Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Konsul Jenderal Saudi Tinggalkan Dubai, Emir Qatar Bahas Krisis Yaman dengan Putra Mahkota Saudi dan Presiden UEA

POROS PERLAWANAN — Konsul Jenderal Arab Saudi di Dubai dan Emirat Utara, Abdullah bin Mansour Al-Mutawa mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan tersebut di tengah memburuknya perkembangan krisis Yaman. Pada saat yang sama, Emir Qatar melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan petinggi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait dinamika regional dan krisis Yaman.

Menurut laporan IRNA pada Jumat 2 Januari, mengutip media Mesir Newsroom, Al-Mutawa menyampaikan pesan perpisahan melalui platform X. Ia menyatakan meninggalkan Konsulat Jenderal Arab Saudi di Dubai dan Emirat Utara setelah masa tugas yang dimulai pada Januari 2021.

Dalam pesannya, Al-Mutawa menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri Arab Saudi serta para pejabat Uni Emirat Arab, termasuk Penguasa Dubai Mohammed bin Rashid Al Maktoum, Putra Mahkota Dubai Hamdan bin Mohammed Al Maktoum, dan para penguasa Emirat Utara atas kerja sama selama masa jabatannya.

Sementara itu, Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani membahas perkembangan regional dan krisis Yaman dalam dua percakapan telepon terpisah dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman dan Presiden UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan.

Menurut laporan Saudi Press Agency, pembicaraan antara Emir Qatar dan Putra Mahkota Saudi meninjau hubungan bilateral serta upaya memperkuat kerja sama, sekaligus membahas isu-isu regional dan internasional. Kantor Berita Resmi UEA WAM juga melaporkan bahwa percakapan dengan Presiden UEA mencakup penguatan hubungan persaudaraan dan pertukaran pandangan terkait situasi Kawasan.

Perkembangan diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Abu Dhabi dan Riyadh terkait konflik Yaman. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Uni Emirat Arab berencana menarik seluruh pasukannya dari Yaman menyusul perselisihan dengan Arab Saudi, terutama setelah serangan udara koalisi pimpinan Riyadh di pelabuhan Mukalla, Yaman selatan.

Arab Saudi mengeklaim serangan tersebut menargetkan pengiriman senjata yang terkait dengan UEA. Namun, Abu Dhabi membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa pengiriman tersebut bukan senjata, melainkan logistik untuk pasukan Emirat.

Ketegangan semakin meningkat setelah Arab Saudi menuduh UEA mendukung Southern Transitional Council (STC), kelompok separatis Yaman yang dituding mengancam keamanan nasional Saudi. Riyadh menyebut dukungan terhadap STC sebagai “garis merah” dan menuntut penghentian total bantuan militer maupun finansial.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan telah mengakhiri misi sebagian Unit Militernya di Yaman dan membatasi kehadiran hanya pada personel khusus untuk operasi kontra-terorisme. Kepala Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad Al-Alimi, bahkan memberikan ultimatum kepada pasukan Emirat untuk meninggalkan wilayah Yaman.

Perselisihan ini tidak hanya berdampak pada medan konflik Yaman, tetapi juga berpotensi meluas ke ranah ekonomi. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab merupakan aktor utama dalam OPEC, dan ketegangan di antara keduanya dikhawatirkan mengganggu konsensus terkait kebijakan produksi minyak global.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *