Juru Bicara IRGC: Iran Bombardir Pusat-pusat Vital Israel dalam Perang 12 Hari
POROS PERLAWANAN – Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Jenderal Naeini menegaskan bahwa Iran secara khusus menargetkan pusat-pusat berbasis pengetahuan, fasilitas intelijen, dan satu-satunya kilang aktif Israel dalam Perang 12 Hari. Ia juga menyatakan bahwa selama perang berlangsung, tidak ada satu pun operasi teroris yang berhasil dilakukan di wilayah Iran.
Dalam pernyataannya yang dikutip Kantor Berita Tasnim, pada Kamis 27 November, Jenderal Naeini menjelaskan bahwa operasi seperti “Janji Sejati 1” dan “Janji Sejati 2” mengubah persamaan strategis di Kawasan. Menurutnya, perhitungan musuh meleset karena asumsi bahwa Iran tidak memiliki kapasitas untuk merespons serangan jarak jauh, sementara struktur komando dan rakyat Iran tetap solid.
Basij, Doktrin Pertahanan, dan Evolusi Perang
Berbicara dalam Konferensi Guru Besar Basij di Provinsi Mazandaran, Naeini menekankan bahwa Basij adalah produk pemikiran strategis Imam Ruhollah Khomeini. Ia menyebut Basij sebagai model yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat untuk membentuk kekuatan nasional, regional, dan trans-regional. Di beberapa negara Kawasan, perhatian terhadap Basij mengubah persamaan kekuasaan, sementara pengabaian terhadapnya, seperti di sebagian wilayah Suriah menyebabkan kerugian.
Merujuk pada kesalahan perhitungan musuh di masa Perang Iran-Irak, ia menilai bahwa lawan tak pernah memahami kekuatan lunak, kapasitas mobilisasi rakyat, serta ketahanan sosial Iran. Pascaperang delapan tahun, seluruh doktrin pertahanan Iran didefinisikan ulang dengan prinsip penangkalan: mencegah perang, dan mengalahkan musuh bila perang pecah. Dari sinilah pendekatan perang asimetris dikembangkan, perang yang tak lagi bergantung pada jumlah tank dan pesawat, melainkan kemauan politik dan pencapaian tujuan strategis.
Perang Modern: Gabungan Militer, Siber, dan Kognitif
Jenderal Naeini mengatakan bahwa perang kontemporer merupakan kombinasi operasi kognitif, siber, ekonomi, hingga informasi. Dalam beberapa tahun terakhir, menurutnya, musuh membangun citra keliru tentang Iran yang lemah, terpecah, dan tak mampu merespons ancaman eksternal. Operasi seperti Penyerbuan al-Aqsa dan Janji Sejati, menurutnya, mematahkan citra Militer Israel dan menghapus anggapan bahwa Iran tak memiliki kemampuan responsif.
Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Iran kini bertumpu pada ilmuwan muda, industri kedirgantaraan, rudal, dan drone. Figur seperti Syahid Tehrani Moghaddam dan Jenderal Hajizadeh disebut sebagai simbol integrasi antara dunia akademik dan kekuatan pertahanan.
Rencana Musuh dan Kegagalannya
Naeini menyebut bahwa musuh menyiapkan rencana operasional menyeluruh untuk melumpuhkan kemampuan tempur Iran sejak detik pertama perang dengan strategi “kelumpuhan dan keruntuhan pertahanan”. Serangan tersebut dirancang sebagai kombinasi serangan udara, perang elektronik, siber, dan operasi media global untuk menciptakan efek “kejutan dan ketakutan”.
Namun, menurutnya, perhitungan itu gagal. Seperti dikatakan Pemimpin Tertinggi Iran, seluruh rencana musuh terbukti keliru di lapangan. Struktur komando Iran tidak bertumpu pada individu, sehingga bahkan ketika beberapa komandan gugur atau menjadi target, operasi “Janji Sejati 3” tetap berjalan dengan jeda koordinasi tak lebih dari 12 jam.
Perang 12 Hari dan Dampaknya
Naeini menyatakan bahwa para analis militer dunia kini membagi perang modern menjadi dua periode: “sebelum dan sesudah Perang 12 Hari”. Pertempuran ini, menurutnya, adalah perang langsung Iran melawan seluruh kemampuan NATO yang dikerahkan untuk mendukung Israel.
Ia menyebut lebih dari 4.700 pangkalan AS dan NATO di Kawasan, pesawat tempur mutakhir, hulu ledak nuklir, hingga kekuatan siber diarahkan untuk mempertahankan Israel. Perang ini, katanya, telah menjadi studi model di berbagai universitas militer dunia.
Operasi Rudal dan Efeknya
Jenderal Naeini menjelaskan bahwa operasi rudal Iran melintasi wilayah Irak, Suriah, dan Yordania, menghadapi intersepsi sekitar 200 jet tempur dan berbagai sistem pertahanan. Iran menggunakan taktik “kaskade”, serangan berlapis dan simultan, untuk menembus pertahanan Israel dan menghancurkan target vitalnya.
Serangan itu, menurutnya, berhasil menghancurkan pusat pengetahuan, fasilitas intelijen, dan kilang yang memasok 70 persen bahan bakar Israel. Ia mengeklaim bahwa Israel mengaku kehilangan pencapaian teknologinya setara 20 tahun.
Stabilitas Internal: 12 Hari Tanpa Serangan Teroris
Naeini menegaskan bahwa sepanjang Perang 12 Hari, Iran tidak mengalami satu pun serangan teroris yang berhasil. “Semua sel teroris telah teridentifikasi melalui Uji Masyarakat Intelijen,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa perang ini memperkuat identitas nasional dan agama. Berlawanan dengan analisis lama yang memprediksi perpecahan bila diserang, konflik justru melahirkan solidaritas luas. Bahkan para pemimpin Israel disebut mengakui dampak tak terduga ini.
Opini Publik dan Legitimasi Internasional
Merujuk pada survei internal, Naeini mengeklaim bahwa 80 persen rakyat Iran percaya pada kekuatan pencegah negara. Ia menyatakan bahwa ketidakmampuan musuh mematahkan moral rakyat menandakan kegagalan perang kognitif mereka.
Terkait reaksi global, ia menyebut bahwa lebih dari 120 negara dan organisasi internasional, termasuk Shanghai, BRICS, dan Liga Arab mengutuk serangan terhadap Iran, yang menurutnya menunjukkan legitimasi internasional.
Persiapan Masa Depan
Di bagian akhir, ia menekankan bahwa kapasitas pertahanan Iran meningkat 40 persen setelah Perang 12 Hari, baik dalam akurasi rudal, kemampuan siber, maupun kecerdasan buatan. Ia menyebut lima faktor utama keberhasilan Iran: bantuan Ilahi, kepemimpinan, kehadiran rakyat, kekuatan Angkatan Bersenjata, dan kesalahan musuh.
