Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Media Barat: Amerika Dikepung Krisis, Trump Dinilai Menyadari Perannya Berakhir

POROS PERLAWANAN — Sejumlah pemikir Barat dan media internasional menilai Amerika Serikat tengah menghadapi akumulasi krisis domestik dan global pada masa kepemimpinan Donald Trump. Harian Prancis Le Monde bahkan menulis Trump sendiri memahami bahwa peran politiknya telah mendekati titik akhir.

Laporan yang dikutip surat kabar Kayhan pada Minggu (28/12) menyebut pemerintahan Trump berada di bawah tekanan serius, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Sejumlah akademisi terkemuka di bidang politik dan hubungan internasional, termasuk Francis Fukuyama, Stephen Walt, dan John Mearsheimer, mengkritik kebijakan luar negeri Trump sebagai simbolik, kontraproduktif, dan berisiko. Mearsheimer bahkan menilai Amerika Serikat bergerak menuju kemunduran internal yang serius di bawah kepemimpinannya.

Di dalam negeri, Trump menghadapi tekanan akibat inflasi, krisis biaya hidup, kegagalan mengendalikan harga energi, meningkatnya ketegangan sosial, serta perpecahan di basis pendukungnya sendiri. Skandal yang kembali mencuat terkait hubungannya dengan Jeffrey Epstein, ditambah kebijakan keras terhadap imigran, turut memperburuk persepsi publik terhadap kepemimpinannya.

Le Monde: Tanda Akhir yang Kian Jelas

Dalam analisisnya, Le Monde menyoroti perpecahan internal Amerika yang semakin mengeras. Penulis artikel, Gilles Paris, menilai obsesi Trump mencantumkan namanya di berbagai institusi dan simbol negara mencerminkan kecemasan atas merosotnya pengaruh politik.

Le Monde mencatat berbagai langkah simbolik tersebut, mulai dari penggantian nama lembaga publik hingga wacana pencetakan koin bergambar Trump sebagai bagian dari proyek personal branding yang mengaburkan batas antara kepentingan publik dan pribadi. Fenomena ini, menurut Paris, tidak lagi memicu perlawanan signifikan di Washington akibat terkikisnya sensitivitas terhadap konflik kepentingan.

Artikel tersebut juga menilai perebutan suksesi di kubu konservatif telah dimulai sebelum berakhirnya masa jabatan Trump. Indikasinya terlihat dari perpecahan di kalangan pendukung serta pengunduran diri di sejumlah lembaga pemikir. Bahaya terbesar, menurut Le Monde, bukan sekadar simbolisasi kekuasaan, melainkan perubahan struktural dalam pemerintahan AS, mulai dari merosotnya konsensus kebijakan luar negeri, menguatnya loyalitas personal, hingga melemahnya institusi diplomatik.

Al Jazeera: Natal di Tengah Tekanan Ekonomi

Jaringan Al Jazeera melaporkan suasana Natal yang suram bagi banyak warga Amerika seiring memburuknya kondisi ekonomi. Media tersebut menyoroti lonjakan biaya hidup, meningkatnya pengangguran akibat penutupan pemerintahan, serta kecemasan publik terhadap eskalasi militer di luar negeri.

Mengutip jajak pendapat Reuters, Al Jazeera melaporkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun ke angka 39 persen. Inflasi harga kebutuhan pokok, sewa, dan energi menjadi faktor utama ketidakpuasan publik. Tingkat pengangguran dilaporkan mencapai 4,6 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan pelaku usaha menahan perekrutan akibat ketidakpastian kebijakan tarif dan perdagangan.

Al Jazeera juga menyoroti meningkatnya angka kemiskinan, yang disebut sebagai salah satu faktor penyebab kematian di Amerika Serikat, sebuah paradoks bagi negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Media tersebut menilai kedua partai besar gagal merespons akar persoalan struktural, sementara Trump cenderung menyalahkan oposisi politik atas krisis yang berkembang.

Wall Street Journal: Retaknya Barat

Sementara itu, Wall Street Journal mengangkat pertanyaan mendasar: Apakah Barat telah berakhir? Dalam analisisnya, surat kabar tersebut menyoroti keretakan hubungan transatlantik yang selama puluhan tahun menjadi fondasi tatanan global pasca-Perang Dunia II.

Pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang menyebut konsep “Barat yang berprinsip” tidak lagi eksis, menjadi sorotan utama. Ia menilai Amerika Serikat kini mengejar kepentingannya secara agresif dan tidak lagi memandang Eropa sebagai mitra strategis utama.

Wall Street Journal mencatat meningkatnya ketegangan diplomatik antara Washington dan ibu kota Eropa, disertai kekhawatiran bahwa hubungan tersebut tidak akan sepenuhnya pulih. Sikap Gedung Putih yang dinilai lebih keras terhadap sekutu Eropa dibanding rival tradisional seperti Rusia dan Tiongkok dipandang sebagai sinyal perubahan mendalam dalam orientasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *