Laporan Israel Hayom Soal Bencana Ekonomi-Politik yang Diderita Rezim Zionis Akibat Serangan Yaman
POROS PERLAWANAN – Menurut laporan surat kabar Kayhan, pada Senin 15 September, surat kabar berbahasa Ibrani, Israel Hayom melaporkan dampak serius serangan pasukan Perlawanan Yaman terhadap wilayah dan kapal-kapal rezim Zionis.
Menurut laporan tersebut, kerugian akibat serangan ini mencapai ratusan miliar Dolar dan menjadi hambatan signifikan bagi upaya normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab melalui Rencana Abraham.
Sejak Oktober 2023, serangan rudal dan operasi Angkatan Laut Yaman untuk mendukung Palestina telah memukul keras ekonomi rezim apartheid Israel, membawa “negara” tersebut ke ambang krisis. Pelabuhan Eilat, salah satu pintu masuk komersial utama Israel di Laut Merah, kini praktis tutup dan aktivitasnya menurun hingga 85 persen. Dampaknya, pendapatan dan pajak yang dihasilkan menurun miliaran Dolar.
Media Israel seperti Day Marker melaporkan biaya transportasi laut yang meningkat tajam akibat kapal-kapal dialihkan mengitari Afrika, sehingga memicu inflasi dan indeks harga konsumen di Israel mencapai titik tertinggi sejak Oktober 2023. Serangan ini mengganggu impor mobil dan kebutuhan pokok, mengusir investor asing, serta menyebabkan arus modal keluar dari sektor teknologi, tulang punggung ekonomi Israel. Kondisi ini juga menggagalkan upaya Uni Emirat Arab dan Bahrain untuk memberikan dukungan komersial kepada Israel.
Secara politik, serangan ini melemahkan posisi Israel baik di dalam negeri maupun internasional. Media Israel seperti Haaretz dan Yedioth Ahronoth mengkritik pemerintahan Netanyahu atas kegagalan menahan serangan Yaman yang memaksa jutaan warga Israel mengungsi mingguan. Bahkan, beberapa media menggambarkan Houthi “mempermalukan Israel”. Balasan serangan Israel termasuk pengeboman Ibu Kota Sanaa terbukti mahal dan minim hasil, gagal menurunkan kemampuan rudal Yaman, serta dianggap sebagai kegagalan strategis. Situasi ini memperkuat tekanan domestik dan memicu protes, sementara citra Israel di mata dunia menjadi rentan dan dipertanyakan dukungan Barat.
Menurut Israel Hayom, Yaman kini menjadi pemain kunci dalam sanksi ekonomi tidak resmi terhadap Israel dan menunjukkan kekuatan abadi dalam melawan tekanan militer. Surat kabar itu menyebutkan: “Perjanjian normalisasi yang dicapai Israel dengan beberapa negara Arab mencapai banyak tujuan, tetapi Yaman tetap menjadi hambatan serius dalam implementasi penuh Perjanjian Abraham. Yaman menguasai Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur maritim terpenting dunia. Aktivitasnya menyebabkan penghentian pengiriman Israel di Laut Merah, kenaikan biaya transportasi dan asuransi, serta kerugian impor yang signifikan”.
Israel Hayom juga mengakui kegagalan Israel dalam operasi militer membunuh pejabat Yaman dan menegaskan: “Meski serangan terus dilakukan, rudal dan drone Yaman masih aktif menargetkan Wilayah Palestina yang Diduduki. Yaman tetap menjadi ancaman serius. Amerika Serikat perlu memimpin koalisi luas untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Yaman”.
Serangan Drone Terbaru di Bandara Ramon
Dalam berita terkait, media melaporkan serangan drone Yaman di wilayah selatan Israel. Menurut ISNA, pada Minggu lalu, Militer Israel mengumumkan sebuah drone asal Yaman memasuki wilayah udara dekat Wadi Araba dan Bandara Ramon. Akibatnya, Israel menutup sepenuhnya ruang udara di sekitar bandara dan menangguhkan semua penerbangan sementara.
Militer Israel mengeklaim telah mencegat drone tersebut setelah sirene peringatan berbunyi di Wilayah selatan Pendudukan. Beberapa hari sebelumnya, Perlawanan Yaman juga menyerang Bandara Ramon, yang menurut Israel menyebabkan beberapa korban luka.
Dalam beberapa hari terakhir, Angkatan Bersenjata Yaman terus melancarkan serangan rudal hipersonik dan drone sebagai respons atas agresi Israel, serta sebagai dukungan berkelanjutan bagi rakyat Gaza yang tertindas.
Perlawanan Yaman: Daya Tahan dan Ancaman Berkelanjutan
Perlawanan Yaman, dengan persenjataan rudal canggih dan jaringan dukungan regional yang luas, mampu mempertahankan operasi serangan terhadap sasaran Israel, meski menghadapi serangan udara intensif dari Rezim Zionis dan Amerika Serikat. Bahkan, setelah jeda tujuh bulan dalam serangan laut dari November 2024 hingga Juli 2025, pasukan Yaman melanjutkan operasi dengan intensitas lebih besar dan mengeklaim telah menenggelamkan kapal-kapal terkait Rezim Israel.
Para ahli, termasuk dari Swan Center menilai bahwa sanksi dan aksi militer Barat gagal menghambat kemampuan Perlawanan Yaman. Dengan taktik asimetris dan produksi senjata dalam negeri, Yaman berhasil menekan aktivitas Israel di Laut Merah dan Wilayah Pendudukan hingga akhir 2025 dan seterusnya. Strategi ini tidak hanya melumpuhkan ekonomi Israel, tetapi juga menjadi model efektif bagi Front Perlawanan menghadapi kekuatan militer superior.
