Loading

Ketik untuk mencari

Opini Suriah

Jatuhnya Al-Jolani di Sumur Perangkap Amerika dan Suap Beracun Zionis untuk Damaskus

POROS PERLAWANAN — Seorang analis politik terkemuka di dunia Arab menyebut bahwa rezim Abu Muhammad al-Jolani di Suriah telah melakukan kesalahan historis dengan terjebak dalam kompromi dengan kekuatan penjajah dan membuka jalan bagi infiltrasi kepentingan Zionis. Ia menegaskan bahwa rakyat Suriah tidak akan pernah menerima “suap beracun” dari Amerika Serikat atau tunduk pada konspirasi yang dirancang oleh Washington dan Tel Aviv.

Editor senior media daring lintas kawasan Rai al-Youm dan analis asal Palestina, Abdul Bari Atwan, dalam tajuk rencana terbarunya pada 1 Juli menyoroti isu normalisasi hubungan antara Pemerintahan sementara yang dipimpin al-Jolani dan rezim Zionis. Ia mengaitkan dinamika ini dengan propaganda lama yang pernah dialamatkan kepada Suriah pada awal 1990-an.

“Saat itu, sejumlah tokoh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang tengah merundingkan Perjanjian Oslo secara diam-diam, menyebarkan kabar bahwa Suriah berada di ambang penandatanganan perjanjian normalisasi dengan Israel, mirip seperti Perjanjian Camp David. Tujuannya adalah menghasut rakyat Palestina agar memusuhi Suriah dan Presiden Hafez al-Assad, yang saat itu memang tidak populer di kalangan Palestina akibat konflik di Lebanon dan penarikan PLO dari sana”, tulis Atwan.

Komitmen Sejarah Suriah Menolak Normalisasi

Atwan melanjutkan: “Namun propaganda itu bertujuan untuk melegitimasi pengkhianatan yang tengah mereka rancang diam-diam di Oslo”. Ia mengisahkan sebuah pertemuan dengan Duta Besar Suriah untuk London saat itu, Mohammad Khadr, yang memintanya untuk bertemu secara pribadi.

“Saya diundang minum kopi di sebuah restoran dekat Kedutaan. Sebagai sesama warga negara Arab, Khadr berkata kepada saya: ‘Percayalah, keluarga Assad, baik Hafez maupun anak-anaknya kelak tidak akan pernah menandatangani perjanjian damai dengan Israel, bahkan jika Zionis menarik diri dari seluruh Dataran Tinggi Golan. Suatu hari nanti, kau akan mengingat kata-kataku’.”

Keyakinan serupa, lanjut Atwan, juga disampaikan langsung oleh Presiden Bashar al-Assad dalam pertemuan pribadi mereka di Damaskus pada Mei 2023, dalam rangka peringatan 100 tahun Universitas Damaskus.

Golan, Trump, dan Pertemuan Rahasia yang Dirancang

Atwan menilai keputusan Presiden AS, Donald Trump, untuk mencabut sanksi terhadap Suriah sebagai isyarat awal menuju skenario normalisasi. Menurutnya, langkah tersebut menjadi pembuka jalan bagi pertemuan antara al-Jolani dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu.

“Rencana ini merupakan bagian dari strategi Amerika-Israel bertajuk ‘Pembangunan Kembali Timur Tengah’, sebuah skema besar yang selama ini dibanggakan Netanyahu. Normalisasi antara Suriah dan Israel akan menjadi tahap awal, dilanjutkan dengan pembentukan koalisi regional yang melibatkan Turki untuk mengambil alih kepemimpinan Kawasan”.

Dalam narasi ini, Atwan mengkritik keras posisi al-Jolani yang, menurutnya, mengabaikan tragedi kemanusiaan di Gaza. Bahkan hingga saat ini, al-Jolani tidak mengeluarkan pernyataan mengutuk agresi militer Israel terhadap warga sipil Palestina.

Tokoh pro-normalisasi yang dijuluki “Rabi Perdamaian Brahimi”, Abraham Cooper, disebut telah bertemu Jolani selama lebih dari dua jam di Damaskus. Ia mengungkap bahwa “kejutan politik tahun ini” adalah pertemuan mendatang antara Jolani dan Netanyahu yang konon akan dimediasi langsung oleh Donald Trump dan Duta Besar AS untuk Ankara sekaligus utusan khusus untuk Suriah, Tom Barak.

Normalisasi ala Zionis: Dari Golan ke Intervensi Militer

Menurut Atwan, isi perjanjian yang dirancang mencakup klausul keamanan yang memungkinkan Israel melakukan intervensi militer di wilayah Suriah tanpa batas. Pola ini, sebutnya, serupa dengan perjanjian gencatan senjata di Lebanon, yang memberikan Israel hak menyerang Beirut Selatan dan wilayah lain sewaktu-waktu.

“Ini bukan hanya kompromi politik, melainkan kesalahan sejarah yang akan diwarisi generasi mendatang”, tegasnya.

Suap Politik dan Gagalnya Skenario AS-Israel

Lebih lanjut, Atwan menyatakan bahwa bahkan dalam skenario terbaik, Israel tidak akan mengembalikan Dataran Tinggi Golan. Rezim Zionis menuntut pengakuan penuh atas kedaulatannya di wilayah tersebut, sebagai bagian dari syarat normalisasi. Ia menilai hal ini sebagai “suap beracun” yang tidak akan diterima rakyat Suriah.

“Skenario Amerika-Zionis tampak mulus di atas kertas, namun implementasinya di lapangan akan menghadapi banyak kejutan. Suriah bukan papan catur yang bisa diatur sesuka hati.”

Atwan memuji keteguhan rakyat Suriah yang menurutnya tetap teguh pada prinsip perlawanan, meski telah mengalami lebih dari satu dekade konflik, blokade, dan tekanan internasional.

Akhir dari Era Oslo dan Kebangkitan Prinsip Perlawanan

Menutup catatannya, Atwan menyebut era perjanjian damai seperti Camp David, Oslo, dan normalisasi antara rezim Arab dan Israel sedang mendekati akhirnya. Menurutnya, semua narasi demokrasi dan hak asasi manusia yang dipropagandakan oleh Barat kini telah kehilangan kredibilitasnya, khususnya setelah dunia menyaksikan tragedi di Gaza.

“Sebagaimana kami menentang perjanjian Camp David, Wadi Araba, dan Oslo, kami tetap berdiri di barisan depan membela prinsip-prinsip Arab dan Islam: menolak pendudukan dan semua bentuk kolaborasi dengannya. Bahkan jika Pemerintahan baru di Suriah jatuh ke dalam jebakan kompromi, kami tidak akan berpaling dari posisi historis kami, sekalipun hanya sedetik”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *