Kemunafikan AS: Berlagak ‘Sesalkan’ Gagalnya Kesepakatan yang Sebenarnya Dihalanginya Sendiri
POROS PERLAWANAN – Ketika Konferensi Peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) gagal menghasilkan dokumen akhir akibat hambatan yang disebabkan Washington, Departemen Luar Negeri AS justru mengaku “menyesalkan” kegagalan negara-negara anggota dalam mencapai kesepakatan.
“Kami kecewa karena negara-negara anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir gagal menyepakati dokumen akhir,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri AS, Tasnim memberitakan.
Tanpa sedikit pun menyinggung ancaman nuklir Rezim Zionis, Kementerian Luar Negeri AS juga menuduh Iran tidak patuh dan menyatakan “kekecewaannya” atas tidak tercapainya kesepakatan dalam Konferensi tersebut.
Konferensi Peninjauan ke-11 Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir diselenggarakan selama sebulan di markas PBB di New York. Konferensi itu dipimpin oleh Duta Besar Tetap Vietnam untuk PBB, namun gagal mencapai dokumen akhir akibat hambatan-hambatan dari pihak AS.
Republik Islam Iran, dalam sebuah pernyataan yang dibubuhi nama sejumlah pelajar syahid dari Minab dan syuhada kapal Dena—yang darah mereka tumpah secara tidak adil akibat agresi AS dan Rezim Zionis— dengan tegas mengkritik dan mengutuk sikap-sikap destruktif Washington, London, dan Paris, standar ganda Barat terkait program nuklir damai Iran, serta pengabaian terhadap arsenal nuklir Rezim Israel.
Pernyataan tersebut berbunyi: “Sayangnya, alih-alih menghukum Rezim Agresor Israel yang telah melanggar puluhan resolusi PBB, Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, dan inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA), banyak negara Barat tidak segan-segan mendukung Rezim ini. Serangan ilegal terhadap fasilitas nuklir Iran merupakan ujian nyata yang mengungkap kebijakan standar ganda, selektif, dan keliru dari negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat.”
