Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Keputusasaan di Israel dan Kegembiraan di Gaza

[Video] Al-Qassam Kirim para Tawanan Israel ke Rumah Secara ‘Virtual’ Sebelum Bebaskan Mereka

POROS PERLAWANAN – Foto-foto dan laporan yang beredar dari Wilayah Pendudukan dan Gaza memperlihatkan kontras yang mencolok. Di tengah luka dan reruntuhan, warga Palestina tersenyum bahagia setelah berhasil membebaskan sekitar dua ribu tahanan. Namun di kamp-kamp Zionis, sebagaimana ditulis Yedioth Ahronoth dan dikutip Kayhan pada Rabu 15 Oktober, yang menyebar justru adalah keputusasaan dan rasa hampa yang menyesakkan.

Para filsuf pernah berkata bahwa kebahagiaan adalah perkara batin, sesuatu yang tak bisa dibeli atau ditentukan oleh keadaan luar. Seseorang bisa hidup di istana, bergelimang harta, namun merasa terpenjara dalam kesia-siaan. Tingginya angka bunuh diri di negara-negara kaya adalah bukti gamblangnya. Sebaliknya, mereka yang hidup sederhana dan apa adanya sering justru merasa sebagai manusia paling beruntung di bumi.

Kebahagiaan, dengan demikian, tidak bersumber dari rumah mewah, kendaraan, atau harta benda, melainkan dari kedalaman jiwa. Dalam pengertian ini, warga Gaza, yang telah menanggung blokade, agresi, dan penderitaan bertahun-tahun tampak lebih “hidup” dibanding para Zionis yang menguasai senjata, media, dan teknologi mutakhir dunia.

Menurut Yedioth Ahronoth, sejak gencatan senjata diberlakukan dan perjanjian pertukaran tahanan dilaksanakan, bayang-bayang putus asa dan kekecewaan menyelimuti Israel. Mereka gagal mencapai tujuan-tujuan yang sejak awal diumandangkan, yaitu penghancuran total Hamas, pembebasan seluruh tawanan melalui operasi militer, penguasaan penuh atas Gaza, serta penunjukan Tony Blair sebagai administrator jalur tersebut. Tak satu pun terwujud.

Di sisi lain, Gaza merayakan kemenangan kecilnya, namun dengan sukacita yang agung. Warga turun ke jalan, keluarga-keluarga memeluk kembali orang-orang tercinta yang baru dibebaskan. Dalam dua tahun terakhir, mereka menewaskan sedikitnya dua ribu tentara Zionis (pengakuan Netanyahu sendiri), berhasil membuat Palestina diakui sebagai negara di PBB, menjadikan isu Palestina pusat perhatian dunia, dan mengubah Israel menjadi rezim yang paling dibenci di muka bumi. Dalam kata-kata koresponden BBC, Nafisa Kohnward: “Mereka telah mengalahkan Israel, sesederhana itu.”

Omar Basis dan Pertemuan Pertama dengan Cucu-cucu

Di antara dua ribu tahanan yang dibebaskan, ada nama Omar Basis, pria dari Shwekeh, Tulkarem, di Tepi Barat utara. Setelah 23 tahun dipenjara, ia akhirnya kembali dan untuk pertama kalinya bertemu cucu-cucunya. Momen itu, seperti dilaporkan Al-Alam, menjadi lambang kecil dari kebebasan yang tak bisa dibungkam tembok penjara.

Dua Mitos Perlawanan

Empat tahun setelah pelarian bersejarah dua warga Palestina dari penjara keamanan tinggi Jalboa, dua nama kembali disebut dengan penuh hormat, yaitu Mahmoud Haneda dan Ayham Kammajji, simbol keteguhan dan keberanian. Keduanya kini bebas, sesuai janji Juru Bicara Brigade al-Qassam, Abu Ubaidah, yang pernah berkata pada 11 September 2021: “Jika para tahanan terowongan kebebasan mampu keluar dari kedalaman bumi, maka kami berjanji, mereka dan semua tahanan lainnya akan bebas. Tanah akan membuka pintu sel mereka dalam perjanjian baru: Kesetiaan kepada Orang-orang Bebas.”

Mahmoud Issa, Sang “Sayyid al-Solomon”

Nama lain yang mencuri perhatian adalah Mahmoud Issa, atau Abu al-Bara, dalang di balik operasi penangkapan tentara Zionis dan pendiri sel pertama Brigade Qassam di Yerusalem. Bagi Israel, ia adalah tahanan paling “berbahaya”.

Issa dikenal karena kekuatan tekad dan pengaruh intelektualnya di kalangan tahanan. Ia pernah dipenjara bertahun-tahun dalam sel isolasi dan dijuluki “Sayyid al-Solomon”. Di balik jeruji, ia dikenal mampu menghafal seluruh Al-Qur’an setiap tiga hari, bukti dari daya spiritual yang menyalakan perlawanan batin.

“Kami Dikubur di Dasar Sumur”

Kisah getir juga datang dari Naji al-Jafrawi, saudara jurnalis syahid Saleh al-Jafrawi. Usai dibebaskan, ia menggambarkan penjara Israel sebagai neraka di bawah tanah: “Kami seolah dikubur hidup-hidup. Tangan dan mata kami terikat selama lebih dari seratus hari. Hanya diizinkan ke kamar mandi sekali sehari. Itu bukan penahanan, itu penyiksaan yang tak terlukiskan.”

Isi Perjanjian di Atas Kertas Sebuah Damai

Media internasional melaporkan sejumlah klausul utama dari perjanjian antara Hamas dan Amerika Serikat. Intinya: penghentian perang permanen, pertukaran tahanan, penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza, serta pembentukan Pemerintahan Sementara Palestina untuk mengelola Jalur Gaza.

Diharapkan perjanjian ini dapat memperkuat gencatan senjata dan membuka jalan bagi fase rekonstruksi serta “proses perdamaian” yang lebih luas di Timur Tengah. Namun skeptisisme segera muncul, Israel bahkan melanggar komitmen pertama dengan menolak pembukaan perlintasan Rafah dengan dalih tak masuk akal.

Antara Ideal dan Realitas

Dalam dokumen yang sama, para penanda tangan menegaskan tekad untuk menyelesaikan sengketa melalui diplomasi, bukan kekerasan. Mereka menyadari bahwa kawasan ini tak lagi mampu menanggung siklus perang yang tak berujung dan perjanjian yang setengah hati.

Teks perjanjian itu memuat cita-cita besar, tentang toleransi, martabat, kesetaraan, dan kebebasan dari ekstremisme. Perjanjian itu berbicara tentang visi bersama: perdamaian yang komprehensif dan berkelanjutan, lahir dari saling menghormati dan tujuan bersama.

Namun di antara bunyi-bunyian manis itu, Gaza tetap berjuang dalam gelapnya malam listrik yang padam, sementara di Tel Aviv, rasa kehilangan dan kegagalan terus bergema. Di satu sisi, kegembiraan sederhana; di sisi lain, keputusasaan yang tak berujung. Kini saatnya dunia menyaksikan, siapa yang sebenarnya merdeka, dan siapa yang sejatinya terpenjara.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *