Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Konflik Kurdi vs Arab di Suriah Utara: Dinamika Baru dengan Keterlibatan Turki dan Israel

POROS PERLAWANAN – Ketegangan di wilayah utara dan timur Suriah kembali meningkat tajam. Bentrokan antara milisi Kurdi dan elemen bersenjata yang berafiliasi dengan Pemerintah Sementara Suriah telah memasuki fase baru, menyusul kebuntuan dalam negosiasi politik selama dua pekan terakhir. Banyak pihak memperkirakan bahwa kawasan timur Sungai Efrat bisa segera berubah menjadi medan pertempuran baru dengan keterlibatan langsung aktor-aktor regional seperti Turki dan Israel.

Menurut laporan Kantor Berita Tasnim pada Senin 15 September, konflik yang paling intens terjadi di wilayah timur Aleppo. Pasukan yang berada di bawah komando Kementerian Pertahanan Pemerintah Sementara Suriah, yang dipimpin oleh Mohammad al-Jolani, terlibat bentrokan hebat dengan milisi separatis Kurdi, yakni Pasukan Demokratik Suriah (SDF).

Dalam sebuah pernyataan resmi, Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa serangan roket yang dilancarkan SDF terhadap permukiman sipil di tiga desa di pinggiran timur Aleppo telah menewaskan dua warga sipil dan melukai tiga orang lainnya.

Laporan terpisah dari Kantor Berita Resmi Suriah (SANA) menyebutkan bahwa serangan itu menyasar desa-desa al-Qayyariyah, Rasm al-Ahmar, dan Habboba Kabir, yang diluncurkan dari posisi SDF di sekitar Bandara Militer al-Jarrah dan wilayah Maskanah.

Di sisi lain, media yang dekat dengan SDF menyebutkan bahwa serangan tersebut merupakan respons atas upaya ofensif dari pasukan yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan di kawasan Deir Hafer. SDF mengeklaim berhasil memukul mundur serangan itu, dan memperingatkan bahwa: “Setiap bentuk agresi akan ditanggapi secara tegas. Pihak yang memulai ketegangan harus bertanggung jawab atas eskalasi ini”.

Sebelumnya, bentrokan juga terjadi di wilayah perdesaan Deir Ezzor dan sekitar Bendungan Tishrin—lokasi strategis yang selama ini menjadi sumber utama pasokan air dan listrik untuk Aleppo. Serangan pesawat nirawak dan pengeboman terhadap posisi-posisi di sekitar bendungan meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir.

Penting dicatat bahwa eskalasi ini terjadi tidak lama setelah beberapa putaran negosiasi antara pihak SDF dan Pemerintah di Damaskus dan Paris berujung pada kebuntuan. Para pengamat sebelumnya telah memperkirakan bahwa isu-isu krusial seperti otonomi, integrasi militer, serta pembagian sumber daya minyak dan gas di timur Sungai Efrat dapat menyulut konfrontasi militer terbuka jika tidak segera diselesaikan.

Situasi kian kompleks dengan adanya laporan bahwa Israel diduga memainkan peran di balik layar. Rezim Zionis disebut mendorong SDF agar menolak kompromi dengan Damaskus dan menjanjikan dukungan penuh—mirip dengan pendekatan mereka terhadap komunitas Druze di Sweida.

Sementara itu, Turki juga memperkuat pengaruhnya di wilayah utara Suriah. Ankara dikabarkan mendirikan kelompok milisi baru bernama “Pasukan Suku” yang dipimpin oleh Abu Hatem Shaqra. Milisi ini merupakan formasi kedua yang didukung Turki, setelah “Pasukan Nasional” yang berbasis di Azaz dan kawasan perbatasan, namun kini disebut berada di bawah kendali Kementerian Pertahanan Damaskus.

Baik dinamika politik maupun kondisi di lapangan menunjukkan bahwa baik pihak Kurdi maupun Pemerintah Damaskus tengah bergerak cepat menuju konfrontasi berskala luas—yang diperkirakan akan setara dalam intensitas dan dampaknya dengan pertempuran berdarah yang sempat terjadi di Sweida.

Jika tidak ada intervensi serius, khususnya dari Amerika Serikat untuk menengahi dan mendorong kompromi berbagi kekuasaan serta sumber daya, keterlibatan langsung Israel dan Turki dalam konflik terbuka di wilayah Suriah utara tampaknya hanya tinggal menunggu waktu.

Tags: