Maduro Kecam Serangan Kedua AS yang Kembali Menarget Kapal Venezuela
POROS PERLAWANAN – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro menanggapi serangan AS yang menargetkan kapal Venezuela kedua. Ia menyatakan, peristiwa yang sedang berlangsung merupakan “upaya imperialis AS untuk menguasai sumber daya Venezuela dan mendirikan pemerintahan boneka.”
“Satu-satunya cara untuk melawan, menetralisir, dan mengalahkan ancaman AS adalah melalui persatuan nasional. AS sedang melakukan perang yang tidak etis terhadap Venezuela, dengan terang-terangan melanggar hukum internasional,” imbuhnya, al-Mayadeen melaporkan.
Hal ini terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim pada Senin 15 September bahwa Militer AS telah menargetkan kapal Venezuela lainnya hingga menewaskan tiga orang; orang-orang yang ia gambarkan sebagai “teroris yang mengangkut narkotika”. Operasi tersebut, kata Trump, memperluas kampanye Pemerintahannya melawan kartel narkotika dan memperluas cakupan penggunaan kekuatan militer untuk menghentikan mereka.
Ini adalah serangan kedua AS terhadap sebuah kapal dalam dua minggu, setelah insiden sebelumnya pada 2 September.
Maduro sebelumnya telah memperingatkan bahwa negaranya sedang menjalani “perjuangan besar untuk kebenaran” demi mempertahankan perdamaian. ia menuduh kekuatan asing meningkatkan tekanan militer dan politik terhadap Pemerintahannya.
Dalam konferensi pers dengan media internasional pada Senin lalu, Maduro mengatakan Venezuela baru-baru ini diancam oleh “kehadiran kapal selam rudal dan kapal selam nuklir.” Presiden Venezuela menambahkan bahwa dia dan pejabat tinggi, termasuk Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez, telah menerima ancaman pribadi.
Dia mengutip insiden yang melibatkan USS Jason Dunham, yang menurutnya “secara ilegal menghalangi” kapal penangkap ikan Venezuela di perairan nasional, dan menyebutnya sebagai upaya sengaja untuk “mengganggu kedaulatan Venezuela.”
“Agresi ini memiliki sifat yudisial, politik, dan militer, yang membenarkan pertahanan yang sah bagi negara. Tanggapan kami adalah memberdayakan rakyat Venezuela, melatih mereka, dan mempertahankan kebenaran kami.”
Pemimpin Bolivarian itu menggambarkan warga Venezuela sebagai “orang-orang jujur dan revolusioner abad ke-21.” Ia berargumen bahwa identitas ini telah menjadikan negara tersebut sebagai sasaran. Maduro menyatakan, Venezuela menghadapi “agresi total,” bukan hanya “ketegangan geopolitik,” dan mendesak warga untuk tetap bersatu dalam mempertahankan kedaulatan mereka.
Maduro menekankan bahwa pemberdayaan merupakan inti dari strategi Pemerintahannya. ia menggambarkan warga Venezuela bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai peserta aktif dalam pertahanan nasional.
Ia menggambarkan partisipasi warga sebagai bagian dari keamanan nasional dan berkata,”Kita sedang melatih rakyat dan mempertahankan kebenaran kita.”
Dia juga menyerukan kepada media internasional untuk melakukan “upaya etis yang besar untuk menunjukkan kebenaran” tentang Venezuela, dengan alasan bahwa narasi yang bias memperburuk ketidakstabilan.
“Ini bukan hanya perjuangan untuk perdamaian, tetapi juga perjuangan melawan disinformasi,” kata Maduro, sambil mendesak jurnalis untuk melawan agenda asing dengan pelaporan yang bertanggung jawab.
