Sekjen Hizbullah: Senjata Tetap di Tangan Kami Sampai Pemerintah Lebanon Mampu Tunaikan Kewajibannya
POROS PERLAWANAN – Dalam pidato pada peringatan pembebasan Lebanon dari Israeil, Sekjen Hizbullah Syekh Naim Qasim bicara tentang Perlawanan, pembebasan wilayah Lebanon, Iran, Bahrain, dan Palestina.
Fars memberitakan, Syekh Qasim menegaskan bahwa semua pihak yang berperan dalam perlawanan adalah mitra dalam kemenangan yang diraih. Ia menambahkan bahwa perlawanan tersebut merupakan hasil dari kepemimpinan Syahid Sayyid Hasan Nasrallah serta solidaritas antara Perlawanan, Militer, dan rakyat Lebanon.
Mengacu pada koordinasi antara Pemerintah dan Perlawanan, serta peran efektif dan pentingnya dalam pembebasan wilayah-wilayah yang diduduki, ia menyatakan, “Kita harus ingat bahwa pukulan-pukulan Perlawanan-lah yang memaksa Pendudukan untuk mundur dari wilayah perbatasan pada tahun 2000. Perjanjian memalukan 17 Mei tidak pernah dilaksanakan dan dibatalkan pada tahun 1984. Ini adalah langkah menuju pembebasan, yang tercapai pada tahun 2000.”
Sekjen Hizbullah menekankan bahwa pada 27 November 2024, Pemerintah Lebanon mencapai kesepakatan tidak langsung yang bertujuan mengakhiri pendudukan dan menghentikan agresi.
“Selama 15 bulan setelah perjanjian, serangan Israel terus berlanjut sementara Pemerintah Lebanon tidak mampu melaksanakannya. Kami tidak meminta Pemerintah untuk menentang proyek Amerika-Israel Tetapi setidaknya, Pemerintah tidak boleh menjadi alat untuk memfasilitasi proyek tersebut.”
“Pemerintah Lebanon memberikan konsesi beruntun kepada musuh hingga mereka mengesahkan undang-undang yang mengkriminalisasi Perlawanan pada 2 Maret 2026. Saya menyerukan kepada Pemerintah untuk membatalkan keputusan-keputusan yang menentang Perlawanan ini dan berdiri bersama rakyat.”
Sekjen Hizbullah menyatakan, tujuan Israel adalah menghancurkan Perlawanan dan secara bertahap menduduki Lebanon. Menurutnya, sanksi AS baru-baru ini terhadap Hizbullah diberlakukan untuk memberikan tekanan dan menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.
“Sanksi-sanksi AS tidak melemahkan kami. Jika AS bertindak lebih agresif, tidak akan ada yang tersisa bagi mereka di Lebanon, karena mereka akan menghancurkan negara itu atas rakyatnya sendiri dan diri mereka sendiri.”
“Perlucutan senjata berarti merampas kemampuan pertahanan Lebanon dan membuka jalan bagi genosida. Ini tidak dapat diterima oleh kami. Para pejabat Lebanon mengatakan kepada kami, ‘Bantu kami melucuti senjata kalian agar Israel dapat masuk, membunuh kalian, dan menelantarkan rakyat kalian.’ Pejabat Lebanon bertanggung jawab atas kedaulatan dan pertahanan negara. Apakah mereka berkomitmen pada apa yang diatur konstitusi mengenai hal ini?”
“Kami menuntut penghentian agresi, penarikan penuh Israel, pembebasan tawanan, dan kembalinya rakyat Lebanon Selatan ke wilayah mereka, dan setelah itu, kami akan membicarakan strategi pertahanan.”
“Senjata akan tetap berada di tangan kami hingga Pemerintah Lebanon mampu memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.”
Ia mengatakan bahwa apa yang terjadi hari ini adalah penguatan kelangsungan hidup Lebanon yang kuat dan merdeka. Ia menandaskan bahwa rangkaian peristiwa di selatan Lebanon adalah awal dari kemunduran dan kehancuran Israel.
“Perlawanan mempertahankan tanah, rakyat, kehormatan, dan martabat Lebanon. Kami akan menghadapi siapa pun yang menentang kami bersama Israel, dan senjata kami akan tetap berada di tangan kami.”
“Israel mengalami kerugian dan kerusakan nyata di Lebanon selatan. Sebagai balasannya, Israel menargetkan warga sipil dan rumah-rumah rakyat Lebanon.”
Dengan menyatakan bahwa dalam tahap ini, monopoli atas senjata merupakan proyek Israel yang harus ditinggalkan, Syekh Qasim menegaskan bahwa drone-drone Perlawanan akan terus memburu tentara Israel.
“Jika Pemerintah Lebanon tidak mampu menegakkan kedaulatan negara, maka Pemerintah harus mengundurkan diri. Saat ini tidak ada kedaulatan politik di Lebanon. Sebaliknya, negara ini berada di bawah pengawasan Amerika.”
Dengan mengatakan bahwa negosiasi langsung tidak dapat diterima dan merupakan konsesi penuh kepada Israel, Syekh Qasim mendesak agar Pemerintah Lebanon meninggalkan perundingan ini, tidak menyerah pada apa yang diinginkan Amerika, dan kembali ke konsensus nasional, karena “Anda tidak akan mencapai apa-apa melalui negosiasi.”
“Kita menghadapi ancaman vital dan eksistensial. Semua pengorbanan ini demi membangun masa depan, karena kita ingin hidup dengan bebas dan bermartabat, bukan sebagai budak dan dalam kehinaan.”
“Semua pembantaian dan kehancuran ini dilakukan untuk memaksa kita menyerah, tetapi Perlawanan akan tetap berada di medan dan akan keluar dari perang ini dengan kepala tegak. Rumah-rumah akan dibangun kembali, dan orang-orang akan kembali ke Tanah Air mereka.”
