Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Mantan Komandan Israel: Kehadiran Militer Berkepanjangan di Gaza Seret Tel Aviv ke Ambang Bencana

Hamas Hadirkan Tantangan Besar bagi Militer Israel dengan Taktik Baru

POROS PERLAWANAN — Mantan Komandan pasukan darat Israel, Yettah Rontal, dalam artikelnya di Jerusalem Post, memperingatkan bahwa kehadiran militer yang terus-menerus di Jalur Gaza akan menyeret Israel, khususnya Tel Aviv ke dalam bencana strategis yang tak terhindarkan. Ia menyoroti ketiadaan strategi jangka panjang serta kelelahan ekstrem yang kini melumpuhkan pasukan cadangan.

“Pasukan cadangan kami sudah sangat lelah, kekuatan operasional menurun drastis, dan tidak ada arah yang pasti dari pemerintah”, tulis Rontal, sebagaimana dikutip Kayhan pada Sabtu 2 Agustus.

Kebuntuan Perang, Ancaman Diplomatik

Sementara itu, analis militer Zionis, Ami Doumba menyebut kebuntuan perang di Gaza sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas politik dan ekonomi Israel. Menurutnya, gelombang dukungan terhadap pengakuan negara Palestina kini semakin menguat di kalangan negara-negara Barat.

“Prancis, Inggris, dan beberapa negara Eropa secara terbuka menyatakan kesiapan mereka mengakui Palestina sebagai negara merdeka, sebuah pukulan diplomatik yang serius,” tegas Doumba.

Ia menambahkan bahwa perubahan sikap internasional ini dipicu oleh dua faktor utama:

1. Pernyataan pejabat Israel tentang rencana pengungsian massal warga Gaza.

2. Gambar-gambar memilukan yang menggambarkan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.

Bahkan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, secara terbuka mengecam pendekatan militer yang kini dijalankan pemerintah: “Kita telah menyebabkan cukup banyak kerusakan dan pembunuhan di Gaza.”

Gaza Menjadi Cermin, Bukan Sekadar Medan Perang

Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik bersenjata, ia telah menjadi cermin brutal dari kegagalan moral, politik, dan strategis Israel. Ketika mantan pejabat militernya mulai angkat suara, ketika negara-negara Barat yang selama ini bungkam mulai mempertimbangkan pengakuan atas negara Palestina, dan ketika publik dunia mulai berpaling dari narasi “keamanan” menuju narasi kemanusiaan, jelas bahwa Tel Aviv tidak lagi hanya menghadapi perlawanan bersenjata, tetapi isolasi global yang semakin menggigit.

Gaza belum ditaklukkan. Justru sebaliknya, ia tengah menulis ulang peta legitimasi global di Timur Tengah dengan darah, puing, dan keteguhan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *