Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Kesalahan Trump di Yaman: Dari Serangan Militer ke Rawa Strategis yang Berbahaya

POROS PERLAWANAN – Serangkaian serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, Inggris, terhadap Yaman dalam beberapa hari terakhir telah memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Para analis menilai bahwa aksi militer ini, yang dipimpin oleh Presiden AS Donald Trump, dilakukan tanpa pertimbangan strategis yang matang, justru berpotensi menjerumuskan AS ke dalam konflik yang lebih dalam di kawasan Timur Tengah. Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban sipil yang signifikan, tetapi juga memperkuat resistensi Yaman dan meningkatkan ketegangan regional.

Serangan AS dan Respons Yaman

Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Senin (17/3), serangan udara AS dan Inggris terhadap pusat-pusat sipil di Yaman telah menewaskan lebih dari 50 orang, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Serangan ini dianggap sebagai tindakan brutal yang tidak proporsional dan tidak memiliki dasar strategis yang jelas. Namun, respons Yaman terhadap serangan ini justru menunjukkan ketangguhan dan kemampuan militer yang tidak boleh dianggap remeh.

Beberapa jam setelah serangan, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Yahya Saree, mengumumkan bahwa Yaman telah menargetkan kapal induk AS USS Harry Truman dengan 18 rudal dan sebuah pesawat tak berawak. Serangan balasan ini menandakan bahwa Yaman tidak akan menyerah begitu saja, melainkan siap menghadapi tekanan militer dari kekuatan besar seperti AS.

Klaim Trump dan Realitas di Lapangan

Presiden Trump membenarkan serangan ini dengan klaim bahwa kapal-kapal komersial AS tidak dapat melewati Terusan Suez, Laut Merah, atau Teluk Aden dengan aman selama lebih dari setahun, yang menurutnya telah menyebabkan kerugian miliaran dolar bagi ekonomi global. Namun, klaim ini mengabaikan konteks yang lebih luas, yaitu blokade laut yang diberlakukan Yaman terhadap rezim Israel sebagai bentuk tekanan untuk menghentikan perang di Gaza. Yaman telah menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung perjuangan Palestina, yang memberikan legitimasi tambahan bagi gerakan Ansharullah (Houthi) di tingkat regional.

Strategi Trump Tanpa Rencana yang Jelas

Para analis dan mantan pejabat AS mengkritik keras keputusan Trump untuk melancarkan serangan militer tanpa pertimbangan politik atau strategi yang matang. Nabil Khoury, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS dan mantan wakil kepala Kantor Penelitian Kedutaan Besar AS di Yaman, menyatakan bahwa Trump tidak memiliki doktrin militer atau politik yang jelas. “Trump berasal dari luar lingkup politik dan militer. Dia adalah seorang pebisnis yang terbiasa dengan tawar-menawar, tetapi tidak memahami kompleksitas nasionalisme dan dinamika regional di Timur Tengah,” ujarnya.

Brigadir Jenderal Elias Hanna, pakar urusan militer dan strategis regional, menambahkan bahwa serangan AS terhadap Yaman mencerminkan strategi Trump yang lebih mengedepankan unjuk kekuatan daripada solusi politik. “Trump percaya bahwa serangan besar-besaran dapat memaksa musuh menyerah, tetapi sejarah telah membuktikan bahwa pendekatan semacam ini tidak efektif,” kata Hanna.

Dampak Serangan AS terhadap Legitimasi Houthi

Serangan AS justru memperkuat legitimasi gerakan Ansharullah (Houthi) di Yaman dan kawasan. Dr. Liqa Makki, peneliti senior di Pusat Studi Strategis Al Jazeera, menyatakan bahwa serangan ini memberikan legitimasi tambahan bagi Houthi, yang dianggap sebagai salah satu dari sedikit pihak yang konsisten memperjuangkan Palestina. “Semakin besar serangan AS terhadap Yaman, semakin besar pula legitimasi yang diperoleh Houthi, baik di dalam maupun di luar Yaman,” ujarnya.

Potensi Eskalasi dan Dampak Regional

Para pengamat memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Yaman berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Brigadir Jenderal Elias Hanna menyatakan bahwa Yaman tidak akan mundur dan akan terus melancarkan serangan balasan. “Jika Yaman menargetkan pangkalan militer AS atau pusat komando di kawasan, situasi dapat dengan cepat berubah menjadi perang regional,” ujarnya.

Nabil Khoury juga menekankan bahwa menyalahkan Iran sebagai dalang di balik kekuatan Yaman adalah tidak logis. “Yaman melaksanakan operasi terhadap Israel atas kemauan sendiri, bukan atas perintah Iran. Alih-alih mencapai kesepakatan politik, Trump justru memperburuk situasi dengan langkah militer,” katanya.

Rawa Strategis yang Diciptakan Trump

Serangan AS terhadap Yaman menunjukkan ketidakhadiran strategi yang jelas dan pertimbangan politik yang matang. Alih-alih mencapai tujuan yang diinginkan, serangan ini justru memperkuat Perlawnan Yaman, meningkatkan legitimasi Houthi, dan berpotensi memicu eskalasi konflik regional. Tanpa perubahan pendekatan, AS berisiko terjebak dalam “rawa strategis” yang sulit untuk diatasi, dengan konsekuensi yang dapat merugikan stabilitas kawasan dan kepentingan AS sendiri.[PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *