Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Media Ibrani Soroti Krisis Warga Zionis Akibat Kebijakan Netanyahu dalam Perang Lawan Iran

POROS PERLAWANAN – Media berbahasa Ibrani melaporkan kondisi menyedihkan yang dialami warga Israel akibat kebijakan dan kepemimpinan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu dalam perang melawan Iran. Surat kabar ekonomi Calcalist, dalam edisi khusus akhir pekan, menggambarkan warga sipil yang bangunan rumahnya hancur, merasa lebih seperti pengungsi daripada warga negara biasa.

Kisah Keluarga Abitbol: Kehidupan di Tengah Kekacauan

Menurut Tasnimnews Agency pada Minggu 7 September, salah satu narasumber yang merupakan Anggota Dewan Kota Holon dan Direktur Pendidikan di Institut Shittim, Tal Abitbol menceritakan pengalaman pada 19 Juni, ketika sebuah rudal Iran menghantam Jalan Bialik di Holon, dekat tempat tinggalnya:

“Kami mendengar ledakan besar saat berada di tangga beton koridor tempat penampungan, yang tidak memenuhi standar keselamatan. Pintu hancur, pecahan kaca beterbangan, dan tetangga mulai berteriak. Saya segera menghubungi keluarga dan teman-teman melalui WhatsApp untuk memastikan kami selamat.”

Setelah insiden itu, Abitbol bersama keluarganya menuju toko roti terdekat untuk mengatur logistik sementara, membeli makanan dan minuman, dan mencoba menilai kondisi rumah mereka. Dua bulan kemudian, mereka masih membangun kembali kehidupan mereka.

Laporan Calcalist mencatat bahwa perang antara Israel dan Iran berakhir relatif cepat, tetapi dampak di garis depan domestik masih terasa. Sekitar 21.500 warga dievakuasi dari rumah mereka, dengan 13.000 dipindahkan ke hotel, dan hingga saat ini 1.700 masih berada di hotel atau akomodasi sementara. Banyak warga harus menghadapi birokrasi rumit, biaya tinggi, dan ketidakpastian terkait tempat tinggal dan pendidikan anak-anak mereka.

Abitbol mengkritik respons pemerintah:

“Kita kekurangan pemimpin yang bertanggung jawab. Pemerintah Israel tahu bagaimana cara mempersiapkan operasi militer, tetapi tidak siap mengelola garis depan. Evakuasi ini membuat kami merasa seperti pengungsi di pengasingan.”

Hambatan Administratif dan Kondisi Hotel

Selama masa pengungsian, warga menghadapi berbagai kendala administratif dan layanan yang buruk di hotel. Abitbol mencontohkan: handuk yang disediakan selalu basah, akses ruang makan terbatas, dan kebijakan hotel yang kaku membuat kehidupan pengungsi semakin sulit. Banyak keluarga hanya dapat tinggal di akomodasi sementara jika memiliki koneksi atau kemampuan finansial tertentu.

Seorang warga menggambarkan suasana yang membingungkan:

“Sejak hari pertama, kami hidup dalam rumor dan ketidakpastian. Seseorang mendengar dinding lain di gedung kami runtuh, orang lain mendengar bahwa gedung akan dihancurkan. Informasi apa pun menjadi sangat penting dalam ketakutan terus-menerus ini.”

Abitbol juga menyoroti ketidakselarasan tindakan pejabat publik dengan kebutuhan warga:

“Upacara pembongkaran rumah di Holon dilakukan oleh Menteri Pertahanan Katz dan Wali Kota Shai Kenan, tanpa pemberitahuan bagi penghuni. Sementara warga kehilangan rumah dan mengalami trauma, pejabat merayakan kegiatan simbolis.”

Selain itu, masalah koordinasi antara hotel, kantor pajak, dan instansi pemerintah membuat warga menghadapi ketidakpastian, termasuk keterlambatan pengalokasian apartemen sementara dan hambatan finansial dalam mendapatkan kompensasi.

Laporan media Ibrani menegaskan bahwa kegagalan manajemen pemerintah Israel dalam menangani evakuasi dan pemulihan warga sipil mencerminkan lemahnya koordinasi administratif dan kurangnya kepemimpinan efektif. Dampaknya, warga sipil yang terdampak merasa terabaikan dan terpaksa menghadapi ketidakpastian serta tekanan psikologis yang berat, sementara pemerintah fokus pada agenda militer dan simbolik, bukan perlindungan masyarakat sipil.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *