Kerudung Kecil yang Bikin Takut para Konco Trump
POROS PERLAWANAN – Penampilan Peggy Flanagan, Wakil Gubernur Demokrat Minnesota, yang mengenakan kerudung Islam di sebuah pasar milik orang Somalia di Minneapolis, telah memicu gelombang reaksi keras dan amarah di kalangan konservatif dan pendukung gerakan “MAGA (Make America Great Again).”
Diberitakan Fars, selama kunjungannya ke pasar terkenal “Carmel Somali Market” bersama para pemimpin komunitas Somali setempat, Flanagan memulai pidatonya di hadapan kamera jaringan televisi berbahasa Somalia dengan kalimat ‘‘Assalamu alaikum.” Dia menekankan bahwa ‘komunitas Somalia merupakan bagian integral dari struktur sosial negara Minnesota.” Dia juga menyampaikan sebagian pidatonya dalam bahasa Arab; langkah yang dianggap oleh para kritikus sebagai lebih dari sekadar gestur simbolis.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan seputar imigran Somalia di Minnesota. Beberapa minggu lalu, Presiden AS, Donald Trump melancarkan serangan verbal yang keras terhadap imigran Somalia.
Sementara itu, Flanagan adalah calon utama Partai Demokrat untuk kursi Senat AS tahun 2026, yang akan kosong setelah pensiunnya Senator Tina Smith. Dari perspektif ini, setiap gestur simbolis yang dia lakukan segera diwarnai oleh politik pemilihan umum.
Reaksi terhadap penampilan Flanagan dengan kerudung kepala datang dengan cepat dan keras. Steve Bannon, mantan penasihat Trump, menggambarkan langkah tersebut sebagai tanda “berlututnya Kristen dan Katolik.’ Dia menyebutnya sebagai penyerahan diri terhadap apa yang ia sebut “moralitas pemerasan Somalia.” Laura Loomer, seorang aktivis sayap kanan, bahkan lebih jauh lagi, menulis bahwa setiap politisi yang “menerima Islam” tidak layak untuk menjabat di pos-pos publik.
Beberapa pengkritik menggambarkan hijab bukan sebagai simbol agama, tetapi sebagai “pakaian politik,” dan menuduh Flanagan melakukan “pembajakan yang terang-terangan.” Mereka percaya langkah tersebut lebih merupakan upaya terencana untuk memenangkan suara kelompok pemilih tertentu daripada gestur solidaritas sosial yang tulus.
Tom Emmer, seorang wakil Republik dari Minnesota, juga menggambarkan langkah tersebut sebagai “sandiwara terencana.” Dalam wawancara dengan Fox News, ia mengatakan bahwa Flanagan dan lawan-lawan Demokratnya sedang menggaet “sayap kiri ekstrem.”
Penampilan Peggy Flanagan dengan kerudung di ruang publik, yang melampaui sebuah kunjungan lokal, telah menjadi simbol perpecahan budaya, agama, dan politik yang mendalam di AS. Bagi pendukungnya, langkah ini merupakan tanda solidaritas dan pembelaan terhadap minoritas. Mamun bagi para pengkritik, ini merupakan contoh politik identitas, menggaet kelompok tertentu, dan mengangkat nilai-nilai Islam serta komunitas Muslim.
Seiring mendekatnya pemilihan Senat dan memanasnya persaingan di dalam tubuh Demokrat, tampaknya gestur simbolis semacam ini dan reaksi keras di sekitarnya akan memainkan peran yang semakin menonjol dalam lanskap politik Minnesota, dan mungkin bahkan di tingkat nasional.
