Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Membangun Blok Ekonomi: Iran dan Eurasia (UEE) Menuju Perdagangan Tanpa Batas

POROS PERLAWANAN — Hubungan ekonomi antara Iran dan Uni Ekonomi Eurasia (UEE) memasuki babak baru dengan dimulainya implementasi perjanjian perdagangan bebas pada 15 Mei 2025. Kesepakatan ini menandai langkah penting dalam strategi Teheran memperluas integrasi ekonomi regional dan mengubah neraca perdagangan nasional secara signifikan.

Menurut laporan Mehr News pada Selasa 13 Mei, setelah bertahun-tahun negosiasi, koordinasi teknis, dan ratifikasi legislatif, perjanjian perdagangan bebas antara Republik Islam Iran dan Uni Ekonomi Eurasia secara resmi mulai berlaku pada 15 Mei 1404 dalam kalender Hijriah Syamsiah. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari perjanjian perdagangan preferensial yang ditandatangani Iran sejak 2018 dan kini bertransformasi menjadi kerja sama ekonomi yang lebih luas dan mendalam.

Uni Ekonomi Eurasia (UEE) mencakup lima negara di antaranya, Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kirgistan, dan Armenia, dengan populasi gabungan lebih dari 180 juta jiwa dan Produk Domestik Bruto (PDB) melebihi dua triliun Dolar AS. Mulai pertengahan Mei, tarif impor dan ekspor atas 87 persen komoditas yang diperdagangkan antara Iran dan negara-negara UEE akan dihapuskan, dan semua bentuk hambatan non-tarif juga dilarang diberlakukan. Namun, sebagian kecil barang yang dinilai tidak krusial dalam perdagangan bilateral tetap dikenakan tarif.

Implementasi dan Rincian Perjanjian

Wakil Direktur Layanan Komersial Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammad Sadegh Qenadzadeh menjelaskan bahwa perjanjian ini akan otomatis berlaku dua bulan setelah proses ratifikasi dan pemberitahuan resmi oleh semua negara anggota. “Dengan dimulainya fase implementasi ini, prospek pertumbuhan perdagangan Iran–Eurasia sangat besar,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammad Ali Dehghan Dehnavi menegaskan bahwa perjanjian ini mencakup sebagian besar komoditas utama, termasuk bahan baku produksi, dengan pengecualian kecil yang telah diperhitungkan secara cermat. “Perjanjian ini sangat rinci, terdiri atas satu bab dengan 245 halaman. Kami bahkan telah menyiapkan buku panduan perdagangan dengan Eurasia dalam bahasa Persia untuk memandu pelaku usaha swasta,” jelasnya.

Dehghan Dehnavi menambahkan bahwa perjanjian ini mencakup lebih dari sekadar tarif: berbagai isu seperti pertukaran informasi dagang, standarisasi, langkah-langkah sanitasi, karantina, kerja sama kepabeanan, hingga transportasi dan transit dibahas secara menyeluruh.

Statistik Perdagangan Terkini

Data bea cukai terbaru menunjukkan bahwa ekspor Iran ke negara-negara anggota UEE meningkat 20 persen pada tahun lalu, mencapai lebih dari $2 miliar. Rinciannya:
1. Rusia: $1,12 miliar
2. Armenia: $505 juta
3. Kazakhstan: $278 juta
4. Kirgistan: $111 juta
5. Belarus: $21 juta

Sementara itu, nilai impor Iran dari negara-negara UEE tercatat sebesar $1,51 miliar, turun 20 persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Qenadzadeh, volume perdagangan bilateral saat ini diperkirakan mencapai $5 miliar. Namun, dengan diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas, angka ini diproyeksikan meningkat hingga $20 miliar dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Manfaat Strategis bagi Iran

Para ekonom menilai bahwa perjanjian ini membuka peluang besar bagi sektor swasta dan produsen Iran. Selain penghapusan tarif atas sekitar seribu jenis produk, kesepakatan ini juga mencakup harmonisasi standar, penyederhanaan proses perizinan, dan percepatan kepabeanan.

Tak hanya itu, perjanjian ini juga membuka ruang investasi bersama di sektor energi, petrokimia, pertanian, industri makanan, dan manufaktur. Langkah ini sejalan dengan upaya Iran untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional Barat dan memperluas tujuan ekspor dalam kerangka diplomasi ekonomi yang seimbang.

Dalam konteks sanksi internasional, para pakar juga menyebut bahwa penggunaan mekanisme barter dan pertukaran energi menjadi opsi strategis yang realistis untuk mengembangkan perdagangan dengan blok Eurasia.

Tantangan Infrastruktur dan Logistik

Meski menjanjikan, implementasi perjanjian ini menghadapi sejumlah tantangan teknis. Qenadzadeh mengakui bahwa beberapa infrastruktur logistik dan keuangan belum sepenuhnya siap, tetapi optimis perbaikan akan berlangsung seiring implementasi kesepakatan.

Koordinasi standar mutu antara lembaga di Iran dan negara-negara anggota, serta penguatan kapasitas bea cukai di perbatasan—seperti Incheboron, Sarakhs, dan Norduz—dianggap sebagai tantangan krusial yang perlu ditangani segera.

Wakil Ketua Komisi Pengembangan Ekspor Kamar Dagang Iran, Sadruddin Niavarani mengungkapkan adanya ketimpangan dalam sistem logistik.

“Kontainer domestik hanya diizinkan membawa 22 ton, sementara kontainer Rusia dapat memuat hingga 70 ton. Ketidaksesuaian ini menyebabkan pemborosan kapasitas angkut dan meningkatkan biaya logistik,” ujarnya.

Ia mendesak Kementerian Perhubungan Iran untuk memberikan kelonggaran teknis bagi eksportir domestik.

Di sisi lain, keterbatasan akses Iran ke sistem keuangan internasional akibat sanksi juga mempersulit transaksi perbankan. Oleh karena itu, otoritas terkait perlu membentuk saluran keuangan alternatif dan melatih eksportir dalam memenuhi standar pasar Eurasia.

Risiko: Ekspor Barang Mentah

Salah satu tantangan struktural utama yang dihadapi Iran adalah dominasi ekspor barang mentah atau setengah jadi. Menurut Ketua Konfederasi Ekspor Iran, Mohammad Lahoti, kondisi ini berisiko menempatkan Iran hanya sebagai penyuplai bahan baku murah, sementara negara mitra mendapat manfaat dari produk bernilai tambah tinggi.

Lahoti mendorong pembuat kebijakan untuk memperkuat sektor produksi dalam negeri dan mendorong eksportir menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi, baik dari sisi kualitas maupun daya saing harga.

Pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas antara Iran dan Uni Ekonomi Eurasia pada 15 Mei 1404 merupakan tonggak penting dalam kebijakan luar negeri ekonomi Iran. Dengan perencanaan strategis dan penguatan infrastruktur, kesepakatan ini berpotensi meningkatkan ekspor non-migas secara signifikan serta memperkuat posisi Iran dalam lanskap ekonomi Eurasia.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *