Langgar Gencatan Senjata, Rezim Zionis Luncurkan Serangan Massif ke Lebanon Selatan
POROS PERLAWANAN — Rezim Pendudukan Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan Lebanon, melancarkan serangan udara terberatnya ke wilayah Nabatiyeh di Lebanon selatan. Serangan ini menunjukkan eskalasi baru dalam agresi militer Tel Aviv terhadap negara tetangganya yang berdaulat.
Menurut laporan Kantor Berita Tasnimnews pada Jumat 27 Juni, media Lebanon mengabarkan bahwa jet-jet tempur Zionis membombardir fasilitas militer “Ali Al-Taher” di kota Kaftan, Lebanon selatan. Serangan intensif ini menyasar wilayah strategis di sekitar perbukitan Nabatiyeh, menunjukkan peningkatan skala kekerasan yang dilakukan oleh Militer Israel.
Wilayah Mahmoudiyah dan Al-Khardali juga turut menjadi target. Media lokal menggambarkan gempuran ke Nabatiyeh sebagai salah satu serangan paling intens dalam beberapa pekan terakhir. Dataran tinggi Ali Al-Taher dilaporkan digempur sebanyak 15 kali oleh jet-jet tempur, dengan asap tebal terlihat membubung dari lokasi-lokasi yang dihantam.
Foto-foto yang dipublikasikan menunjukkan bangunan-bangunan tempat tinggal di Nabatiyeh luluh lantak akibat serangan, menimbulkan kerusakan parah. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa satu warga sipil gugur dan sedikitnya 11 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan terhadap kawasan permukiman tersebut.
Sementara itu, laporan terbaru menyebutkan bahwa jet tempur dan pesawat tak berawak milik Israel masih mengangkasa di wilayah Lebanon selatan, memperkuat kekhawatiran akan berlanjutnya eskalasi militer dalam waktu dekat.
Respons Keras Pemerintah Lebanon atas Agresi Zionis
Menanggapi pelanggaran terang-terangan atas perjanjian gencatan senjata dan serangan brutal ke wilayah Lebanon selatan, Presiden Lebanon, Jenderal Joseph Aoun mengecam tindakan Israel yang terus mengabaikan resolusi regional dan internasional.
“Rezim Zionis secara sistematis mengabaikan seruan internasional untuk menghentikan kekerasan dan meredakan ketegangan. Ini adalah bentuk penghinaan terbuka terhadap legitimasi hukum internasional,” tegas Presiden Aoun.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dalam pernyataan resminya menyebut serangan terhadap Nabatiyeh sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional Lebanon. Ia mengutuk keras tindakan tersebut dan menyerukan solidaritas nasional dalam menghadapi agresi ini.
“Serangan Militer Israel merupakan pelanggaran langsung terhadap kesepakatan gencatan senjata. Ini adalah ancaman nyata terhadap stabilitas dan keamanan nasional kami. Masyarakat internasional tidak boleh terus bungkam,” tegas Salam.
Aksi Militer Israel di Lebanon selatan bukan hanya bentuk agresi biasa, melainkan bagian dari pola kolonial yang terus-menerus menargetkan hak kedaulatan dan martabat bangsa-bangsa merdeka. Dalam lanskap geopolitik yang terus berubah, perlawanan tetap menjadi bahasa yang dimengerti oleh mereka yang tertindas. Nabatiyeh hari ini bukan sekadar kota yang diserang. Nabatiyeh adalah simbol perlawanan yang tak padam.
