Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Kesaksian Dokter Inggris: Agar Bisa Tidur, Anak-anak Gaza yang Kelaparan Mengisi Perut Mereka dengan Air dan Garam

New York Times Bantah Klaim Dusta Israel Soal Hamas ‘Curi Bantuan Makanan Gaza’

POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara dengan Anadolu Agency, seorang ahli bedah asal Inggris yang baru menyelesaikan misi kemanusiaan di Gaza, Dr. Graeme Groom mengungkap kondisi krisis gizi parah yang dialami warga sipil, terutama anak-anak, akibat blokade yang terus berlangsung.

“Anak-anak di Gaza mengisi perut mereka dengan air dan garam agar bisa tertidur,” ungkap Groom, sebagaimana dilaporkan oleh Kayhan pada Sabtu 2 Agustus.

Groom mengunjungi klinik penanganan malnutrisi pada 27 Mei lalu. Di sana, ia mendapat informasi bahwa sedikitnya 60 bayi telah meninggal dunia akibat kelaparan sejak dimulainya pengepungan ketat oleh Militer Israel.

Dalam kesaksiannya, Groom menjelaskan beberapa kondisi genting yang ditemuinya:

Banyak bayi di Gaza mengalami intoleransi laktosa, namun tidak tersedia susu formula sebagai alternatif nutrisi.

Sebagian besar ibu tidak mampu menyusui karena mengalami malnutrisi berat dan kekurangan asupan gizi.

Rekan medis Groom, seorang ahli anestesi asal Palestina, Dr. Nizar Abu Daqqa menceritakan bahwa enam anaknya yang berusia antara 2,5 hingga 13 tahun hanya dapat tidur setelah minum air dan menjilat garam, karena tidak ada makanan yang bisa mereka konsumsi.

Gaza Tak Runtuh, Justru Mengguncang

Data lapangan, laporan dari media Israel, analisis pakar militer, serta kesaksian tenaga medis internasional menunjukkan satu hal krusial: perlawanan rakyat Palestina belum padam. Sebaliknya, tekanan militer yang berkelanjutan justru mengguncang fondasi moral dan politik rezim Zionis.

Israel gagal mencapai dua target utama mereka: menghancurkan Hamas dan memulangkan para sandera. Sebaliknya, mereka kini menghadapi krisis eksistensial, buah dari kebijakan kekerasan yang semakin ditolak oleh komunitas internasional.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, narasi dominan mulai bergeser. Dunia tidak lagi memandang Gaza semata sebagai wilayah yang menderita, tetapi sebagai simbol ketahanan dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *