Juru Bicara IRGC Sebut Perang 12 Hari ‘Pertempuran Peradaban’
POROS PERLAWANAN — Juru Bicara sekaligus Wakil Kepala Hubungan Masyarakat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa Perang 12 Hari merupakan akumulasi dari seluruh upaya subversif Amerika Serikat dan sekutunya selama dua dekade terakhir. Ia menegaskan bahwa wacana perlawanan, model Islam politik, serta otoritas para ahli hukum tidak melemah. Bahkan, pascaperistiwa 7 Oktober, pengaruh wacana tersebut justru semakin menguat di Barat.
Menurut Kantor Berita Tasnim pada Kamis 18 Desember, Naeini, dalam pertemuan nasional para pejabat pusat mobilisasi profesor Universitas Farhangian menjelaskan bahwa perang paksa selama 12 hari itu merupakan hasil dari rencana subversi yang komprehensif, terintegrasi, berteknologi tinggi, dan terencana dengan matang. Menurutnya, perang tersebut bukan hanya konflik militer, melainkan pertempuran peradaban, identitas, dan wacana yang diarahkan melawan Republik Islam Iran.
Naeini menegaskan bahwa Perang 12 Hari merupakan hasil konsolidasi seluruh upaya subversif Amerika Serikat dan sekutunya selama setidaknya dua dekade terakhir. Ia menambahkan bahwa musuh, dengan memanfaatkan seluruh kapasitas keamanan, militer, media, dan teknologi, serta dengan keterlibatan faktor-faktor domestik telah merancang perang gabungan yang sangat berbahaya. Strategi ini telah diuji selama beberapa tahun dengan tujuan menciptakan keruntuhan internal dan menggulingkan sistem pemerintahan.
Menyoroti kekeliruan umum dalam analisis perang, Naeini menjelaskan bahwa opini publik kerap hanya berfokus pada aspek militer, kerusakan fisik, dan jumlah korban. Padahal, menurutnya, perang memiliki tiga tingkatan utama: tingkat diskursif dan peradaban, tingkat politik dan strategis, serta tingkat taktis dan militer. Mengabaikan salah satu dari tingkatan tersebut akan menghasilkan narasi yang tidak utuh dan tidak akurat.
Menurutnya Perang 12 Hari tersebut merupakan kemenangan bagi Poros Perlawanan pada tingkat wacana. Naeini menyebutkan bahwa lembaga think tank Barat serta para analis Amerika dan Zionis mengakui bahwa dalam pertempuran ini, wacana perlawanan, model Islam politik, dan sistem penjagaan oleh para ahli hukum tidak mengalami pelemahan. Sebaliknya, setelah peristiwa 7 Oktober, pengaruh wacana tersebut menjadi semakin nyata di Barat.
Tentang pandangan para pemikir Barat mengenai perang pasca-Perang Dingin, Naeini menyatakan bahwa banyak di antara mereka memandang konflik-konflik modern sebagai perang peradaban dan wacana. Ia menambahkan bahwa tujuan Barat dalam konflik semacam ini adalah meliberalisasi masyarakat melalui perang lunak dan penciptaan keruntuhan internal, sebuah pendekatan yang juga diterapkan dalam perang baru-baru ini.
Naeini juga menuturkan bahwa Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam menganalisis perang tersebut dari perspektif peradaban. Menurutnya, bangsa Iran berhasil mengalahkan Front Barat dengan bertumpu pada budaya dan peradaban kuno yang dimilikinya. Dijelaskannya, para syuhada, sebagai aset peradaban dan simbol keabadian bangsa Iran, merupakan modal yang tak tergantikan bagi masa depan negara.
Menjelaskan dimensi politik dan strategis Perang 12 Hari, Naeini mengatakan bahwa tujuan utama musuh adalah menghancurkan komponen-komponen otoritas Republik Islam, menciptakan keruntuhan internal, dan pada akhirnya menggulingkan sistem pemerintahan. Untuk itu, musuh berupaya secara simultan menargetkan sistem pertahanan negara, kemampuan rudal, serta sistem komando dan kendali melalui serangan udara cepat dan terkoordinasi.
Dalam rencana tersebut, tiga tingkat komando strategis, menengah, dan taktis menjadi sasaran utama guna mencegah Iran melakukan respons ofensif maupun defensif. Menurutnya, rencana semacam ini, apabila diterapkan terhadap negara lain, berpotensi menimbulkan krisis serius. Namun, berkat kewaspadaan dan keteguhan, tujuan-tujuan tersebut tidak berhasil dicapai.
