Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mantan Hakim AS Sebut Perang Trump terhadap Iran Berujung Bencana dan Menguatkan Teheran

POROS PERLAWANAN — Mantan hakim Amerika Serikat Andrew Napolitano menilai agresi militer Presiden AS Donald Trump terhadap Iran berakhir sebagai “bencana strategis” tanpa keuntungan nyata bagi Washington, sekaligus justru memperkuat posisi Teheran di panggung global.

Dalam wawancara dengan Press TV pada Rabu, (6/5/26), Napolitano mengatakan operasi militer Amerika Serikat dan Israel gagal mencapai tujuan utama yang sebelumnya diumumkan Gedung Putih, termasuk melemahkan program nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran.

Menurutnya, perang tersebut malah memicu lonjakan inflasi bahan bakar dan pangan di Amerika Serikat serta merusak kredibilitas internasional Trump.

“Trump kehilangan kredibilitas internasional dan posisi politik domestiknya. Harga bahan bakar dan makanan melonjak di seluruh Amerika,” kata Napolitano.

Ia juga menyoroti penolakan sejumlah negara Eropa untuk mendukung operasi militer Washington di Selat Hormuz. Negara seperti Jerman, Prancis, Spanyol, dan Inggris disebut melihat konflik itu lebih mencerminkan kepentingan strategis Israel dibanding kepentingan keamanan nasional mereka sendiri.

“Ini bukan perang mereka,” ujar Napolitano. “Mereka melihat konflik ini lahir dari pilihan strategis Israel dan kepatuhan Trump terhadap tuntutan Tel Aviv.”

Napolitano menilai ketidakhadiran dukungan sekutu Eropa menjadi pukulan politik serius bagi pemerintahan Trump. Menurutnya, negara-negara Eropa tidak memperoleh keuntungan apa pun dari konflik tersebut.

Ia juga menyebut Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur pelayaran global paling stabil kini berubah menjadi zona konflik yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.

“Dari sudut pandang Amerika, perang ini adalah bencana,” katanya.

Mantan hakim tersebut menambahkan bahwa perang terhadap Iran bahkan memunculkan kembali wacana pemakzulan Trump di dalam negeri. Menurutnya, banyak anggota Kongres secara pribadi menganggap langkah militer terhadap Iran melanggar prinsip hukum dan konstitusi Amerika Serikat, meski Partai Republik saat ini masih enggan mengambil tindakan.

Napolitano memprediksi situasi politik dapat berubah setelah Januari 2027 apabila Partai Demokrat berhasil menguasai Kongres.

“Pada titik itu akan ada kemauan politik yang cukup untuk mendorong proses pemakzulan,” ujarnya.

Di sisi lain, Napolitano menilai konflik justru memperlihatkan munculnya Iran sebagai kekuatan militer yang sangat tangguh. Ia menyebut keberhasilan Teheran menahan tekanan militer Amerika Serikat dan Israel sebagai pencapaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern.

“Iran kini masuk dalam jajaran negara yang sangat kuat,” katanya. “Mereka berhasil menghentikan dua kekuatan militer terbesar dunia melalui keberanian, keteguhan, dan kemampuan strategis.”

Napolitano juga menyoroti mekanisme baru pengaturan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz sebagai aset strategis penting yang memperbesar pengaruh Teheran atas jalur energi dunia.

Menurutnya, Amerika Serikat kini tidak mampu menghentikan kontrol Iran atas perairan strategis tersebut. Jika Teheran menerapkan pungutan transit kapal, Iran disebut berpotensi memperoleh keuntungan ekonomi besar dalam waktu singkat.

Ia menilai mekanisme itu dapat menjadi instrumen tekanan balasan terhadap upaya sanksi baru dari Barat di masa mendatang.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *