Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Mearsheimer Nilai Perang Iran Lebih Buruk dari Irak, Sebut AS ‘Kalah Telak dan Gagal Total’

POROS PERLAWANAN – Pengamat dan analis hubungan internasional Amerika Serikat, John Mearsheimer menyebut perang melawan Iran sebagai kesalahan terbesar dalam sejarah kebijakan luar negeri AS, bahkan melampaui invasi Irak 2003. Dalam wawancara dengan program Deep Dive pada Jumat 2 Mei, Mearsheimer menegaskan bahwa Amerika Serikat telah kalah telak dan satu-satunya jalan keluar adalah mengakui kekalahan.

Mearsheimer menilai Presiden Donald Trump ingin mengakhiri perang, tetapi tidak bersedia mengakui kegagalan. Menurut analis kelahiran 1947 itu, tidak ada skenario yang bisa menyelamatkan posisi AS saat ini.

Perang ini, kata Mearsheimer, adalah bencana besar. Ia mengingatkan, meskipun invasi Irak sempat mencatat keberhasilan awal ketika George W. Bush berdiri di geladak kapal induk dan menyatakan misi telah usai, kali ini AS bahkan tidak bisa melakukan hal serupa.

Kegagalan Blokade Laut dan Mitos Keruntuhan Iran

Mearsheimer menolak klaim Trump bahwa Iran berada di ambang kehancuran. Gagasan tekanan militer tambahan akan membuat semuanya berakhir baik bagi AS dinilai sebagai ilusi belaka.

Berkaitan dengan blokade laut yang dijalankan AS, Mearsheimer meragukan efektivitasnya. Keunggulan udara pun terbukti tidak membawa kemenangan. Menurutnya, merebut Selat Hormuz menggunakan pasukan darat adalah mimpi yang tidak matang. AS tidak memiliki cukup personel di Kawasan dan akan menderita kerugian besar.

Bahkan jika Selat Hormuz berhasil dikuasai, kapal-kapal AS akan menjadi sasaran empuk di Teluk Persia. Iran memiliki ribuan drone, rudal jelajah, rudal balistik, artileri, dan kapal selam yang siap menyerang setiap kapal yang melintas.

Uranium Tersebar, Pengetahuan Nuklir Iran Tak Terhapuskan

Mearsheimer juga menolak skenario operasi penyitaan uranium Iran. AS tidak tahu persis di mana lokasi 11 ton uranium yang diperkaya, termasuk 440 kilogram dengan kadar 60 persen. Semua material itu tersebar. Iran, kata Mearsheimer, pasti akan melindungi lokasi-lokasi tersebut dengan ketat.

Lebih dari itu, meskipun uranium itu dirampas, Iran tetap memiliki sentrifugal dan pengetahuan untuk memperkaya uranium hingga tingkat senjata. Kemampuan itu tidak bisa dihilangkan oleh kekuatan luar.

Perang Houthi Jadi Pelajaran, Persediaan Amunisi AS Menipis

Mearsheimer membandingkan situasi dengan perang AS melawan Kelompok Houthi di Yaman. Trump memulai serangan pada Maret 2025 dan berhenti pada Mei 2025 tanpa berhasil mengalahkan Houthi. Aksi pengeboman hanya menghabiskan persediaan senjata berharga yang seharusnya disimpan untuk keadaan darurat lain.

Saat ini, menurut Mearsheimer, persediaan amunisi AS nyaris habis. Melancarkan aksi pengeboman lagi akan memperburuk keadaan tanpa menghasilkan kemenangan.

Inti dari semua ini, kata pengamat dari Universitas Chicago tersebut, adalah posisi AS benar-benar buruk. Kenaikan eskalasi justru akan membuat Iran yang dominan, bukan AS.

Analisis: Peringatan Berulang dari Para Ahli

Sejumlah analis dan politikus sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran serupa tentang agresi militer terhadap Iran. Mereka memperingatkan dampak luas terhadap ekonomi global dan stabilitas Kawasan. Mearsheimer kini menjadi suara terbaru yang menegaskan bahwa perang ini telah menjadi bumerang bagi Washington.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *