Mayor Jenderal Salami: Perlawanan Satu-Satunya Jalan Menuju Kebebasan dari Perbudakan
POROS PERLAWANAN – Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari perbudakan dan penindasan. Ia menyatakan bahwa rakyat Yaman adalah simbol nyata perlawanan terhadap musuh yang arogan dan tidak gentar menghadapi kekuatan lahiriah para tiran.
Pernyataan itu disampaikan Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dalam acara kebersamaan dengan Al-Qur’an dan Festival Qur’ani Noor ke-3 Pasukan Garda, menukil laporan Farsnews Agency pada Senin (10/3). Menurutnya IRGC telah berkembang menjadi institusi yang kokoh dengan akar keimanan yang dalam. Ia menggambarkan pasukannya sebagai entitas yang memiliki pengaruh luas, membawa pesan kebebasan, kehormatan, dan keamanan bagi umat Islam yang tertindas di berbagai penjuru dunia.
Dalam pidatonya, Mayor Jenderal Salami menyoroti bahwa baik rumah para pasukan maupun diri mereka sendiri mencerminkan nilai-nilai Ilahi, menjadi perwujudan nyata dari ajaran Al-Qur’an.
IRGC sebagai Pelaksana Hukum Ilahi di Bumi
Mayor Jenderal Salami menekankan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an menjadi landasan bagi perjuangan pasukan IRGC, menjadikan mereka sebagai pelaksana hukum dan ketetapan Ilahi di muka bumi.
Ia menegaskan bahwa pasukan IRGC bukan sekadar pasukan militer, tetapi juga para pejuang di jalan Allah, yang menjalankan peran seperti para sahabat Nabi Muhammad dan Imam Husain pada peristiwa Asyura. Menurutnya, karakteristik ini harus tercermin dalam wajah spiritual dan keteguhan para pejuang, yang pada akhirnya akan membawa kemenangan dalam konflik melawan kaum kafir, munafik, dan musyrik.
Perlawanan: Satu-Satunya Jalan Menuju Kebebasan dari Perbudakan
Dalam kesempatan tersebut, Mayor Jenderal Salami menegaskan bahwa perlawanan adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan umat Islam dari belenggu perbudakan, penindasan, dan dominasi kekuatan arogan.
Ia menyoroti pentingnya keteguhan dalam menghadapi musuh dan tidak sedikit pun menunjukkan ketergantungan kepada mereka. Menurutnya, saat ini, Pemimpin Revolusi Islam berdiri tegak di medan pertempuran besar, menghadapi koalisi musuh yang berpengalaman, bersenjata lengkap, dan bermotivasi tinggi.
Mayor Jenderal Salami memperingatkan bahwa bahkan kecenderungan sekecil apa pun terhadap musuh tidak diperbolehkan. Ia menekankan bahwa jika ada sedikit saja ketergantungan kepada musuh, maka seseorang akan kehilangan pertolongan Ilahi dan justru akan terjerumus ke dalam kehancuran.
Ia juga mengingatkan agar tidak berputus asa dari rahmat Allah serta terus menunjukkan keteguhan dalam menghadapi musuh. Menurutnya, ketahanan adalah manifestasi dari kesabaran, tawakal, dan keyakinan kepada Allah dalam menghadapi kesulitan. Ia menambahkan bahwa bukti dari ajaran ini telah terlihat dalam berbagai peristiwa nyata di sekitar kita.
Kelemahan dalam Menghadapi Musuh Adalah Penyebab Kekalahan
Dalam pidatonya, Mayor Jenderal Salami menegaskan bahwa jumlah pasukan yang sedikit bukanlah faktor utama kekalahan, melainkan kelemahan mental dan spiritual yang menjadi penyebab utama.
Ia mengingatkan kembali peristiwa Perang Hunain, di mana kaum Muslim yang terlalu percaya diri dengan jumlah besar mereka akhirnya mengalami kekalahan.
Ia kemudian menyinggung situasi di Gaza, yang telah mengalami pengepungan, serangan udara, dan penderitaan selama lebih dari 16 bulan. Meskipun dalam kondisi tersebut, Gaza tetap bertahan dan berhasil meraih kemenangan dalam perang melawan rezim Zionis.
Menurutnya, rakyat Gaza menang meskipun rumah-rumah mereka hancur, sementara mereka yang tidak mengalami kehancuran fisik justru mengalami kehancuran hati dan kekalahan mental. Ia menekankan bahwa kemenangan sejati tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh kekuatan hati dan tekad perjuangan.
Mayor Jenderal Salami juga menegaskan bahwa bila Allah melihat kelemahan dalam diri hamba-Nya, maka pertolongan Ilahi akan berkurang. Namun, ia menegaskan bahwa selama umat Islam tetap berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an, mereka tidak akan mengalami kekalahan.
Menurutnya, perlawanan hanya dapat diwujudkan dengan keimanan yang sejati, keteguhan hati yang tidak tergoyahkan, serta tekad yang kuat. Ia menekankan bahwa rakyat Yaman adalah contoh nyata dari perlawanan melawan kekuatan arogan, yang tidak gentar menghadapi kekuatan lahiriah para tiran.
Solidaritas di Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina dalam Perlawanan
Komandan IRGC menegaskan bahwa ketika kemenangan nyata diraih, hati para pejuang menjadi lebih kuat. Ia menekankan bahwa saudara-saudara di Lebanon, Yaman, Irak, dan Palestina telah memahami esensi perlawanan dengan baik.
Ia menambahkan bahwa Iran telah merasakan pengalaman serupa selama Perang Pertahanan Suci. Menurutnya, seluruh ketenangan, keamanan, dan kemenangan yang telah dicapai berasal dari keteguhan dalam berpegang teguh pada Al-Qur’an dan nilai-nilai Islam.
