar AS. Ia segera dipulangkan ke Wilayah Pendudukan Palestina dengan status cuti, sementara sidang berikutnya di Nevada dijadwalkan akhir bulan ini. Belum jelas apakah ia akan kembali menghadiri persidangan.
Departemen Luar Negeri AS membantah tuduhan adanya intervensi. “Ia tidak memiliki kekebalan diplomatik dan pembebasannya merupakan keputusan hakim Negara Bagian,” jelas Biro Urusan Timur Dekat melalui platform X. Namun, fakta bahwa FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri ikut serta dalam operasi penangkapan membuat penolakan tuntutan Federal oleh Chattah semakin dipertanyakan.
Rekam jejak Chattah menambah kontroversi. Sebelumnya, lebih dari 100 pensiunan hakim menolak pengangkatannya karena retorikanya yang ekstrem. Ia dikenal vokal mendukung Israel, bahkan pernah menyerukan agar Gaza “dihapus dari peta” dan menyebut warga Palestina sebagai “teroris” maupun “binatang”.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu membantah pemberitaan penangkapan Alexandrovich, dan menyatakan pejabat tersebut hanya “diinterogasi” sebelum kembali sesuai jadwal.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya sorotan publik atas hubungan erat Washington dan Tel Aviv, khususnya terkait perang di Gaza yang menewaskan lebih dari 62.000 warga Palestina sejak Oktober 2023. Insiden Alexandrovich dinilai semakin memperburuk persepsi bahwa pejabat Israel mendapatkan perlakuan istimewa di hadapan hukum AS.
