Mantan Kepala Kantor Media Bashar al-Assad Ungkap Rincian Baru Terkait Jatuhnya Damaskus
POROS PERLAWANAN – Mantan Kepala Kantor Media Kepresidenan Suriah, Kamel Saqr mengungkapkan rincian baru mengenai alasan di balik jatuhnya Damaskus. Dalam pernyataannya yang dirilis pada Sabtu 4 Januari, Saqr menjelaskan sejumlah faktor kunci, termasuk kegagalan komunikasi antara Pemerintah Suriah dan Rusia, serta tekanan internasional yang semakin memperburuk situasi.
Saqr mengeklaim bahwa Rusia tidak merespons permintaan Presiden Bashar al-Assad setelah jatuhnya Aleppo untuk memfasilitasi pengiriman bantuan militer dari Iran kepada tentara Suriah melalui pangkalan udara Hmeimim. Menurut laporan Russia Today, Saqr menyampaikan informasi ini dalam sebuah wawancara podcast di platform “Mazeej”.
Kegagalan Komunikasi dengan Putin
Saqr menyebut bahwa sejak tiga hari sebelum tanggal 8 Desember, yang menandai jatuhnya Damaskus, Bashar al-Assad tidak berhasil menghubungi Presiden Rusia, Vladimir Putin. Hal ini menjadi salah satu tanda keretakan dalam hubungan antara Suriah dan sekutu utamanya, Rusia.
Ia juga mengungkapkan posisi Iran yang sudah memberi tahu Assad bahwa tidak ada jaminan keamanan bagi pesawat-pesawat Iran yang hendak mengirimkan bantuan militer ke pangkalan Hmeimim melalui wilayah udara Irak dan Suriah. Lebih lanjut, Saqr menyatakan Moskow menolak permintaan resmi dari Pemerintah Suriah untuk menggunakan pangkalan tersebut sebagai jalur pengiriman bantuan.
Ancaman dari Amerika Serikat
Iran, menurut Saqr, juga melaporkan Amerika Serikat telah mengancam akan menembak jatuh pesawat yang berangkat dari Iran dan melewati wilayah udara Irak menuju Hmeimim. Akibat ancaman tersebut, pesawat terpaksa kembali tanpa menyelesaikan misinya. Situasi ini semakin memperburuk upaya Pemerintah Suriah dalam memperkuat kapasitas militernya.
Kondisi Militer dan Ekonomi yang Memburuk
Saqr menjelaskan kondisi Militer Suriah sudah dalam situasi kritis bahkan sebelum jatuhnya Aleppo. Kapasitas pasukan tidak cukup untuk menghadapi konflik berskala besar, sementara kondisi ekonomi negara juga mengalami keterpurukan yang signifikan, mempersempit ruang gerak Pemerintah Assad.
Penolakan Dialog dengan Turki
Pada 6 Desember 2023, Pemerintah Irak memberi tahu Suriah bahwa Turki secara tegas menolak segala bentuk dialog dengan Bashar al-Assad. Menurut Saqr, Utusan Khusus Presiden Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentiev, berusaha membujuk Assad agar bersedia membuka jalur komunikasi dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Namun, Assad menolak usulan tersebut, termasuk mengadakan pertemuan di tingkat menteri luar negeri kedua negara. Ia hanya mengizinkan pertemuan di tingkat pejabat keamanan.
Ketegangan dengan Rusia
Keputusan Assad menolak dialog yang diminta Rusia dilaporkan menimbulkan ketidakpuasan di Moskow. Saqr menambahkan bahwa kunjungan terakhir Bashar al-Assad ke Rusia sebelum jatuhnya Damaskus juga tidak membuahkan hasil. Dalam kunjungan tersebut, Assad tidak berhasil berbicara langsung dengan Vladimir Putin, yang menandakan semakin renggangnya hubungan antara kedua pemimpin tersebut.
Rincian yang diungkapkan Kamel Saqr memberikan gambaran mendalam mengenai tantangan diplomatik, militer, dan ekonomi yang dihadapi Pemerintah Suriah menjelang jatuhnya Damaskus. Kini terungkap, bahwa keretakan hubungan dengan sekutu utama Suriah seperti Rusia dan tekanan dari kekuatan internasional seperti Amerika Serikat menjadi faktor signifikan yang mempercepat krisis tersebut.
