Trump: Operasi Evakuasi Kapal di Selat Hormuz Dimulai Senin
POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan operasi untuk mengeluarkan kapal-kapal komersial yang terjebak di Selat Hormuz akan dimulai Senin pagi waktu Timur Tengah. Pernyataan itu disampaikan melalui akun Truth Social dan dikutip Fars News Agency pada Senin 4 Mei.
Trump menyebut operasi tersebut sebagai langkah kemanusiaan. Menurutnya, sejumlah negara yang tidak terlibat dalam konflik Timur Tengah meminta bantuan Amerika Serikat untuk mengevakuasi kapal mereka dari jalur pelayaran strategis itu.
“Kami akan membantu mengeluarkan kapal-kapal tersebut dengan aman dari perairan yang terbatas agar mereka dapat kembali beroperasi secara normal”, tulis Trump.
Ia menyatakan kapal-kapal tersebut berasal dari negara yang tidak memiliki keterlibatan langsung dalam konflik. Pemerintah Amerika Serikat, kata dia, telah menginstruksikan perwakilan terkait untuk memastikan proses evakuasi berlangsung aman bagi kapal dan awak.
Trump juga menyebut sebagian operator kapal memilih menunda aktivitas hingga kondisi Kawasan dinilai aman untuk pelayaran.
Operasi yang disebut “Proyek Kebebasan” dijadwalkan dimulai Senin. Trump menyatakan Pemerintahnya tengah melakukan komunikasi yang disebutnya positif dengan Iran dan berharap menghasilkan perkembangan yang menguntungkan semua pihak.
Menurut Trump, evakuasi dilakukan untuk membantu individu, perusahaan, dan negara yang tidak terlibat dalam konflik namun terdampak situasi. Ia menyebut pasokan logistik di sejumlah kapal mulai menipis, termasuk makanan dan kebutuhan dasar bagi awak.
Trump menilai langkah tersebut sebagai upaya kemanusiaan yang melibatkan Amerika Serikat, negara Kawasan, dan Iran. Ia juga menyebut operasi itu dapat menjadi sinyal itikad baik di tengah konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Di bagian akhir, Trump memperingatkan akan ada respons tegas terhadap pihak mana pun yang mengganggu proses tersebut.
Sejumlah analis menilai rencana ini berkaitan dengan meningkatnya tekanan internasional akibat gangguan pada rantai pasok global dan distribusi energi. Sebagian pihak melihat inisiatif tersebut sebagai kelanjutan dari rencana pengawalan kapal komersial oleh Militer Amerika Serikat yang sebelumnya menghadapi kendala implementasi.
