Loading

Ketik untuk mencari

Suriah

Pasukan Jolani Serbu Damaskus: Komunitas Druze Jadi Sasaran Baru

POROS PERLAWANAN — Setelah kemarin menggempur wilayah utara Suriah dengan dalih memerangi milisi Kurdi, hari ini pasukan pemberontak yang berafiliasi dengan Muhammad Jolani kembali bergerak untuk menargetkan komunitas Druze di pinggiran Damaskus. Dalam bentrokan sengit yang pecah di Jaramana, sedikitnya 14 orang tewas, separuhnya dari kalangan sipil Druze.

Laporan dari Kantor Berita Farsnews pada Selasa 29 April, mengungkap bahwa konvoi militer Jolani menyerbu distrik Jaramana dengan dalih menanggapi sebuah rekaman audio yang diklaim berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad s.a.w. Sumber rekaman tersebut belum dapat diverifikasi, namun narasi ini dengan cepat digunakan sebagai legitimasi kekerasan dan pembantaian terhadap komunitas minoritas yang telah lama berada dalam posisi rentan di Suriah.

Kelompok bersenjata yang beroperasi di bawah payung “Pemerintahan Sementara Suriah”; boneka geopolitik yang disokong Ankara dan terhubung langsung dengan struktur pemberontak HTS pimpinan Jolani, menggelar pos-pos pemeriksaan militer dan menutup akses ke kota Al-Suwayda, wilayah yang dikenal sebagai pusat populasi Druze. Dari arah Al-Maliha, terdengar tembakan intensif ke arah permukiman sipil di Jaramana, memicu gelombang pengungsian mendadak.

Organisasi HAM Syrian Human Rights Watch melaporkan bahwa puluhan keluarga Druze melarikan diri, sebagian besar menggunakan bus sebelum siang hari. Beberapa pemuka agama Druze pun mengutuk rekaman tak dikenal tersebut dan menolak segala bentuk penghinaan terhadap simbol-simbol suci Islam, namun juga memperingatkan bahwa kekerasan kolektif atas nama agama hanya akan melanggengkan perang sektarian yang ditanamkan oleh proyek-proyek asing.

Menurut laporan terbaru, 7 dari korban tewas berasal dari komunitas Druze, sementara 7 lainnya adalah milisi bersenjata pro-Jolani. Sedikitnya 15 orang luka-luka, beberapa dalam kondisi kritis. Korban sipil diperkirakan bertambah, mengingat intensitas bentrokan dan tertahannya akses medis ke wilayah konflik.

Pasukan dari “Kementerian Dalam Negeri Jolani” kini telah mengepung Jaramana, dengan dalih “mengembalikan stabilitas dan ketertiban”. Sebuah retorika usang yang senantiasa menyembunyikan operasi militer represif. Pembatasan mobilitas warga telah diberlakukan, memperkuat dugaan bahwa serangan ini lebih merupakan aksi pembungkaman dan dominasi etno-sektarian, ketimbang upaya menjaga keamanan.

Babak Baru Eskalasi: Konfrontasi Joulani vs Kurdi di Manbij

Sementara itu, konflik antara kelompok pemberontak Jolani dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) di timur laut Suriah juga memasuki fase baru. Kemarin, konvoi militer besar dengan persenjataan berat bergerak menuju Bendungan Tishrin di pinggiran Manbij, Provinsi Aleppo, wilayah strategis yang menjadi titik panas antara proyek federalisasi Kurdi dan ambisi geopolitik Turki.

Langkah ini diambil pascapernyataan resmi dari “Kantor Kepresidenan Pemerintah Boneka Jolani” yang menuduh SDF melakukan manuver “separatisme” dan melanggar “kesepakatan politik nasional”. Jolani menyatakan bahwa institusi Kurdi di timur laut “tidak berhak mengambil keputusan sepihak”, dan mengancam akan membubarkan semua struktur otonomi Kurdi jika diperlukan.

Ironisnya, hanya beberapa waktu lalu SDF yang secara terbuka didukung oleh Militer AS, dilaporkan menandatangani kesepakatan integrasi dengan kelompok Jolani untuk menggabungkan struktur keamanan dan pemerintahan. Namun, aliansi semu ini cepat berubah menjadi perseteruan ketika agenda dominasi tumpang tindih di wilayah strategis kaya minyak.

Selama perang panjang melawan Pemerintah sah Suriah, kelompok Kurdi memainkan peran kunci sebagai alat proksi Amerika. Kini, setelah cita-cita otonomi Kurdi berada di ujung tanduk, proyek perimbangan kekuasaan antara Turki, AS, dan kelompok-kelompok pemberontak menghadapi babak baru perebutan wilayah dengan rakyat Suriah kembali menjadi korban utama.

Apa yang terjadi di Jaramana dan Manbij hari ini adalah hasil langsung dari arsitektur chaos yang diciptakan oleh kekuatan asing. Dari Washington ke Ankara, dari Tel Aviv ke Riyadh, mesin-mesin perang terus berputar, menyusupkan narasi agama, etnisitas, dan “demokrasi” untuk membenarkan pendudukan dan penguasaan sumber daya. Di bawah bayang-bayang itu, rakyat Suriah tetap bertahan dengan luka, dengan doa, dan dengan perlawanan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *