Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Maju Kena Mundur Kena, Apa Lagi yang Bisa Dilakukan Israel di Gaza?

Maju Kena Mundur Kena, Apa yang akan Dilakukan Israel di Gaza?

POROS PERLAWANAN– Sudah 77 hari berlalu sejak meletusnya perang di Gaza. Dalam beberapa hari terakhir terbetik kabar dan laporan soal dimulainya kembali upaya mewujudkan gencatan senjata. Sejumlah media Israel dan Barat merilis kabar terkait masalah ini. Gedung Putih juga mengeklaim, perundingan tentang gencatan senjata kemanusiaan dan pembebasan para sandera di Gaza sangat serius.

Fars melaporkan, Kabinet Perang Israel berada di bawah tekanan dari berbagai arah. IDF juga belum mencapai tujuan-tujuan yang diumumkannya, sementara skala kerugiannya terus bertambah. Pada hari Rabu lalu, IDF mengumumkan 29 serdadunya terluka. Pada hari Kamis IDF juga mengakui bahwa 40 serdadunya mengalami luka-luka di selatan Gaza. Jelas bahwa statistik ini dipublikasikan setelah melalui sensor ketat.

Bisa dikatakan bahwa salah satu tanda persiapan untuk gencatan senjata adalah meningkatnya intensitas pengeboman Gaza dalam beberapa hari lalu. Hal semacam ini lumrah dilakukan sebelum perundingan dengan tujuan menekan pihak lawan dan mengambil keuntungan darinya.

Di pihak lain, Israel dalam beberapa hari terakhir berupaya memaksakan realita lapangan baru atas Hamas di Gaza. Salah satunya adalah upaya membuat “kawasan aman” di sepanjang jalur konfrontasi di timur Gaza. IDF juga berusaha memisahkan kamp pengungsi Jabaliya di utara Gaza dari Bet Lahiya. IDF juga mencoba masuk ke kawasan antara Hay al-Tufah dan al-Shujaiyah, namun menghadapi perlawanan sengit dari kubu Palestina.

Namun di sisi lain, Israel juga menghadapi perpecahan. Berbagai forum menunjukkan keraguan terhadap program perang dan potensi terwujudnya tujuan-tujuannya. Meski perpecahan dalam ini sudah ada sebelum perang, namun kini telah mencapai batas yang di situ para anggota Kabinet Netanyahu tidak berani tampik di depan publik, menghadiri upacara pengiringan serdadu yang tewas di Gaza, atau menjenguk para serdadu yang terluka di rumah sakit. Bahkan kita tidak lagi mendengar statemen-statemen keras dari orang-orang seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.

Di saat kubu sayap kanan menghendaki berlanjutnya perang, pihak oposisi dan sayap kiri menginginkan rencana lain. Kendati secara lahiriah Pemerintahan Netanyahu bersumbar akan meneruskan perang hingga “hancurnya Hamas”, namun di balik layar mereka menghendaki gencatan senjata selama sepekan.

Pihak Perlawanan Palestina sendiri sudah siap untuk segala skenario. Harus dilihat sejauh mana Netanyahu dan orang-orang bersiap untuk menghadapi dinamika di masa mendatang.

Para sekutu Israel di Barat sudah berkesimpulan bahwa Tel Aviv tidak bisa mewujudkan tujuan-tujuannya dalam jangka dekat. Apalagi Israel juga terlibat konfrontasi dengan Hizbullah di perbatasan Lebanon, ditambah ketegangan di Laut Merah yang kian memanas.

Meski IDF menderita banyak kerugian, yang sebagian besarnya disensor, namun sejumlah petinggi Rezim Zionis, seperti Netanyahu dan Yoav Gallant masih menabuh genderang perang. Berlanjutnya perang berarti bertambahnya kerugian. Meski sensor statistik kerugian bisa cukup berhasil, namun pada akhirnya penduduk Israel akan mengetahui faktanya.

Pemberhentian perang tanpa terwujudnya tujuan utama, yaitu kehancuran Hamas, juga merupakan mimpi buruk bagi Netanyahu dan kawanannya. Ini adalah perangkap yang dipasang Perlawanan untuk Rezim Zionis. Setiap opsi untuk Israel harus dibayar mahal olehnya.

Hal penting lain adalah Israel telah melaksanakan program finalnya, yaitu serangan darat ke Gaza. Namun Perlawanan masih memiliki sejumlah opsi yang belum dilakukan, yang akan dilaksanakan mereka sesuai tuntutan kondisi.

 

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *