Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Ketika Nobel Menjadi Alat Politik: Maria Corina Machado dan Bayangan Trump–Netanyahu

POROS PERLAWANAN — Penganugerahan Hadiah Nobel Perdamaian 2025 kepada Maria Corina Machado memunculkan pertanyaan tajam: apakah Nobel masih simbol moral global, atau sudah menjadi instrumen geopolitik untuk memperkuat pengaruh Amerika Serikat dan Israel di Amerika Latin?

Maria Corina Machado baru saja menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2025. Namun, di balik sorak-sorai penghormatan, bayangan dua nama besar membayangi: Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Penganugerahan ini menyalakan kembali perdebatan lama, apakah Nobel masih berbicara tentang perdamaian, atau tentang kekuasaan?

Politik Nobel: Dari Simbol Moral ke Strategi Global

Selama lebih dari seabad, Hadiah Nobel Perdamaian dianggap kompas moral dunia. Namun, arah jarumnya kini tampak berubah. Dalam empat tahun terakhir, pemenangnya selalu datang dari kubu oposisi negara-negara yang berseberangan dengan Amerika Serikat:

2021: Dmitry Muratov (oposisi Rusia)
2022: Ales Bialiatski (oposisi Belarus)
2023: Narges Mohammadi (oposisi Iran)
2025: Maria Corina Machado (oposisi Venezuela)

Tren ini menciptakan kesan bahwa Nobel tidak lagi menandai keberanian moral, melainkan memperkuat narasi geopolitik tertentu. Bagi banyak analis, penghargaan kepada Machado bukan hanya soal demokrasi di Caracas, melainkan simbol legitimasi politik bagi poros pro-Barat di Amerika Latin.

“Hadiah Nobel Perdamaian kini tampak lebih seperti resolusi diplomatik ketimbang refleksi nurani global,” terasng analis hubungan internasional, Teheran Policy Center pada Sabtu (11/10).

Siapa Maria Corina Machado?

Machado dikenal sebagai oposisi garis keras terhadap Presiden Nicolás Maduro. Dalam pidatonya, ia berulang kali menyerukan sanksi ekonomi yang lebih berat dari AS dan menegaskan bahwa “kebebasan Venezuela adalah keamanan Amerika Serikat.”

Laporan berbagai media menyebut bahwa Machado mendukung intervensi asing, termasuk pengerahan pasukan di perairan Karibia. Ia juga dilaporkan meminta lembaga-lembaga federal AS untuk “membuka kejahatan rezim Maduro” dan memperkuat tekanan internasional terhadap Caracas.

Bagi pendukungnya, Machado adalah simbol demokrasi. Bagi pengkritiknya, ia hanyalah wajah sipil dari proyek perubahan rezim yang disponsori Washington.

Hubungan dengan Trump dan Netanyahu

Kontroversi meningkat ketika Maria Corina Machado dikabarkan melakukan komunikasi langsung dengan Donald Trump pasca-penganugerahan Nobel. Dalam pernyataannya, ia bahkan mendedikasikan penghargaan itu kepada Trump, seraya menulis di X (Twitter) bahwa “rakyat Venezuela kini lebih dari sebelumnya mengandalkan dukungan Presiden Trump dan negara-negara demokrasi dunia.”

Tak berhenti di situ. Media Israel Yedioth Ahronoth mengungkap bahwa partai Machado, Vente Venezuela, menandatangani perjanjian kerja sama dengan Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu pada tahun 2020.

Perjanjian itu, disebut ditandatangani oleh Eli Hazan (saat ini Duta Besar Israel untuk Singapura), bertujuan “menguatkan nilai-nilai kebebasan dan ekonomi pasar.” Machado bahkan pernah berjanji akan memindahkan kedutaan Venezuela ke Yerusalem jika kelak berkuasa.

“Kemenangan Machado adalah kemenangan bagi front kebebasan yang didukung Israel dan Amerika Serikat.” Eli Hazan, Partai Likud, dikutip dari Yedioth Ahronoth (2025).

Relasi lintas ideologi ini memperkuat persepsi bahwa penghargaan Nobel kali ini bukan murni penghargaan moral, melainkan juga sinyal geopolitik yang berpihak.

Implikasi Global: Dari Perdamaian ke Dominasi Simbolik

Penganugerahan kepada Maria Corina Machado mengaburkan batas antara moralitas dan politik kekuasaan. Jika penerima Nobel secara terbuka mendukung sanksi, intervensi, bahkan operasi militer, maka definisi “perdamaian” menjadi relatif.

Keputusan ini menimbulkan pertanyaan yang menggema di dunia Global South:
Mengapa oposisi di negara-negara anti-AS begitu mudah mendapat panggung, sementara korban dari kebijakan sekutu Barat justru diabaikan?

Bagi banyak pengamat, kasus Machado menunjukkan bahwa Nobel kini lebih sering berfungsi sebagai soft power diplomacy, alat untuk membentuk opini dunia ketimbang mendorong perdamaian sejati.

“Nobel kini tampak seperti instrumen hegemoni moral, penghargaan yang menentukan siapa yang boleh disebut ‘baik’ di mata Barat.” The Middle East Review, Oktober 2025

Perdamaian yang Dipolitisasi

Sejarah mencatat bahwa Nobel pernah mengangkat nama-nama seperti Martin Luther King, Nelson Mandela, dan Malala Yousafzai, ikon kemanusiaan yang melampaui ideologi.

Namun, ketika penghargaan yang sama kini jatuh ke tangan figur yang bersekutu dengan poros perang, publik wajar bertanya:

Apakah perdamaian masih berarti perdamaian, atau hanya wajah lain dari dominasi global?

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *