Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Manajemen Persepsi ‘Belok Kiri’ di Tengah Dunia yang Kehilangan Kompas Moral

POROS PERLAWANAN — Dunia modern tak butuh kejujuran, hanya manajemen persepsi. Hari ini, seorang buronan bisa berubah menjadi diplomat, dan pembunuh bisa disebut reformis, hanya cukup dengan konferensi pers dan pencahayaan yang baik.

Inspektur Vijay sudah terlalu sering menyaksikan siklus itu. Ia tahu bahwa di panggung geopolitik, darah bisa mengering lebih cepat daripada opini publik.

Di Idlib, Vijay mendengar seorang pria berkata: “Bukankah Ahmed al-Sharaa, alias Abu Muhammad al-Jolani, dulu wakil Abu Bakr al-Baghdadi?”

“Betul,” jawab Vijay datar. “Amerika Serikat menawari sepuluh juta Dolar untuk menangkapnya.”

Pria itu tertawa hambar. “Lucu. Sekarang dia diundang ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Vijay mengangkat bahu. “Dunia memang suka plot twist. Apalagi yang bisa menunda rasa bersalah.”

Pada 2013, Jolani adalah teroris global. Sepuluh tahun kemudian, ia tampil di forum internasional sebagai “aktor penting dalam transisi politik Suriah”. Reputasi dibersihkan bukan oleh pertobatan, melainkan oleh kebutuhan geopolitik.

“Ini soal pragmatisme,” kata seorang analis Washington kepada Inspektur Vijay.

“Pragmatisme?” Vijay mengulang dengan nada sinis. “Kata lain untuk hipokrisi yang mengenakan jas.”

Video Jolani bermain basket di Amerika beredar luas, sebuah simbol perdamaian, katanya. Di waktu yang sama, Israel membangun pos pemeriksaan baru di Suriah. Vijay mencatat dalam laporannya, bahwa dunia menyebutnya stabilitas, padahal itu hanya reruntuhan yang dipoles bahasa diplomatik.

Beberapa reformis Suriah yang dulu mendukung pemberontak kini hidup dalam pengasingan. Salah satu dari mereka mengakui kepada Vijay, “Kami salah.” “Tidak,” sahut Vijay. “Kalian hanya kalah lebih cepat dari ilusi kalian sendiri.”

Media pun turut bermain. Surat kabar yang dulu memuji “pembebasan rakyat Suriah” kini bungkam ketika wilayah itu berubah jadi pasar senjata. “Kami hanya mengikuti arah angin,” kata seorang mantan editor kepada Vijay.

“Dan siapa yang meniupnya?” tanya Vijay.

“Para sponsor.”

“Ah, jadi etika kini ditulis di faktur iklan,” gumamnya.

Dalam perjalanan pulang, Inspektur Vijay menaiki bus tua. Seorang penumpang berbisik kepada sopir: “Matikan bus supaya kita bisa tertawa.” Sopir berteriak: “Diamlah, dasar bodoh!” Tapi penumpang lain justru tertawa.

Vijay ikut tersenyum. “Tertawa,” katanya pelan, “senjata terakhir manusia ketika logika sudah jadi korban perang.”

Di luar jendela, bendera-bendera berkibar di depan markas besar PBB. Dunia tampak bergerak, seperti jam rusak yang masih berdetak, bukan karena tahu waktu, tapi karena takut berhenti.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *