Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Laporan INSS tentang Perang Gaza: Fakta yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan

Jurnalis Israel: Netanyahu Hanya ‘Kalahkan’ Hamas dalam Fantasinya

POROS PERLAWANAN — Pada Kamis 23 Oktober lalu, Institute for National Security Studies (INSS), selaku lembaga kajian strategis di bawah Kementerian Pertahanan Israel, menerbitkan laporan resmi tentang korban di pihak Militer selama dua tahun perang Gaza.

Laporan itu mengakui hal yang selama ini ditutupi, bahwa Militer Israel menderita kerugian besar di berbagai front perlawanan, terutama di Gaza. Dikutip Kayhan pada 26 Oktober, 1.974 tentara Israel tewas selama periode ini, terdiri atas 919 personel aktif dan sisanya tentara cadangan.

Lebih jauh, INSS mencatat 30.026 tentara mengalami luka berat, sebagian besar dengan amputasi atau cacat permanen. Jumlah ini bahkan belum mencakup korban luka ringan yang telah kembali bertugas. Dalam dua tahun terakhir, Israel memanggil 300.000 tentara cadangan untuk memperkuat operasi di Gaza.

Front Ganda: Gaza dan Tepi Barat

Selain Gaza, Tepi Barat juga menjadi arena konflik berskala tinggi. Menurut laporan INSS, 78 tentara tewas dan 565 luka-luka di wilayah ini. Untuk menekan Perlawanan, Israel melancarkan 129 serangan udara di Tepi Barat utara, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Intifada Al-Aqsa pada 2000 silam.

Sebagai balasan, warga Palestina di Tepi Barat melancarkan 10.496 operasi perlawanan, termasuk 1.215 serangan bersenjata menengah dan semi-berat. Dalam periode yang sama, Israel menangkap 15.456 warga Palestina, sebuah angka yang menunjukkan meningkatnya represi militer terhadap populasi sipil.

Hizbullah dan Iran di Garis Kedua

Laporan yang sama juga mencatat kontribusi signifikan dari Hizbullah Lebanon dan Iran dalam memperluas tekanan terhadap Israel.

Hizbullah dilaporkan telah menembakkan 17.300 roket dan rudal, serta mengoperasikan 593 drone tempur dan intelijen ke Wilayah Pendudukan. Akibatnya, 132 tentara Israel tewas dan 2.307 terluka.

Sementara itu, dalam konflik bulan Juni, Iran menembakkan 950 rudal dan pesawat nirawak yang menewaskan 33 orang dan melukai 3.550 lainnya, menurut laporan Kayhan.

Secara total, INSS menyebut ada 37.500 roket yang menghantam wilayah Israel, dengan 10.200 di antaranya berasal dari Gaza. Akibatnya, 233.000 warga Israel terpaksa mengungsi dari daerah-daerah perbatasan.

Skala Kerugian yang Melampaui Empat Perang Besar

Bila dibandingkan dengan empat perang besar Arab–Israel—pada 1948, 1956, 1967, dan 1973, angka ini menandai kerugian paling serius dalam sejarah Israel modern.

Dalam empat perang tersebut, total korban Israel mencapai 22.304 orang (tewas dan luka-luka), dengan 309 tentara ditawan. Namun dalam perang Gaza yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, Israel mencatat 38.643 korban, terdiri dari 1.986 tewas dan 36.657 luka-luka, serta 255 tawanan.

Artinya, perang Gaza telah menelan hampir dua kali lipat korban dibandingkan empat perang besar yang selama ini disebut-sebut sebagai kemenangan Israel.

Menariknya, Perdana Menteri Benyamin Netanyahu juga mengakui dalam pertemuan dengan Donald Trump di Tel Aviv bahwa perang ini telah menelan 2.000 korban tewas, 30.000 luka-luka, dan 200.000 pengungsi, angka yang mendekati laporan INSS sendiri.

Ketimpangan Kekuatan yang Berbalik Arah

Secara militer, Israel mengerahkan 470.000 pasukan aktif dan cadangan, sementara kekuatan perlawanan di Gaza hanya berkisar antara 45.000–60.000 personel. Rasio kekuatan mencapai 1 banding 10.

Namun, keunggulan jumlah dan teknologi ternyata tidak berbanding lurus dengan keberhasilan di medan perang. Israel gagal mencapai tujuan strategis: menundukkan Hamas dan mengamankan Gaza secara permanen.

Sebaliknya, efektivitas serangan Perlawanan justru meningkat. Para analis militer menilai bahwa konflik Gaza telah mengubah paradigma perang Timur Tengah dari model konvensional menjadi perang jaringan (networked warfare), di mana Kelompok Perlawanan lintas batas beroperasi secara terkoordinasi tanpa komando tunggal.

Peran Amerika Serikat: Pendukung atau Pengganti?

Dalam perang ini, Amerika Serikat memainkan peran lebih besar dari sebelumnya.

Sumber Israel sendiri mengakui bahwa volume bantuan militer dari Washington mencapai lebih dari 150.000 ton persenjataan, atau tiga kali lipat dari total arsenal Israel sebelum perang Gaza.

Dengan tingkat dukungan logistik, intelijen, dan teknologi yang demikian besar, banyak analis menilai bahwa AS kini lebih terlibat dalam perang ini dibandingkan Israel sendiri.

Namun, meski dukungan mengalir tanpa batas, hasil di lapangan tetap menunjukkan kebuntuan strategis.

Keruntuhan Moral dan Krisis Internal

Selain di medan perang, Israel kini menghadapi krisis politik internal yang tajam.

Perbedaan pandangan antara komando militer dan Kabinet sipil Netanyahu terkait kelanjutan perang semakin melebar. Ketegangan ini bahkan berujung pada pengunduran diri Menteri Pertahanan Yoav Gallant, menandakan keretakan dalam sistem komando.

Sementara itu, Perlawanan Palestina tetap bertahan meski hampir 100.000 warga Gaza tewas, 300.000 terluka, dan 80 persen infrastruktur hancur. Sekitar 2,5 juta penduduk terpaksa mengungsi, menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini.

Israel dalam Cermin Kekalahannya Sendiri

Perang Gaza (2023–2025) memperlihatkan paradoks yang sulit disangkal: Israel dengan kekuatan militer terbesar di Kawasan dan dukungan Barat tanpa batas ternyata tidak mampu menaklukkan wilayah kecil seperti Gaza.

Bila pada masa lalu setiap perang meningkatkan posisi strategis Israel di Timur Tengah, kali ini justru sebaliknya. Cakrawala Israel pascaperang Gaza tampak lebih gelap daripada sebelum perang dimulai.

Sebaliknya, Poros Perlawanan, yang dulu terpecah-pecah, kini tampil sebagai aktor yang mampu mengubah keseimbangan kekuatan regional.

Akhir dari Mitos Invincibility

Laporan INSS, disertai pengakuan tidak langsung dari Netanyahu menggambarkan realitas baru: mitos “ketangguhan tanpa batas” Militer Israel telah runtuh di Gaza.

Perang ini bukan hanya pertempuran militer, melainkan ujian ideologis dan eksistensial bagi “negara” tersebut. Ketika “negara” yang disebut “tak terkalahkan” mulai mengukur korbannya dengan jujur, dunia tahu bahwa kemenangan bukan lagi milik mereka.

Tags: