Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Jalan Syuhada, Poros Perlawanan, dan Musuh Global

IRGC Rilis Statemen Soal Konfrontasinya dengan Kapal-kapal Perang AS

POROS PERLAWANAN – Di setiap persimpangan sejarah, bangsa-bangsa selalu diuji: apakah mereka tetap teguh di jalan para syuhada, atau tergelincir dalam bujuk rayu musuh yang berwajah global, dari Zionis yang rakus tanah, Amerika yang pongah, hingga rezim boneka yang tunduk pada asing.

Inilah pesan keras mantan Komandan Korps Ansar al-Husein (a.s), Mayor Jenderal Mazaher Majidi, di Hamedan. Dengan nada tanpa kompromi, ia menegaskan: “Setiap kali kami menyimpang dari jalan para syuhada yang mulia, kesulitan pun menimpa kami.”

Ucapan ini bukanlah sekadar retorika hampa, melainkan lahir dari pengalaman getir sebuah bangsa yang terus-menerus menjadi sasaran konspirasi global, Barat yang pongah, Zionis yang rakus dan agresif, serta jaringan pengkhianat regional yang menjual martabatnya demi kursi kekuasaan. Semua kekuatan itu bersatu untuk satu tujuan, melemahkan Poros Perlawanan.

Di tengah kepungan itu, Provinsi Hamedan berdiri sebagai saksi perang yang dipaksakan selama 12 hari, sebuah babak sejarah di mana darah syuhada, seperti Letnan Jenderal Haj Ali Shadmani, menggores garis tebal antara kehormatan dan kehinaan.

Jenderal Majidi, sebagaimana dilansir Tasnim News Agency pada Selasa 23 September, menegaskan bahwa hidup berdampingan dengan para komandan syahid bukanlah sebatas penghargaan pribadi. Ini adalah garis ideologis yang wajib dijaga. Sebab begitu langkah menyimpang, yang datang bukan hanya kesulitan, melainkan dominasi musuh yang siap merampas harga diri bangsa.

Kongres Martir di Hamedan menjadi bukti nyata bahwa para syuhada, bahkan yang tak dikenal namanya, tetap hadir sebagai saksi sejarah. Mereka adalah suara yang membisikkan peringatan keras kepada generasi kini, bahwa setiap pengkhianatan terhadap jalan perlawanan sama saja dengan menyerahkan diri pada hegemoni asing. Bagi Majidi, Kongres itu bukanlah acara seremonial belaka, melainkan medan konsolidasi ideologi jihad, ruang di mana darah para syuhada kembali berbicara, mengingatkan, dan menuntut kesetiaan.

Dalam pandangannya, kekuatan Perlawanan tak hanya ditentukan oleh senjata di garis depan, tetapi juga oleh jihad sosial yang menembus akar kehidupan rakyat. Dari krisis air hingga pembangunan desa-desa perlawanan, Garda Revolusi dan Basij membuktikan bahwa konfrontasi dengan musuh global berlangsung di setiap lini, ekonomi, budaya, dan bahkan kebutuhan dasar masyarakat. Perlawanan bukan lagi terbatas pada medan tempur, Perlawanan menjelma dalam setiap denyut nadi, menjadi gaya hidup dan kewajiban ideologis yang tak bisa ditawar.

Di penghujung masa jabatannya, Jenderal Majidi menyerahkan tongkat komando kepada Jenderal Kamali dari Yazd. Serah-terima itu bukan semata rutinitas administratif, melainkan kesinambungan jihad antara dua provinsi yang sejak lama dipersatukan oleh darah syuhada dan pengorbanan tanpa batas. Harapannya tegas, bahwa Garda Provinsi Hamedan harus melangkah lebih kokoh dalam periode baru, menjadikan persatuan sebagai perisai utama menghadapi musuh global yang tak pernah berhenti merencanakan penaklukan.

Ucapan Jenderal Majidi menutup segalanya dengan satu garis ideologi, bahwa kesetiaan pada jalan syuhada adalah syarat mutlak untuk bertahan. Di sini, ada satu hal yang patut digarisbawahi: Kesetiaan itu bukan opsi, melainkan garis hidup, kompas sejarah, dan benteng terakhir dari kehormatan bangsa. Sebab setiap kali jalan itu diabaikan, musuh global, yang selalu menunggu di tikungan sejarah, akan segera menutup ruang gerak, menjerat bangsa, dan menundukkannya kembali dalam rantai penjajahan baru.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *