Kronologi Lengkap Pertengkaran Hebat Donald Trump vs Elon Musk
POROS PERLAWANAN – Konflik antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan taipan teknologi, Elon Musk meledak ke permukaan pada Kamis 5 Juni, menggemparkan Washington dan mengguncang fondasi geopolitik industri antariksa AS. Apa yang semula merupakan aliansi oportunistik antara dua kutub kuasa, politik dan teknologi, berubah menjadi konfrontasi terbuka dengan implikasi strategis yang mengancam stabilitas anggaran, dominasi luar angkasa AS, dan bahkan keberlangsungan sistem demokrasi Amerika itu sendiri.
Menurut laporan Bloomberg pada 6 Juni, konfrontasi ini dimulai dari penolakan Musk terhadap RUU pajak dan pengeluaran Federal yang dia sebut sebagai “kekejian menjijikkan” yang akan “menghancurkan keuangan negara”. Dalam balasan publik yang langka dan langsung, Trump menuduh Musk “menjadi gila” dan bersumpah akan mencabut kontrak Federal yang menopang perusahaan-perusahaannya, Tesla dan SpaceX, kontrak yang nilainya mencapai lebih dari US$22 miliar sejak 2000 (Bloomberg Government).
Musk membalas dengan ancaman tak kalah dahsyat: penghentian misi wahana antariksa Dragon, tulang punggung transportasi astronot AS ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Bagi komunitas keamanan nasional dan NASA, ini bukan sekadar gertakan. Ini adalah pengungkit strategis yang membuka ruang kegentingan. Jika Dragon dihentikan, maka operasional ISS pun terancam.
“Silakan, buat hariku menyenangkan,” sindir Musk di platform X, menantang ancaman Trump.
Pertengkaran ini berlangsung secara real time, di platform X dan Truth Social dengan saling unggah cuitan, saling hina, dan pengungkapan aib. Dalam satu unggahan, Musk mengisyaratkan bahwa Trump menahan rilis dokumen terkait pemodal predator seksual Jeffrey Epstein karena “ada dirinya di dalamnya”. Klaim ini memunculkan kembali bayang-bayang skandal yang telah lama menghantui elite kekuasaan AS.
Retak dari Dalam Sistem
Ketegangan ini bukan semata konflik pribadi. Ini adalah manifestasi retak internal sistem oligarki Barat yang sedang bergejolak. Di satu sisi berdiri Trump, simbol kekuasaan konservatif yang ingin mempertahankan dominasi negara-bangsa. Di sisi lain berdiri Musk, representasi dari kekuatan transnasional korporat, yang tak ragu menjadikan negara sebagai pelayan profit dan ideologinya sendiri.
Musk bahkan menantang struktur dua partai AS dan mengusulkan pembentukan “partai tengah” baru yang menurutnya bisa mewakili 80% rakyat Amerika. Namun pertanyaannya: siapa yang dia maksud dengan “rakyat”? Buruh kulit hitam di Detroit? Veteran perang yang telantar? Atau para investor dan algoritma?
“Tanpa saya, Trump akan kalah…,” klaim Musk, mengingatkan publik bahwa dirinya adalah arsitek kunci kemenangan Partai Republik di 2024.
Melihat dari Jendela Timur
Dari perspektif geopolitik Global Selatan, pertikaian ini menunjukkan betapa rapuhnya fondasi kekuasaan AS yang selama ini memproyeksikan kekuatan globalnya melalui dua pilar: militer dan teknologi. Saat keduanya saling sandera, Trump mengancam kontrak pertahanan dan Musk mengancam wahana luar angkasa, yang terguncang bukan hanya Nasdaq, melainkan juga kredibilitas strategis AS di hadapan dunia.
Lebih dari sekadar drama miliarder, ini adalah bukti nyata bahwa kapitalisme imperial yang dikendalikan oleh perselingkuhan antara negara dan korporasi besar kini tengah saling menghancurkan dari dalam.
AS, yang selama ini mengeklaim sebagai pemimpin dunia bebas, kini menyaksikan presidennya dikecam secara terbuka oleh orang terkaya di dunia, yang sebelumnya ia rayakan di Gedung Putih.
“Sungguh tidak tahu terima kasih,” kata Musk, mencerminkan betapa konsep “loyalitas” dalam sistem oligarki adalah sekadar retorika ketika kepentingan ekonomi terganggu.
Saham Runtuh, Legitimasi Runtuh
Saat pertikaian mengudara, saham Tesla anjlok hingga 18% dan ruang redaksi di Wall Street berubah menjadi pusat krisis. CEO firma investasi Gerber Kawasaki sampai menyerukan agar “seseorang mengambil ponsel dari tangan Musk”. Namun retorika pasar tak bisa menyelamatkan kenyataan bahwa negara adikuasa dunia tengah diacak-acak oleh ego dua orang.
Kamis malam, suasana di Gedung Putih membeku. Trump berbicara dalam nada getir kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz, mengingat hari-hari awal keakrabannya dengan Musk. Namun di luar Gedung Putih, warganet menyaksikan teater paling jujur tentang apa itu “demokrasi korporat” di abad ke-21.
Catatan Akhir: Runtuhnya Mitos Kemahakuasaan
Perseteruan Trump dan Musk mengungkapkan fakta mendasar yang selama ini ditekan oleh kekuatan media mainstream: bahwa sistem AS tidak sedang memimpin dunia, tetapi sedang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Presiden AS bisa diancam oleh pebisnis. Pebisnis bisa dijegal oleh negara. Lalu siapa yang memegang kendali?
Di tengah kehancuran tatanan dunia lama, Poros Perlawanan dari Teheran hingga Sanaa, dari Beirut hingga Gaza, kini mengamati dengan tajam, menyaksikan bagaimana kekaisaran raksasa itu retak, bukan oleh rudal atau embargo, tapi oleh kontradiksi internal yang tak bisa lagi ditutupi dengan bendera dan slogan.
Rujukan Utama:
1. Bloomberg News, “Elon Musk Calls for Trump Impeachment, Threatens to End Dragon Program”, 6 Juni 2025.
2. Reuters, Associated Press, dan arsip media X dan Truth Social.
3. Bloomberg Government Contracts Database, 2025.
4. JPMorgan EV Credit Impact Forecast Report, Juni 2025.
