Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Jenderal Iran: AS Gagal Ubah Peta Selat Hormuz

POROS PERLAWANAN – Amerika Serikat gagal mewujudkan rencana pembentukan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz setelah Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melakukan tindakan pencegahan dalam beberapa tahap. Penilaian tersebut disampaikan Wakil Politik Kantor Ideologi dan Politik Panglima Tertinggi Iran, Brigjen Rasul Sanai-Rad, dalam wawancara dengan Fars News pada Jumat 17 Juli.

Di mata Teheran, manuver Washington di Selat Hormuz merupakan kelanjutan dari upaya memulihkan posisi strategis yang gagal dicapai selama perang 40 hari. Penguasaan terhadap jalur energi itu dipandang penting untuk mengurangi daya tawar Iran sekaligus memperkuat posisi Amerika Serikat dalam agenda politik dan keamanan berikutnya.

Perang tersebut, menurut Sanai-Rad, justru mengungkap arti strategis Selat Hormuz bagi pasar energi dunia. Lonjakan harga minyak dan bahan bakar tidak hanya membebani negara-negara Eropa, tetapi juga memicu tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat. Dari sudut pandang Teheran, situasi inilah yang mendorong Washington mencari pendekatan baru di kawasan Teluk.

Karena jalur militer dan tekanan diplomatik tidak menghasilkan perubahan yang diharapkan, Amerika Serikat disebut menggeser strateginya. Fokusnya bukan lagi semata operasi militer, melainkan pembentukan koridor pelayaran alternatif di luar mekanisme yang sebelumnya disepakati Iran dan Oman.

Kesepakatan Iran dan Oman, menurut Sanai-Rad, mengatur pembukaan koridor aman bagi kapal secara bertahap, dilanjutkan pembersihan ranjau hingga akhirnya Selat Hormuz dibuka kembali secara penuh ketika situasi keamanan memungkinkan. Skema itu, menurutnya, kemudian berusaha diubah oleh Washington dengan membuka jalur baru di bagian selatan Selat. Sejumlah kapal tanker didorong melintasi rute tersebut secara bersamaan agar koridor baru itu menjadi fakta operasional yang sulit dibatalkan.

Upaya tersebut disebut berakhir tanpa hasil. Respons cepat Angkatan Laut IRGC dalam beberapa tahap berhasil menggagalkan pembentukan jalur pelayaran baru sehingga Amerika Serikat tidak mampu mengubah pola lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Kegagalan itu bahkan dikaitkan dengan meningkatnya retorika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam penilaian Sanai-Rad, pernyataan keras Trump dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian publik dari perkembangan di Selat Hormuz yang dinilai tidak berpihak kepada Washington.

Pada bagian lain wawancara, Amerika Serikat juga membangun narasi bahwa operasi militernya menyasar instalasi pertahanan Iran. Sanai-Rad menyatakan sasaran yang terdampak justru mencakup infrastruktur air, fasilitas produksi air minum, pos penjagaan lingkungan, serta sejumlah objek sipil lainnya.

Bagi Tehran, tingginya intensitas manuver Amerika Serikat justru menegaskan arti strategis Selat Hormuz dalam persaingan geopolitik Kawasan. Karena itu, Iran disebut tidak memiliki alasan untuk mengubah posisinya terhadap jalur pelayaran tersebut.

Apabila ketegangan terus meningkat, dampaknya diperkirakan tidak berhenti di kawasan Teluk. Sekitar seperlima ekspor minyak dunia melintasi Selat Hormuz sehingga setiap gangguan terhadap pelayaran berpotensi mengguncang harga energi dan perdagangan internasional. Negara-negara Arab di kawasan disebut akan menjadi pihak pertama yang merasakan konsekuensinya.

Di akhir wawancara, Sanai-Rad menggambarkan posisi negara-negara Arab semakin dilematis. Ketergantungan terhadap payung keamanan Amerika Serikat, menurutnya, harus dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan dengan Iran sebagai negara tetangga tidak dapat dihindari. Atas dasar itu, Teheran kembali menawarkan pembentukan sistem keamanan regional yang dikelola negara-negara Kawasan tanpa keterlibatan kekuatan di luar Timur Tengah.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *