Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Lagi! Sanksi Baru Amerika terhadap Iran, Masih Berkutat di Seputar Diplomasi Lidah dan Cakar

POROS PERLAWANAN — Belum genap satu pekan jelang dimulainya putaran ketiga negosiasi nuklir antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, rezim Washington kembali menancapkan cakar ekonomi ke tubuh bangsa Iran. Kali ini, melalui Departemen Keuangannya, Amerika mengumumkan penambahan enam individu dan enam entitas ke dalam daftar sanksi baru, dalam upaya lanjutan membekap industri pertahanan Iran.

Langkah ini diumumkan pada Selasa 29 April, di tengah proses negosiasi tidak langsung yang sejatinya dimaksudkan untuk meredakan ketegangan. Namun sebagaimana pola standar ganda khas Imperium, diplomasi dijalankan bersamaan dengan peningkatan tekanan ekonomi untuk membongkar watak sejati Amerika sebagai negara pemeras yang menyaru sebagai perantara damai.

Menurut laporan Fars News Agency, sanksi kali ini menargetkan jaringan industri bahan baku strategis yang dituding mendukung program rudal Republik Islam. Rezim Washington menuduh jaringan tersebut memfasilitasi pengadaan sodium perchlorate dan dioctyl sebacate; dua senyawa kimia yang digunakan dalam pembuatan propelan padat untuk sistem rudal dari Tiongkok ke Iran. Tudingan ini menjadi dasar bagi sanksi terhadap lima perusahaan berbasis di Tiongkok, satu perusahaan Iran, dan enam warga negara Iran.

Menteri Keuangan AS, Scott Bassett, dalam pernyataannya mengulang klise lama: bahwa program rudal dan kemampuan pertahanan Iran merupakan “ancaman langsung bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan mitra-mitranya di Kawasan”. Pernyataan ini tentu absurd, mengingat AS sendiri adalah negara dengan belanja militer terbesar di dunia, dan pelaku intervensi militer terbanyak sepanjang sejarah modern, dari Afghanistan, Irak, Suriah, hingga Yaman dan Somalia.

Paket sanksi terbaru ini bukan sekadar gestur politik; ia adalah bagian dari strategi sistematis “Tekanan Maksimum” untuk melumpuhkan industri strategis Iran, khususnya sektor energi, militer, dan teknologi tinggi. Sanksi kali ini pun diselaraskan dengan tekanan pada sektor migas, dengan target eksplisit untuk memotong ekspor minyak Iran hingga titik nol. Washington sadar bahwa minyak adalah nadi ekonomi Iran, dan memukulnya berarti memperlemah kemampuan Iran membiayai resistensi regional terhadap proyek Zionis-Amerika di Asia Barat.

Sementara itu, rezim AS secara teatrikal mengeklaim ingin mencapai kesepakatan nuklir “dengan itikad baik”. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Di meja perundingan Amerika membawa pena, tapi dari balik jas, tersembunyi sanksi dan sabotase.

Kebijakan sanksi yang diumumkan kali ini tidak hanya menunjukkan kebangkrutan moral diplomasi Barat, tapi juga menegaskan satu hal, bahwa selama mesin Imperium masih hidup, setiap upaya diplomasi yang tak disertai resistensi akan berujung pada penaklukan bertahap.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *