Kebijakan ‘Dua Pilar’ Israel terhadap Suriah
POROS PERLAWANAN – Rezim Zionis Israel telah menerapkan dua kebijakan utama terhadap Suriah dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, Mohamamd Al-Jolani yang menguasai Damaskus berupaya mengirim sinyal positif ke Tel Aviv, namun tidak membuahkan hasil.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Kamis 3 April, situasi keamanan Suriah semakin rapuh dalam beberapa hari terakhir. Rezim Zionis telah melanggar kedaulatan Suriah melalui serangan darat dan udara yang menewaskan 10 orang. Sebelumnya, pesawat tempur Israel mengebom gedung penelitian ilmiah di utara Damaskus, bandara militer Hama, dan bandara militer T4 di timur Homs.
Pengeboman ini terjadi 116 hari setelah Al-Jolani mengambil alih kekuasaan. Namun, serangan udara Israel tidak hanya berlanjut, tetapi semakin intensif. Meski sebelumnya ada klaim bahwa serangan ini disebabkan kehadiran pasukan Iran di Suriah, faktanya agresi terus berlanjut meskipun situasi telah berubah.
Salah satu target utama serangan pada Rabu malam 2 April, adalah Bandara Militer T4, yang memicu perdebatan mengenai kehadiran Angkatan Udara Turki di pangkalan tersebut. Radio Angkatan Darat Israel menyatakan bahwa serangan tersebut dimaksudkan sebagai peringatan kepada Presiden Turki. Sejumlah sumber bahkan melaporkan tewasnya seorang teknisi Turki dalam serangan itu, meski belum ada konfirmasi resmi.
Serangan di Selatan Suriah dan Perlawanan Rakyat
Setelah serangan udara di Damaskus, Hama, dan Homs, tentara Israel melanjutkan agresinya ke Daraa di Suriah selatan. Kali ini, warga setempat membentuk perlawanan sebagai respons.
Gubernur Daraa menyatakan, “Pasukan pendudukan Israel memasuki kawasan hutan Bendungan Al-Jabaliya dekat kota Nawa, didukung pesawat pengintai dan kendaraan militer.”
Sementara itu, masjid-masjid di Daraa mengumandangkan seruan agar warga bersiap menghadapi invasi Israel. Surat kabar Al-Watan melaporkan bentrokan antara warga Daraa dan pasukan Israel di dekat Bendungan Jubaila.
Ini merupakan perlawanan pertama rakyat Suriah terhadap agresi Israel di Suriah selatan dalam empat bulan terakhir. Selain menduduki Dataran Tinggi Golan sejak 1973, Israel juga menguasai sebagian wilayah Daraa, Quneitra, dan Sweida pasca-krisis Suriah. Mereka bahkan menduduki wilayah perbatasan Lebanon-Suriah, termasuk Gunung Jabal al-Sheikh (Hermon), yang hanya berjarak 30 kilometer dari Damaskus.
Dua Pilar Strategi Israel terhadap Suriah
Kebijakan militer dan politik Israel di era pasca-Bashar al-Assad menunjukkan dua strategi utama:
1. Mencegah Pesaing Regional Masuk Suriah
Israel ingin mempertahankan kendali atas Damaskus dan kawasan Levant (Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina). Mereka khawatir dengan hubungan erat Turki dan al-Jolani, serta potensi pengaruh militer Ankara. Bulan lalu, media melaporkan rencana Turki mendirikan pangkalan militer di Suriah, termasuk pemasangan radar dan sistem pertahanan udara di Bandara T4 dan Hama—target utama serangan Israel.
2. Pembentukan Zona Penyangga di Suriah Selatan
Israel berupaya melemahkan Suriah dengan menduduki sebagian Daraa dan memecah Sweida. Visi Zionis ini bertumpu pada pelemahan permanen Suriah sebagai rival regional. Namun, perubahan politik di Suriah tidak mengubah persepsi Tel Aviv. Sinyal damai dari Mohammad Al-Jolani pun gagal meredam permusuhan dengan Israel.
