Pakta Keluarga Palestina: Di Atas Puing, Kami Akan Bangun Kembali
POROS PERLAWANAN – Menurut koresponden Tasnimnews di Tepi Barat, Palestina. Saat itu, di tengah kesunyian bulan Ramadan yang semestinya menjadi waktu berkumpul, keluarga Ihab Shaabin hanya punya satu atap: langit. Rumah mereka di Deir Abzi’a, sebelah barat Ramallah, telah dihancurkan oleh buldoser militer Zionis. Tanpa peringatan, tanpa ampun, dan seperti biasa, tanpa keadilan.
Tanggal 11 Februari 2025, pada pukul 07.00 pagi, pasukan penjajah datang membawa mesin-mesin penghancur. Tanpa surat pengadilan. Tanpa waktu untuk menyelamatkan barang-barang atau kenangan. Sepuluh tahun jerih payah berubah menjadi abu hanya dalam hitungan menit. Rumah yang dibangun dengan tangan sendiri oleh Ihab dan keluarganya, kini hanya tinggal puing-puing.
“Kami tak diberi satu pemberitahuan pun. Mereka datang, menghancurkan, lalu pergi. Sepuluh tahun hidup kami hilang begitu saja,” ujar Ihab, menahan duka di tengah reruntuhan.
Tangisan Anak Palestina di Tengah Reruntuhan
Bagi Nantalya, putri keluarga tersebut, kehancuran itu bukan sekadar bangunan yang runtuh, tapi trauma yang menancap seumur hidup. Ia menyaksikan rumahnya dihancurkan saat pulang sekolah.
“Saya melihat jip militer di dekat sekolah dan kira ini operasi biasa. Tapi saat pulang, rumah kami sudah rata. Saya berteriak, saya menangis, saya ingin menyelamatkan barang-barang… tapi tentara menendang saya pergi. Saya hanya bisa menyaksikan kehancuran itu terjadi di depan mata saya.”
Tak ada yang bisa diselamatkan. Bahkan ingatan masa kecil pun kini berdebu bersama serpihan dinding.
Wadie: “Kami akan bangun kembali. Di sini. Di tanah ini.”
Wadie Shaheen, ibu dari keluarga ini, adalah lambang keibuan Palestina: tak goyah, tak tunduk, dan tak pernah kehilangan harapan. Ia tahu luka ini tak akan sembuh cepat. Tapi ia juga tahu: tanah yang mereka pijak lebih suci daripada rasa aman semu di pengungsian.
“Ini seperti kehilangan anakmu. Tapi meski rumahku hancur, tanah ini milikku. Aku ingin membangun rumah yang sama, di tempat yang sama, meski harus memulai dari nol.”
Perempuan Palestina: Pilar Ketahanan di Tengah Reruntuhan
Perempuan Palestina seperti Wadie bukan sekadar penjaga rumah, mereka adalah rumah itu sendiri. Di tengah kebijakan penghancuran sistematis yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap rumah-rumah warga Palestina di Tepi Barat, perempuan-perempuan ini berdiri sebagai fondasi terakhir dari keteguhan nasional: batu yang tak dapat digeser.
Rezim penjajah berusaha mengusir keluarga Shaabin. Tapi mereka hanya menabur benih perlawanan yang lebih keras. Karena dari puing-puing itu, tumbuh tekad yang tak bisa dihancurkan oleh buldoser mana pun.
Simbol Perlawanan: Satu Rumah Palestina Melawan Satu Mesin Zionisme
Keluarga Shaabin bukan satu-satunya. Di sepanjang Tepi Barat, ratusan rumah telah dihancurkan, ribuan warga Palestina diusir dari tanah mereka sendiri. Tapi setiap rumah yang runtuh adalah kutukan bagi proyek Zionis: karena di reruntuhannya, tumbuh sumpah kolektif rakyat Palestina; kami akan bangun kembali.
Karena tanah ini bukan sekadar tempat tinggal. Ini adalah identitas. Ini adalah kehormatan. Ini adalah bagian dari tubuh dan jiwa mereka. Dan tak ada penjajah yang bisa mengusir tubuh dari jiwanya sendiri.
