Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Makin Arogan dan Hilang Kendali, Trump Ancam ‘Habisi’ Pemimpin Tertinggi Iran: ‘Kami Tahu Di Mana Dia Bersembunyi’

New York Times: Proyek Trump Soal Gaza ‘Hadiah untuk Iran’

POROS PERLAWANAN – Dalam unggahan terbarunya di Truth Social, platform digital yang lebih sering menyerupai mimbar ego daripada forum kebijakan, Donald J. Trump kembali memainkan nada tinggi:

“We know exactly where the so-called ‘Supreme Leader’ is hiding. He is an easy target, but is safe there. We are not going to take him out (kill!), at least not for now. But we don’t want missiles shot at civilians, or American soldiers. Our patience is wearing thin.”

Kalimat tersebut terdengar seperti cuplikan naskah film fiksi politik pasca-apokaliptik, jika bukan karena kenyataan bahwa ia disampaikan oleh seorang Kepala Negara dengan rekam jejak senjata sungguhan, bukan efek suara.

Seperti biasa, Trump tampil bukan sekadar sebagai politisi, tetapi juga sebagai produser utama panggung teatrikalnya sendiri, mengarahkan kamera, menentukan siapa antagonis, lalu melempar ancaman seolah-olah dunia ini hanya perlu satu tangan di remote kontrol untuk ditundukkan.

Di balik ancaman itu, terselip ironi yang terlalu mencolok untuk diabaikan. Seseorang yang dengan mudah menginstruksikan pembunuhan tokoh-tokoh penting Poros Perlawanan tanpa proses pengadilan, kini berbicara tentang “kesabaran” dan “perlindungan warga sipil” seolah-olah sedang membaca kutipan dari Piagam PBB. Sulit untuk tidak mengangkat alis, atau sekadar tersenyum miris.

Namun yang lebih menarik lagi adalah keyakinan yang terkesan nyaris spiritual, bahwa dirinya masih aman, masih leluasa, dan masih tak tersentuh. Mungkin Trump merasa dirinya bagian dari “yang terpilih”, bukan oleh rakyat, tapi oleh sejarah itu sendiri, sebuah sejarah versi pribadi, di mana hukum internasional hanyalah catatan kaki dari narasi egonya.

Tentu, tak ada yang menyangkal bahwa setiap negara berhak membela warganya. Namun ketika pembelaan berubah menjadi teater intimidasi, kita patut bertanya, ini masih geopolitik, atau sudah sekadar panggung narsistik global?

Arogansi semacam ini sebetulnya bukan hal baru. Dunia sudah mengenalnya dalam banyak rupa: dari diktator tropis, rezim kolonial, hingga pemimpin populis berjas dan dasi. Namun perbedaannya adalah, kini semuanya terekam dalam resolusi tinggi dan bisa dibagikan ulang jutaan kali, lengkap dengan filter “heroik”.

Hal yang paling berbahaya bukanlah senjata itu sendiri, melainkan ketika ia berada di tangan mereka yang merasa kebal atas semua akibat. Ketika pemimpin mengancam tanpa malu, mengeklaim tanpa dasar, dan menunda kekerasan seolah-olah itu bentuk kemurahan hati, maka sesungguhnya dunia sedang dihadapkan bukan pada konflik antarnegara, tapi pada krisis kedewasaan global.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya: “Apakah ancaman ini serius?”

Kemudian mulai bertanya: “Mengapa dunia masih memberi panggung sebesar ini kepada seseorang yang tak pernah benar-benar turun dari langit egonya sendiri?”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *