Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mantan Perwira CIA: Israel Menertawakan AS di Belakang Kita

POROS PERLAWANAN – Seorang mantan perwira Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) pada hari Kamis 14 Mei menyatakan, Pemerintah AS dan Kongres sangat dipengaruhi oleh Israel. Menurutnya, AS diolok-olok Israel karena terseret ke dalam perang dengan Iran.

Fars memberitakan, mantan perwira CIA John Kiriakou berbincang dengan Rick Sanchez mengenai pengaruh kuat lobi-lobi Zionis di AS.

Saat berbicara mengenai tingkat pengaruh Pemerintah Israel dalam Pemerintahan AS, Kiriakou mengatakan,”Pemerintahan AS sepenuhnya berada di bawah pengaruh mereka. Izinkan saya memberi tahu Anda, pengaruh terbesar ada di Capitol Hill. Ada sejumlah perlawanan di dalam Pemerintahan, khususnya di CIA, Kementerian Luar Negeri, dan sampai batas tertentu Kementerian Perang. Namun di Kongres, pengaruhnya lengkap dan mutlak.”

“Itu adalah para lobi AIPAC yang ditugaskan secara khusus ke setiap kantor anggota Kongres, hingga mereka hanya duduk di sofa di sana sepanjang hari, setiap hari. Mereka menghadiri rapat-rapat penentuan kebijakan.”

Sambil menunjukkan bahwa mereka adalah satu-satunya perwakilan asing yang diizinkan menghadiri pertemuan-pertemuan tersebut, Kiriakoud menambahkan,”Dapatkah Anda bayangkan, saya baru-baru ini berada di Capitol Hill, di luar kantor Senator Tom Cotton, Ketua Komite Intelijen, di luar kantor Lindsey Graham, di luar kantor Anggota Kongres Ralph (Randy) Feinstein. Bendera Israel ada di sana. Mereka memajang bendera Israel di pintu masuk kantor mereka.”

“Bisakah Anda bayangkan seseorang memasang bendera Rusia atau bendera China, bendera Mesir atau bendera Yunani? Kita akan disebut pengkhianat, tetapi mengibarkan bendera Israel dianggap wajar dan kita diharapkan menerimanya.”

Dia menyoroti taktik gertakan Netanyahu kepada berbagai Pemerintahan AS terkait Iran dan mengatakan, “Kita menyadari hal ini dalam beberapa pekan terakhir. Barack Obama mengatakan bahwa menjelang akhir masa jabatannya, Benjamin Netanyahu mendatangi Gedung Putih dan memberitahunya bahwa ia harus membom Iran. Obama mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya. Kemudian Netanyahu berkata bahwa jika Anda tidak melakukannya, kami akan membom Iran dan menggunakan senjata nuklir. Obama menjawab, ‘Silakan, lakukan saja.’ Dia tahu Netanyahu hanya menggertak. Tentu saja, Netanyahu tidak melakukannya.”

“Namun kemudian Netanyahu kembali dan mengatakan kepada Donald Trump bahwa jika Anda tidak membom Iran, kami akan menggunakan senjata nuklir. Trump menjawab, ‘Saya tidak ingin Anda menggunakan senjata nuklir, jadi saya akan membom Iran.'”

Salah satu klaim yang dibuat tentang perang dengan Iran adalah ancaman Netanyahu untuk menggunakan senjata nuklir terhadap Iran, yang diklaim sebagai salah satu alasan Donald Trump menyetujui serangan terhadap Iran, meskipun banyak yang menolak klaim tersebut.

“Hal lain yang dikatakan Netanyahu kepada kita, dan dia selalu mengatakan ini, adalah bahwa Pemerintah Iran adalah rumah ringkih. Dia mengeklaim, begitu rudal pertama ditembakkan, semuanya akan runtuh. Siapa pun yang memiliki sedikit pun pengetahuan tentang Iran tahu bahwa ini konyol dan tidak pernah benar.”

“Trump telah terjebak dalam perangkap ini. Kita tahu betul hal ini karena pihak Israel telah membanggakannya di media mereka sendiri. Cukup baca saja Jerusalem Post. Mereka membocorkannya dan mengungkap semuanya, lalu mereka menertawakan kita di belakang kita.”

Berbagai pakar dan politisi berulang kali memperingatkan tentang konsekuensi serangan terhadap Iran. Namun, AS dan Rezim Zionis tetap melancarkan agresi militer terhadap Iran, sebuah tindakan yang disambut dengan respons tegas dari Angkatan Bersenjata Iran, yang berujung pada blokade Selat Hormuz dan lonjakan tajam harga bahan bakar global.