Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Ketika Jurnalis Senior BBC Persia Harus Mengajari Kelompok Anti-Revolusi Soal Cara Memahami Trump

Antara Kurang Kerjaan atau Sok Kuasa, Kali ini Trump Pertimbangkan Ubah Nama Teluk Persia

POROS PERLAWANAN — Para pendukung anti-Revolusi tampaknya tak menyia-nyiakan setiap celah untuk mempromosikan keluarga Pahlavi, bahkan dengan menunggangi kebodohan seorang presiden Amerika.

Ketika dua media AS melaporkan bahwa Presiden Donald Trump mempertimbangkan untuk mengganti nama Teluk Persia dalam kunjungannya ke Timur Tengah, yang secara tersirat dikaitkan dengan keuntungan finansial dari negara-negara Arab Teluk, kelompok anti-Revolusi, khususnya para monarkis, segera memanfaatkannya sebagai amunisi untuk menyerang Republik Islam Iran.

Mereka menyebarkan pandangan dangkal bahwa jika Iran benar-benar kuat, maka Trump tak akan berani mengusulkan hal seperti itu. Pernyataan ini terdengar masuk akal hanya bagi mereka yang mengabaikan fakta siapa Trump sebenarnya; seorang oportunis yang menjual kehormatan diplomatik demi segepok Dolar. Mereka lupa bahwa pria ini pernah menyebut Kanada sebagai “salah satu Negara Bagian AS”, ingin mengganti nama Teluk Meksiko, bahkan sempat berniat memaksa beli Greenland dari Denmark.

Tak heran jika jurnalis senior BBC Persia, Siavash Ardalan pada Selasa 13 Mei, menyindir keras narasi para pendukung anti-Revolusi Islam itu lewat platform X: “Dia menyebut Kanada sebagai ‘satu Negara Bagian’, mengganti nama Teluk Meksiko, ingin merebut Greenland dari Denmark, tapi mereka bilang ‘jika Iran begini dan begitu, dia tidak akan berani menghina seperti ini.’ Pemahaman tentang Trump: nol”.

Sayangnya, mereka yang kini berkoar seolah pembela Teluk Persia justru sebelumnya bungkam total ketika istilah palsu “Teluk Arab” digunakan secara resmi oleh akun-akun Rezim Zionis Israel. Para monarkis yang mendukung normalisasi dengan Zionis, bahkan di tengah perang Gaza dan genosida brutal oleh rezim apartheid itu, tak pernah menunjukkan sedikit pun kepedulian terhadap distorsi sejarah dan geografis semacam ini.

Kini, demi mendulang simpati rakyat Iran, mereka tiba-tiba memainkan kartu patriotisme, seolah-olah merekalah penjaga warisan bangsa. Ironisnya, mereka adalah kelompok yang sama yang dulu menyambut hangat naiknya Trump ke Gedung Putih dan terang-terangan memintanya untuk membombardir Iran.

Reza Pahlavi sendiri tak segan-segan mendukung serangan Militer Israel terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan, sambil mengeklaim dirinya sebagai “pemimpin masa transisi”. Narasi kosong yang mudah hancur hanya dengan melihat peta: antara Republik Islam Iran dan Wilayah-wilayah Pendudukan, jelas siapa yang memiliki daya tahan strategis, kekuatan regional, dan legitimasi rakyat. Gagasan bahwa Israel, dengan segala keterbatasannya dapat menggulingkan Republik Islam hanyalah khayalan kekanak-kanakan yang entah mengapa dianggap serius oleh para monarkis.

Pemahaman para pendukung anti-Revolusi tentang Iran, sama seperti pemahaman mereka tentang Trump adalah nihil. Mereka yang dulu menjilat kaki Trump dan Zionis kini pura-pura membela kehormatan geografis bangsa. Inilah patriotisme palsu yang beroperasi dengan standar ganda; mencintai Iran ketika bisa digunakan sebagai alat politik, tapi membencinya saat tidak menguntungkan proyek mereka.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *