Mandela: Kondisi Palestina Lebih Berat Dibanding Kondisi Afsel di Era Apartheid
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, cucu Nelson Mandel, Mandla Mandela menyatakan,Palestina mengalami kondisi yang lebih berat akibat agresi Israel di Gaza dan pendudukan daripada yang dialami oleh warga kilit hitam Afrika Selatan di masa apartheid.
Dalam wawancara dengan Reuters di Bandara Johannesburg sebelum naik pesawat ke Tunisia untuk bergabung dengan konvoi kemanusiaan yang menuju Gaza, Mandela mendesak komunitas internasional untuk mendukung Palestina.
“Banyak dari kita yang telah mengunjungi wilayah-wilayah yang diduduki di Palestina. Mereka hanya kembali dengan satu kesimpulan: rakyat Palestina mengalami bentuk apartheid yang jauh lebih parah daripada yang pernah kami alami,” kata Mandela.
Mandela (51 tahun) menekankan kesamaan antara perjuangan puluhan tahun melawan apartheid di Afrika Selatan dan perjuangan Palestina. Menurutnya, solidaritas global harus terus berlanjut seperti yang pernah dilakukan untuk generasi kakeknya.
“Kami yakin bahwa komunitas internasional harus terus mendukung rakyat Palestina, sama seperti mereka telah berdiri bersama kami,” tambahnya.
Pernyataan Mandela ini muncul saat para aktivis kemanusiaan bersiap untuk menantang blokade Gaza dengan mengirimkan makanan dan barang-barang kebutuhan pokok melalui laut. Ia menekankan bahwa solidaritas dengan rakyat Palestina bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kelanjutan dari warisan anti-apartheid.
Konvoi yang ia ikuti bertujuan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza meskipun adanya blokade laut yang diberlakukan oleh Israel: blokade yang telah semakin memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Israel telah lama menolak perbandingan antara wilayah Palestina yang diduduki dan Afrika Selatan pada era apartheid. Pejabat-pejabat Israel berargumen bahwa situasi tersebut secara fundamental berbeda, meskipun selama puluhan tahun wilayah Palestina diduduki secara militer, dikenakan blokade ekonomi, dan menghadapi pembatasan sistematis.
Pada tanggal 20 Februari 2024, Duta Besar Afrika Selatan untuk Belanda, Vusimuzi Madonsela, mengatakan di Mahkamah Internasional bahwa warga Palestina menghadapi bentuk apartheid yang “lebih ekstrem”.
“Kami sebagai warga Afrika Selatan merasakan, melihat, mendengar, dan merasakan hingga ke tulang sumsum kami kebijakan dan praktik diskriminatif yang tidak manusiawi dari rezim Israel. Itu adalah bentuk apartheid yang lebih ekstrem daripada yang pernah dilembagakan terhadap orang kulit hitam di negara kami,” kata Madonsela.
