Menlu Yaman: Ambisi Uni Emirat Arab di Yaman, Lebih Berbahaya Dibanding Arab Saudi
POROS PERLAWANAN – Menteri Luar Negeri Yaman di Sanaa kembali mengkritik sikap Riyadh yang menghindari komitmennya untuk mengakhiri agresi dan pengepungan terhadap Yaman. Ia menegaskan bahwa rakyat Yaman menyadari permusuhan historis pemerintah Saudi terhadap mereka.
Menurut laporan Sabanews, Rabu (26/3), Menteri Luar Negeri Yaman, Jamal Amer, mengatakan di Sanaa, “Bangsa Yaman sepenuhnya menyadari permusuhan historis pemerintah Saudi terhadap mereka.”
Ia menjelaskan, Dinasti Saud memandang Yaman sebagai ancaman terbesar bagi rezim mereka, sehingga kerap mencampuri urusan dalam negeri Yaman berdasarkan perspektif ini.
Amer juga menambahkan, pemerintah Saudi ingin melihat rakyat Yaman dalam keadaan lemah, tidak bersenjata, dan bergantung pada Riyadh.
Konflik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman
Dalam pernyataannya, Amer juga menyoroti keserakahan Uni Emirat Arab (UEA) terhadap Yaman, yang menurutnya lebih berbahaya dibandingkan ambisi Arab Saudi.
“Saya yakin keserakahan UEA terhadap Yaman jauh lebih jahat dan mengancam dibandingkan Saudi. Ini menjadi ancaman serius bagi kemerdekaan dan integritas teritorial Yaman,” ujar Amer.
Menurutnya, saat ini terdapat konflik antara UEA dan Arab Saudi terkait pembagian kendali atas provinsi selatan Yaman yang masih diduduki. Ditegaskannya, UEA sedang berupaya menguasai Laut Merah dan Hodeidah serta terus memperluas pengaruhnya ke wilayah tengah Yaman.
Amer juga mengungkapkan, UEA telah mengambil alih Pulau Socotra dan kini berusaha mengendalikan Al Mahrah, yang menjadi sumber perselisihan dengan Arab Saudi.
Tuntutan Yaman dan Peran Amerika Serikat
Lebih lanjut, Amer menyatakan, ketika Yaman menuntut Arab Saudi untuk memberikan kompensasi atas kerusakan yang terjadi akibat agresi, Riyadh justru menghindari tanggung jawab tersebut.
“Mereka berusaha menghindari konsekuensi dari agresi dan pengepungan yang telah mereka lakukan terhadap Yaman,” katanya.
Selain itu, Amer menuding bahwa Amerika Serikat turut berperan dalam memperpanjang konflik ini dengan menekan Arab Saudi agar tidak menandatangani perjanjian penghentian agresi terhadap Yaman, terutama karena dukungan Riyadh terhadap Gaza.
Dengan konflik yang terus berlangsung dan campur tangan pihak asing, situasi di Yaman masih jauh dari resolusi damai.
