Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Maariv: Netanyahu Kini Seperti “Bebek Lumpuh”

POROS PERLAWANAN — Surat kabar Israel Maariv pada Kamis, 28 Mei 2026 mengungkap meningkatnya krisis internal pemerintahan Benjamin Netanyahu di tengah perang yang terus berlanjut dengan Lebanon dan ketegangan regional yang melibatkan Iran. Media itu menilai Netanyahu kini tampak lemah, kelelahan, dan tidak mampu mengelola situasi, terutama di bawah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam laporan yang mengutip koresponden militernya, Maariv menyebut pembatasan yang diterapkan Trump terhadap Israel telah memengaruhi manuver politik dan militer Netanyahu.

Koresponden militer Maariv menggambarkan Netanyahu sebagai “bebek lumpuh, lemah, dan kelelahan” yang tidak lagi mampu mengatakan “tidak” kepada Trump.

Laporan itu juga mengkritik para menteri kabinet Israel yang dinilai mengabaikan situasi di wilayah utara Palestina pendudukan yang terus berada di bawah tekanan serangan Hizbullah Lebanon.

“Para menteri kabinet bahkan tidak mengetahui jalan menuju Galilea. Mungkin sistem GPS mereka terganggu, atau mungkin mereka kehilangan kompas,” tulis koresponden tersebut.

Menurut laporan itu, para pemukim di wilayah utara hidup dalam ketakutan terus-menerus akibat serangan drone dan pesawat nirawak Hizbullah.

Salah seorang pemukim di kawasan Zar’it mengatakan bahwa setiap benda yang melintas di langit memicu kepanikan.

“Setiap burung yang terbang di langit membuat saya cemas. Saya mengira itu drone peledak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa warga hampir tidak keluar ke jalan dan hidup dalam kondisi siaga permanen karena ancaman drone dan quadcopter.

Tentara Israel “Bergerak dengan Tangan Terikat”

Koresponden Maariv juga menilai anggapan bahwa Israel tengah menuju serangan besar-besaran ke Lebanon perlu ditinjau ulang. Menurutnya, militer Israel justru secara bertahap mengurangi kekuatannya di Lebanon.

Ia menjelaskan bahwa Divisi ke-36 Israel memang masih menjalankan operasi untuk memperkuat kontrol lapangan di beberapa titik utara garis kuning, tetapi operasi tersebut tidak dianggap sebagai “titik balik menentukan” dan tidak akan menjatuhkan Hizbullah.

“Masalah utamanya adalah tentara Israel bergerak dengan tangan terikat,” tulisnya.

Laporan itu menambahkan bahwa Washington dan Tel Aviv dinilai gagal meraih “kemenangan nyata” atas Iran, yang kemudian memungkinkan Teheran memaksakan pendekatannya dalam proses negosiasi.

Dalam konteks itu, pembatasan dari Washington disebut telah mempersempit ruang gerak Netanyahu dan memperlihatkan ketergantungan Tel Aviv terhadap keputusan Amerika Serikat.

Sementara itu, surat kabar Haaretz mengutip sumber militer Israel yang mengakui bahwa eskalasi operasi darat di Lebanon gagal menghentikan peluncuran drone ke wilayah utara Palestina pendudukan.

Menurut laporan tersebut, instruksi Amerika Serikat kepada Israel untuk menghindari serangan di wilayah dalam Lebanon turut menghambat kemampuan militer Israel menghadapi ancaman drone peledak Hizbullah.

“Penggunaan drone oleh Hizbullah mengejutkan kami dan kami tidak siap menghadapinya,” kata sumber militer Israel kepada Haaretz.

Sumber tersebut juga mengakui tidak adanya “respons operasional yang efektif” untuk menghadapi ancaman tersebut dan meragukan operasi darat mampu menghentikannya.

“Peningkatan manuver darat bertujuan mempersulit peluncuran drone ke permukiman utara Israel, tetapi kenyataannya langkah itu tidak benar-benar menghentikan mereka,” ujarnya.

Haaretz juga menyoroti meningkatnya tekanan dari para pemukim di wilayah utara terhadap institusi militer Israel di tengah berlanjutnya alarm keamanan dan kekhawatiran publik, meskipun wacana gencatan senjata terus beredar.

Dalam laporan terpisah, surat kabar Yedioth Ahronoth pada Kamis menyebut penghancuran Hizbullah hanya mungkin terjadi apabila Israel siap menghadapi perang bertahun-tahun dengan mobilisasi penuh pasukan cadangan dan pendudukan total Lebanon.

Namun, media itu menilai setelah hampir tiga tahun perang, skenario tersebut kini tampak “mustahil.”

Yedioth Ahronoth juga menyebut Israel tengah mengalami krisis kepemimpinan mendalam yang melampaui persoalan Benjamin Netanyahu semata, dan membutuhkan kepemimpinan yang berani mengakui bahwa sejumlah target perang sudah tidak realistis untuk dicapai.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *