Ma’ariv: Israel Takut dan Tak Punya Kesiapan Memadai untuk Terlibat Konflik Langsung Melawan Houthi
POROS PERLAWANAN – Seorang analis Zionis secara terbuka mengakui bahwa perang dengan kelompok Houthi Yaman adalah skenario terburuk bagi Israel. Dalam wawancara dengan surat kabar Ma’ariv, seorang profesor dari Universitas Haifa memperingatkan konflik semacam itu dapat membawa kerugian strategis besar bagi Tel Aviv, mengingat tantangan geografis dan militer yang dihadapi saat ini.
Menukil laporan Tasnimnews pada Rabu 25 Desember, seorang pakar strategis, Profesor Amitsia Bar’am menjelaskan bahwa keunggulan utama Houthi terletak pada jarak geografis yang memisahkan kedua pihak. “Jarak sekitar 2.000 kilometer dan keberadaan perairan yang luas di antara kedua belah pihak memberikan keuntungan strategis bagi Houthi,” ujar Bar’am.
Serangan Houthi dan Keterbatasan Respons Israel
Mengomentari serangan rudal dan drone Houthi yang baru-baru ini menargetkan wilayah Israel, Bar’am menyebutkan kemampuan Israel untuk merespons sangat terbatas. Menurutnya, biaya operasional yang besar untuk mencegat serangan semacam itu menjadi tantangan utama bagi Tel Aviv.
“Israel tidak memiliki rudal presisi dengan jangkauan jauh yang murah untuk menghadapi ancaman ini,” tambahnya. Ia juga mengungkapkan Houthi sepenuhnya menyadari keterbatasan Israel dan memanfaatkannya untuk memperkuat posisi mereka di dunia Islam.
Houthi sebagai Pemimpin Perlawanan Dunia Islam
Bar’am lebih lanjut menjelaskan tindakan militer Houthi telah meningkatkan legitimasi mereka sebagai pemimpin Perlawanan terhadap Israel di dunia Islam. “Mereka tidak membutuhkan kekuatan udara untuk mengancam kita. Rudal-rudal sederhana mereka sudah cukup untuk memberikan pukulan strategis,” katanya.
Ia juga memperingatkan rudal-rudal tersebut, meskipun sederhana dan murah, mampu menimbulkan ancaman besar bagi infrastruktur Israel. Risiko kerusakan terhadap target non-strategis juga menambah kekhawatiran Tel Aviv.
Kesalahan Strategis Israel
Dalam analisisnya, Bar’am menyoroti kesalahan strategis yang dibuat oleh Israel di masa lalu. Ia menyebut bahwa Militer Israel gagal berinvestasi dalam pengembangan rudal jarak jauh yang terjangkau, sementara Houthi justru menggunakan rudal sederhana dengan efektivitas tinggi.
“Ini adalah kelemahan yang kini menjadi masalah serius bagi kita,” katanya. “Ketakutan meningkat karena rudal Houthi berpotensi mencapai wilayah yang tidak diinginkan dan menimbulkan kerugian yang sulit diprediksi.”
Seruan untuk Koalisi Internasional
Bar’am menyarankan agar Israel bekerja sama dengan Amerika Serikat dan Inggris dalam menghadapi ancaman ini. Namun, ia mencatat bahwa Pemerintahan Amerika Serikat saat ini tidak memiliki niat untuk terlibat langsung dalam konflik dengan Houthi. “Mungkin pendekatan ini akan berubah jika Pemerintah Republik, seperti di bawah Trump, kembali berkuasa,” ujarnya.
Peringatan untuk Pengambil Keputusan Israel
Mengakhiri wawancaranya, Bar’am menyerukan kepada Rezim Israel untuk segera mengembangkan strategi jangka panjang dalam menghadapi Houthi. “Meskipun mereka berada jauh, dampak mereka terhadap Israel dan stabilitas Kawasan sangat nyata. Jika tidak diatasi, mereka dapat menjadi ancaman yang lebih besar di masa depan,” tutupnya.
Laporan ini menyoroti kerentanan Israel dalam menghadapi Kelompok Perlawanan Houthi yang terus memperluas pengaruhnya, tidak hanya di Yaman tetapi juga di kancah internasional.
