Loading

Ketik untuk mencari

Arab Saudi

Media Saudi–Emirat Terus Dukung Teroris-Perusuh dalam Kerusuhan Iran

POROS PERLAWANAN — Sejumlah media yang berbasis di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terus menunjukkan keberpihakan dalam peliputan kerusuhan di Iran, dengan mendukung kelompok perusuh dan elemen bersenjata. Pendekatan tersebut berlanjut meskipun situasi di lapangan dilaporkan telah mengalami penurunan eskalasi.

Menurut Kantor Berita Tasnim pada Senin 12 Januari, media-media Saudi–Emirat, sejalan dengan media Barat, Zionis, dan kelompok kontra-revolusioner, tetap mengadopsi narasi yang dinilai bermusuhan terhadap Iran. Salah satu media yang disorot adalah jaringan Al Arabiya yang berafiliasi dengan Arab Saudi, yang disebut terus meliput kerusuhan Iran dengan sudut pandang sepihak.

Tasnim melaporkan bahwa kerusuhan yang dipicu oleh kelompok perusuh dan elemen bersenjata bayaran telah berkurang secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Penurunan ini terjadi setelah sebagian besar pengunjuk rasa memisahkan diri dari aksi kekerasan dan menyadari adanya dugaan konspirasi asing yang bertujuan mengganggu keamanan nasional dan stabilitas negara. Langkah tegas aparat keamanan Iran juga disebut berkontribusi terhadap meredanya situasi.

Namun demikian, media Barat dan anti-revolusioner, termasuk sejumlah media Saudi dan Emirat, dinilai tetap mempertahankan dukungan terhadap narasi kerusuhan. Al Arabiya, misalnya, disebut terus menggunakan judul-judul provokatif, seperti “Protes Iran Menyebar, Masyarakat Marah”, yang dinilai tidak mencerminkan kondisi faktual di lapangan.

Dalam konteks tersebut, Al Arabiya menayangkan sejumlah program yang membahas perkembangan di Iran dengan sudut pandang sepihak. Salah satunya adalah program “Saatul Hiwar” yang menghadirkan narasumber pilihan yang diperkenalkan sebagai pakar politik dan peneliti. Dalam program itu, pertanyaan dan analisis yang disajikan dinilai cenderung bias serta mengandung tudingan tanpa dasar terhadap Iran.

Salah satu narasumber yang dihadirkan, Hamid Al-Kifai, disebut membantah keberadaan kerusuhan, perusuh, maupun kelompok bersenjata di Iran. Ia menyatakan bahwa protes yang berlangsung mencakup berbagai spektrum demonstran dan menolak penyebutan kelompok tertentu sebagai tentara bayaran.

Al Arabiya juga membahas isu Iran dalam program lain bertajuk “Outside the Box” yang ditayangkan pada Minggu malam. Dalam program tersebut, jaringan itu mewawancarai mantan perwira Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Norman T Roule untuk membahas situasi keamanan dan politik di Iran.

Dalam pembahasan terkait akses internet, Al Arabiya mempertanyakan langkah-langkah pengaturan internet yang dilakukan otoritas Iran, tanpa menyinggung kekerasan yang dilaporkan dilakukan oleh kelompok perusuh dan elemen bersenjata. Media tersebut mengeklaim bahwa akses internet dibatasi akibat meluasnya protes, tanpa memberikan konteks keamanan yang menyertainya.

Tasnim menilai bahwa Al Arabiya dan para narasumber yang dihadirkannya kerap menggunakan istilah “protes rakyat” untuk menggambarkan aksi yang disebut melibatkan kekerasan dan perusakan. Pendekatan serupa juga diadopsi oleh media Saudi dan Emirat lainnya, seperti Al-Hadath dan Sky News Arabic.

Media-media tersebut dilaporkan secara luas menyebarluaskan pernyataan, klaim, serta ancaman yang disampaikan oleh pejabat dan media Amerika Serikat maupun Eropa terhadap Iran, tanpa disertai sudut pandang penyeimbang dari pihak Iran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *