Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Dewan Atlantik: Yaman Mampu Hentikan Ekspor Minyak Arab Saudi

POROS PERLAWANAN — Ansarullah Yaman dinilai memiliki kemampuan untuk mengganggu bahkan menghentikan ekspor minyak Arab Saudi melalui kombinasi blokade maritim di Selat Bab al-Mandab dan ancaman terhadap infrastruktur energi Kerajaan. Penilaian itu disampaikan Allison Minor, analis Timur Tengah dari Atlantic Council.

Fars News Agency pada Selasa (21/7/2026) melaporkan, keberhasilan Ansarullah mempertahankan operasi di Laut Merah selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah membuktikan kemampuan sekaligus tekad untuk mengendalikan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Dalam pandangan Minor, ancaman blokade terhadap Arab Saudi tidak hanya menjadi instrumen tekanan terhadap Riyadh, tetapi juga dapat memengaruhi pasar energi global sekaligus memperkuat posisi tawar Yaman dalam perundingan politik dan ekonomi.

Ia mencatat bahwa sepanjang 2023 hingga 2025, Ansarullah berhasil mengganggu lalu lintas pelayaran di Bab al-Mandab melalui penggunaan kapal cepat, drone, dan rudal. Lebih dari seratus kapal dagang menjadi sasaran, mendorong banyak perusahaan pelayaran menghindari jalur tersebut. Bahkan, operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya dinilai belum mampu menghilangkan kemampuan maritim kelompok itu.

Menurut analisis tersebut, blokade terhadap Arab Saudi berpotensi mengganggu lebih dari tujuh juta barel minyak per hari yang melintasi Bab al-Mandab, setara sekitar tujuh persen pasokan minyak dunia. Bahkan tanpa penerapan blokade secara penuh, ketidakpastian mengenai sasaran operasi sudah cukup meningkatkan risiko pelayaran, premi asuransi, serta tekanan terhadap pasar energi global.

Minor juga menilai pilihan jalur alternatif bagi ekspor minyak Saudi sangat terbatas. Meskipun sebagian pasokan masih dapat dialihkan melalui Pelabuhan Yanbu, jaringan pipa SUMED di Mesir, maupun Terusan Suez, kapasitasnya dinilai tidak memadai untuk menggantikan seluruh volume minyak yang selama ini melewati Bab al-Mandab.

Ia kemudian membedakan antara gangguan terhadap jalur pelayaran dan serangan langsung ke fasilitas minyak di Yanbu. Jika infrastruktur ekspor di pelabuhan tersebut menjadi sasaran, dampaknya diperkirakan jauh lebih besar karena mampu menghentikan arus ekspor langsung dari sumbernya. Sebelum gencatan senjata 2022, Ansarullah beberapa kali menyerang Yanbu menggunakan rudal dan drone, bahkan sempat menurunkan produksi kilang di kawasan itu.

Dalam analisis yang sama, Minor menolak anggapan bahwa setiap keputusan Ansarullah sepenuhnya ditentukan oleh Iran. Meski mengakui adanya dukungan Teheran terhadap kelompok tersebut, ia menilai kebijakan Ansarullah tetap didasarkan pada kepentingan nasional Yaman serta dinamika politik domestik.

Karena itu, ancaman blokade dinilai lebih berpotensi digunakan sebagai instrumen negosiasi untuk memperoleh konsesi politik dan ekonomi dari Riyadh, termasuk terkait pengelolaan sumber daya minyak dan gas Yaman.

Minor menambahkan, pengalaman perang sepanjang 2015–2022 menempatkan Arab Saudi pada posisi yang lebih rentan menghadapi tekanan Ansarullah. Selain berisiko mengganggu ekspor minyak, pembukaan kembali front Yaman juga dapat memperbesar beban keamanan Riyadh di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Pengalaman perang sebelumnya menunjukkan bahwa operasi militer berskala besar tidak berhasil melemahkan Ansarullah, tetapi justru menimbulkan biaya politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang sangat besar bagi Arab Saudi.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *