Loading

Ketik untuk mencari

Asia Barat

Ketidakpuasan Rezim-rezim Arab Sekutu Washington terhadap Eskalasi Perang dengan Teheran

POROS PERLAWANAN – Negara-negara Arab di Teluk Persia kini merasa lebih tidak puas dibandingkan sebelumnya terhadap jaminan keamanan yang diberikan oleh Amerika Serikat.

Dikutip Fars dari Bloomberg, meningkatnya konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran telah membuat negara-negara Arab sekutu Washington di wilayah Teluk Persia merasa lelah. Hal ini terjadi karena ancaman keamanan yang semakin meningkat dan gangguan ekonomi yang parah telah membuat ketergantungan mereka pada dukungan AS menghadapi tantangan serius.

Menurut laporan Bloomberg, kegagalan nota kesepahaman sementara bulan lalu telah menghilangkan konsensus di antara negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) mengenai bagaimana seharusnya Washington bereaksi terhadap Teheran.
Beberapa pejabat keamanan di Kawasan menginginkan tindakan militer yang lebih agresif dari pihak Amerika, termasuk kemungkinan penempatan pasukan darat di dalam wilayah Iran atau perebutan Pulau Kharg, guna memaksa Teheran membuka kembali Selat Hormuz.

Sebaliknya, negara-negara seperti Qatar menyerukan de-eskalasi diplomatik segera, dibarengi dengan mediasi dari Pakistan, untuk mencegah terulangnya konflik langsung dan intens seperti yang terjadi pada awal musim semi tahun ini.

Menurut laporan tersebut, kerajaan-kerajaan Arab di Teluk Persia, setelah menjadi target langsung serangan dalam konflik baru-baru ini, semakin mempertanyakan efektivitas jaminan keamanan Amerika. Serangan rudal dan drone Iran telah menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika di Kuwait, Yordania, Irak, dan Oman.
Mantan duta besar Amerika untuk Arab Saudi, Michael Ratneyrmengatakan kepada Bloomberg: “Masyarakat merasa frustrasi dan marah. Namun, mereka jarang mengatakannya secara terbuka karena semuanya sedang berusaha menjaga hubungan dengan Trump. Mereka ingin minyak mereka tetap mengalir dan ekonomi mereka kembali normal. Situasi ini saat ini sangat menjengkelkan bagi mereka.”

Gangguan pada pelayaran komersial melalui Selat Hormuz telah memaksa produsen di Kawasan untuk mematikan pemancar satelit kapal mereka dan mengalihkan pengiriman energi melalui jalur perairan yang berisiko tinggi. Meningkatnya biaya akibat konflik dan pembatasan logistik minyak mentah telah memperlebar defisit anggaran negara-negara GCC dan secara langsung merusak rencana ekonomi jangka panjang mereka di bidang kecerdasan buatan, jasa keuangan, dan pariwisata.

Selain itu, menurut klaim Bloomberg, negara-negara Teluk Persia telah menolak usulan pendanaan paket rekonstruksi Iran senilai 300 miliar Dolar yang sempat muncul dalam negosiasi sebelumnya. Mereka menyatakan menolak untuk mendanai “musuh” yang telah menyerang mereka.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *